INVENTIF – Penelitian Trend Micro menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber memanfaatkan ledakan penggunaan AI di enterprise, salah satunya adalah penggunaan deepfake. Penggunaan AI untuk kejahatan ini tergolong mudah diakses dan biaya yang dibutuhkan lebih murah dibanding sebelumnya. Alhasil penjahat dengan berbagai tingkat keahlian dapat dengan mudah melancarkan serangan dalam skala besar untuk mengecoh korban, dengan tujuan pemerasan, pencurian identitas, fraud, atau misinformasi.
“Penelitian terbaru kami mengungkapkan beberapa tools deepfake terbaru yang memudahkan pelaku kejahatan siber, apapun level kemampuannya, untuk melancarkan scam yang merugikan, rekayasa sosial, dan upaya menerobos keamanan,” kata Kevin Simzer, COO Trend Micro, dalam keterangannya.
“Demi pelanggan kami, baik enterprise maupun konsumen, kami memimpin industri untuk melawan balik dengan kemampuan baru mendeteksi deepfake dan berbagai bentuk fraud berbasis AI lainnya. Seperti pergeseran ancaman dan lanskap IT di masa lalu, kami telah melihat tantangan dalam mengamankan AI dan berhasil menghadapinya,” tambahnya.
Ia pun menyebut mendeteksi dan menaklukkan metode berbasis AI ini menjadi sangat penting agar kita bisa mengelola risiko permukaan serangan yang ada di enterprise dengan lebih baik, serta menurunkan risiko online secara keseluruhan bagi konsumen.