Nekat Talak Tiga, Modar Lo!

0

 

INVENTIF –  Sejatinya memang ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) di antara ulama mengenai masalah talak tiga yang diucapkan sekaligus.  Garis besarnya, tentang masalah ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam. Terserah anda mau meyakini dan menjalani yang mana. KUA pasti mau menguraikannya biar pasti.

Kalau kita lihat film ini, “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih nampaknya, penulis skenario  meyakini pada golongan pertama, pendapat yang menghukumi talak tiga yang diucapkan sekaligus adalah jatuh talak tiga. Dan ini adalah  pendapat Empat Imam Mazhab.  Rujukannya,  QS. Al Baqarah ayat 230.

Namun, diingat, pengucapkan talak tiga oleh suami harus dinyatakan dalam kondisi sadar, tidak gila, mabuk ataupun kesurupan. Sebagian ulama malah bilang, Talak Tiga, haram hukumnya. Tuh, berat kan.

Konon, cinta kadang hadir seperti sebuah teka-teki. Diteruskan, ia bisa melukai. Disudahi, ia meninggalkan perih yang tak kalah menyayat. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah film baru karya sineas tanah air, berjudul Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih, yang akan hadir di layar lebar mulai 25 September 2025.

Film garapan SOEX Entertainment bersama Drias Film ini disutradarai Benni Setiawan, dengan ide cerita sekaligus naskah ditulis tangan oleh maestro Garin Nugroho. Kolaborasi dua nama itu harusnya menjanjikan sebuah tontonan yang tak hanya memancing tawa lewat humor khas Sunda, tapi juga mengajak penonton merenung: sejauh mana cinta mampu bertahan menghadapi badai emosi dan tak mudah mencetus,” Aing Talak Tiga maneh!”

Ini Gimana, Kok Talak Tiga di Usia Pernikahan Seumur Jagung

Kisahnya mengalir lewat tokoh Darian (Kevin Ardilova) dan Alfa (Mikha Tambayong), sepasang pengantin baru yang awalnya dipertemukan dalam forum anak-anak muda patah hati. Namun kebahagiaan yang mereka rajut tak bertahan lama. Dalam satu ledakan emosi, Darian menjatuhkan  talak tiga kepada Alfa. Nah, lho!

Keputusan itu mengoyak, bukan hanya hati Alfa, tapi juga penyesalan Darian sendiri. Ia ingin kembali, namun syariat menuntut jalan berliku: Alfa harus menikah dengan pria lain lebih dulu. Dari sanalah kisah berputar, menghadirkan sosok Zainun (Ibrahim Risyad) dan Intan (Tissa Biani), yang justru membuka pintu romansa baru.

Humor, air mata, dan dilema bercampur dalam cerita ini—seperti hidup yang tak pernah sederhana.

Diproduseri oleh Bambang Drias, film ini juga menghadirkan nama besar Jenderal (Purn.) Dr. Moeldoko bersama Putri Kosasih sebagai produser eksekutif. Bingung juga, nih. Jenderal ikutan bikin film. Kalau mengikuti kiprah Sang Jenderal, film ini harusnya sepurna dalam segala hal.

Kemabli ke film. Tak hanya Kevin dan Mikha, jajaran pemainnya diperkuat oleh Ibrahim Risyad, Tissa Biani, Cut Mini, hingga  biduan, Dewi Gita.

“Film ini lahir dari tangan dua maestro—Mas Garin dan Kang Benni—yang meramu kisah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semoga menjadi ruang refleksi tentang cinta dan komitmen,” ungkap Moeldoko.

Sementara Putri Kosasih menambahkan, film ini tak sekadar romantis dan lucu, tapi juga menyisipkan pesan: pernikahan membutuhkan kesiapan hati, bukan hanya janji.

Cerita ini makin hidup dengan kehadiran musik. Inocent menyanyikan lagu utama berjudul sama dengan film, diciptakan Bina Fitra dan diaransemen oleh Ricky Lionardi. Sementara itu, Farel Aurelio berduet dengan Foke Fritzky mengisi soundtrack lain, menjadikan film ini bukan hanya tontonan, tapi juga lantunan perasaan. Benarkah?

Film ini tayang mulai 25 September 2025, “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih” resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Katanya, film ini bukan sekadar romansa, melainkan cermin: bahwa cinta bisa menjadi rumah yang hangat, atau medan luka yang getir. Dan pada akhirnya, setiap pasangan harus menjawab pertanyaan sederhana namun berat: mau diteruskan, atau disudahi?

Tapi ingat ya,  para ulama- dalam pelbagai rujukan – mengatakan, bahwa talak tiga dalam satu kali lafadz adalah perbuatan yang haram dan dimurkai Allah.

Tuh, jangan sembarang menjatuhkan talak  tiga ya bro. Haram atau setidaknya, bakal menghadirkan benang kusut bin ruwet.

Tapi film ini asyik aja dinikmati. Sedikit, celah ketidak nyamanan, muncul pada adegan di stasiun kereta yang umum banget. Kurang sentuhan kreativitas. Mungkin dah pada kecapean kali ya. Jadi ya begitu, deh. Gak gregeeet gitu lho.

Dan seandainya status sosial Adrian dan Zainun dibalik, pasti akan lebih menyentuh pada hakekat kemurnian cinta. Jadi pilihan itu memang murni pada rasa cinta yang ada, dan bukan  pada aksesories strata sosial.  Sebab penonton akan mudah bilang, ” Ya iyalah Alfa pilih Zainun yang lebih cihuy dalam segala hal ketimbang Adrian yang serba amburadul. Iya, kan? Dan, Mikha Tambayong, mainnya syik banget.

Oh, iya. Dalam film ini kok gak ada adegan Zainun memain kan alat  musik ya?  Kan sekolah musik di Eropa?  Masa siih…!(ISS)


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.