June 22, 2024

INVENTIF – Pemerintah berupaya untuk menekan impor susu Indonesia yang mencapai 80 persen dari total kebutuhan nasional yang berkisar 4,4 juta per tahun. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan salah satunya, dengan meningkatkan produksi susu dari sisi hulu melalui kemitraan antara peternak susu dengan koperasi dan industri besar.

“Kebutuhan susu di Indonesia terus meningkat tetapi belum dapat diimbangi dengan produksi dalam negeri. Terlebih, baru-baru ini ada wabah Penyakit, Mulut, Kuku (PMK) yang bisa mengganggu dari sisi hulu, 80 persen kebutuhan susu nasional masih impor padahal susu dibutuhkan anak-anak sejak dini,” ujar Erick di sela kunjungan kerja di Belanda.

Erick menyambut penandatangan kerja sama antara Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) bersama dengan holding BUMN pangan (ID Food) dengan HVA International BV dan Frisian Flag Indonesia, salah satu perusahaan turunan dari FrieslandCampina, di Kota Wageningen, Belanda.

Melalui kerja sama itu, BUMN berusaha menciptakan ekosistem produksi susu segar berkualitas di dalam negeri.

Dalam hal ini, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui anak usahanya yaitu PTPN VIII melakukan optimalisasi aset dengan menyediakan lahan ternak bagi sapi penghasil susu lewat.

Kemudian, ID Food bersama anak usahanya akan memasok pakan ternak ke peternakan sapi perah yang didirikan sebagai pelaksanaan kerja sama. Lalu, HVA akan menjadi penghimpun investasi sekaligus operator dalam pengembangan peternakan sapi perah ini.

Selanjutnya, Frisian Flag Indonesia akan menjadi penampung hasil produksi (off-taker). Pada tahap awal, akan ada 4.000 ekor sapi perah yang dikembangkan di lahan milik PTPN Group yang berlokasi di wilayah Jawa Barat.

Kerja ini juga relevan mengingat Indonesia saat ini masih menghadapi ancaman kekurangan gizi yang berdampak pada terganggunya pertumbuhan anak (stunting).

Berdasarkan data WHO, Indonesia termasuk dalam negara ketiga dengan angka kasus stunting (kerdil) balita tertinggi di Asia Tenggara sebesar 36,4 persen. Salah satu penyebab masih tingginya angka stunting itu adalah faktor rendahnya konsumsi susu di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 jumlah rata-rata konsumsi susu di Indonesia adalah 16,27 kg per kapita per tahun. Sebagai pembanding, konsumsi susu di Malaysia 26,20 kg per kapita per tahun, Myanmar 26,7 kg per kapita per tahun, dan Thailand 22,2 kg per kapita per tahun.

“Kalau anak-anak yang merupakan masa depan Indonesia tidak mendapat susu yang dibutuhkan. Akhirnya pertumbuhan menyeluruh sebagai manusia seluruhnya tertinggal apakah stunting, kekurangan vitamin D, dan macam-macam,” tutup Erick.

Penulis : Vinolla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *