Esok Tanpa Ibu: Ketika Teknologi Mencari Ibu, dan Logika Tersesat di Perkebunan Teh

0

INVENTIF – “Mata boleh menangis, hati boleh bersedih, namun tidak boleh mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akankah hadits  itu dimafhumi Rama, remaja berusia 16 tahun selepas ditinggal ibu yang sangat dicintai? Tentu saja tidak mudah dan bukan perkara gampang. Lalu AI (Artificial Intellegence) pun jadi sandaran.

Film Esok Tanpa Ibu hadir seperti secangkir teh hangat di tengah pagi berkabut: menenangkan, mengundang renungan, namun sesekali meninggalkan rasa getir di lidah.

Diproduksi oleh BASE Entertainment bersama Beacon Film, proyek yang dikembangkan sejak 2020 ini memikul ambisi besar—menyatukan drama keluarga, fiksi ilmiah, dan kegelisahan zaman—dalam satu napas sinema lintas negara.

Kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia terasa sebagai perayaan globalisasi yang sopan. Nama Shanty Harmayn sebagai produser, Ho Wi-ding sebagai sutradara, serta keterlibatan Refinery Media dari Singapura memberi kesan bahwa film ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan wacana universal tentang kehilangan, teknologi, dan relasi manusia yang makin digital, makin rapuh.

Ho Wi-ding, sineas Taiwan kelahiran Malaysia, memilih bahasa emosi ketimbang tata bahasa dialog. Sebuah pilihan artistik yang patut dihargai—karena air mata memang tak butuh subtitle. Para aktor diberi ruang untuk “merasa”, bukan sekadar menghafal. Ringgo Agus Rahman sebagai Bapak tampil jujur dan membumi; Dian Sastrowardoyo sebagai Laras hadir tenang sekaligus getir, seolah menjadi poros moral yang diam-diam memikul beban film ini.

Memang pujian layak diberikan kepada Ali Fikri yang memerankan Rama. Ia tampil ciamik, meyakinkan sebagai remaja yang tersesat antara duka, kecerdasan buatan, dan pencarian figur ibu. Rama adalah wajah generasi hari ini: cerdas, kesepian, dan terlalu cepat percaya pada mesin yang tak pernah berduka.

Namun, di balik kekuatan ide dan keberanian tema, film ini sesekali tergelincir—bukan oleh emosi, melainkan oleh logika yang kelelahan mengejar naskah.

Relasi ayah dan anak yang seharusnya menjadi medan tempur emosional justru terasa terlalu sopan. Ketidakharmonisan yang diceritakan seakan hanya berani berbisik, padahal semestinya berteriak. Konflik Rama dan Bapak membutuhkan lebih banyak dentuman batin: perdebatan yang benar-benar menyakitkan, keributan yang meninggalkan luka, bukan sekadar dialog yang rapi dan terkontrol.

Begitu pula perjalanan kesadaran Rama tentang kekeliruannya menjadikan AI sebagai metamorfosis sang Ibu. Penyadaran sebesar itu—yang menyentuh etika, psikologi, dan kemanusiaan—terasa disederhanakan menjadi satu sesi konsultasi psikolog. Padahal, pergulatan batin semacam itu layak digarap sebagai perjalanan panjang, penuh penyangkalan, amarah, dan kehancuran kecil sebelum akhirnya tiba pada penerimaan.

Ironi makin terasa saat film memasuki babak akhir yang sarat pesan ekologi. Adegan yang seharusnya menjadi masterpiece justru tampak seperti kartu pos digital. Panorama bunga warna-warni dari puncak bukit terlihat lebih sebagai tempelan CGI ketimbang lanskap jiwa.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: benarkah dari puncak bukit perkebunan teh, hamparan bunga warna-warni itu bisa tampak seajaib wallpaper gawai?

Keanehan berlanjut ketika Rama—yang tinggal di sekitar perkebunan—cukup mengayuh sepeda untuk bertemu temannya yang jenius, nyaris seperti hacker metropolitan, di balkon berlatar gedung pencakar langit. Jika bukan keajaiban sinema, mungkin Rama memang Gundala yang memilih pensil ketimbang petir.

Sekolah Rama pun memancing tanda tanya. Sekolah di luar kota, dekat perkebunan, namun fasilitasnya futuristik, pembelajaran full gadget, rapi dan steril seperti katalog pendidikan masa depan. Sebuah utopia pendidikan yang terlalu indah untuk dibiarkan tanpa penjelasan.

Belum lagi kehadiran iklan tersembunyi suplemen Mbose yang terasa dipaksakan—hadir bukan sebagai bagian cerita, melainkan sebagai tamu tak diundang yang mengganggu keheningan emosional film. Ia muncul bukan sebagai simbol, melainkan sebagai pengingat bahwa kapitalisme selalu menemukan celah, bahkan di tengah duka anak kehilangan ibu.

Detail kecil pun luput dijelaskan, seperti panggilan “Cimot”. Sebuah sapaan yang terdengar intim, namun kehilangan latar. Padahal, panggilan sayang hampir selalu punya sejarah—dan sejarah adalah napas utama film ini.

Esok Tanpa Ibu tetaplah film yang penting dan relevan. Ia asyik dinikmati sebagai hiburan, informatif sebagai refleksi sosial, dan edukatif dalam membaca relasi manusia dengan teknologi. Namun, seperti AI yang ia ceritakan, film ini masih terlalu patuh, terlalu aman, dan belum sepenuhnya berani melukai penontonnya.

Mungkin, jika naskah Gina S. Noer dan visi penyutradaraan Ho Wi-ding sedikit lebih keras, sedikit lebih kejam pada emosi dan logika, Esok Tanpa Ibu tak hanya menjadi film yang baik—melainkan karya yang benar-benar membekas, seperti kehilangan itu sendiri: tak rapi, tak logis, dan menyakitkan. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.