Rakernas PJMI 2025 dan Ikhtiar Jurnalis Muslim di Era Kecerdasan Buatan
INVENTIF — Di bawah kubah langit Ibukota yang mulai merekah pagi itu, Aula Alap-alap di Balaikota DKI Jakarta disulap menjadi samudra pemikiran. Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025 bertajuk ‘Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital dan Artificial Intelligent‘, sebuah tajuk yang tak sekadar tema, melainkan panggilan zaman yang harus dijawab dengan kebijaksanaan.
Rakernas ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang tafakur dan strategi, tempat para pemegang pena yang di ujungnya menuliskan kebenaran berkumpul. Tokoh media, akademisi, pemerintah, dan lintas organisasi hadir, menyatukan langkah untuk satu tujuan: menjaga marwah jurnalisme Muslim di tengah gelombang disrupsi digital dan kecerdasan buatan yang kian menggulung.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan Ahmad Yasin membuka acara dengan syahdu, menyiramkan ketenangan sebelum gema lagu kebangsaan Indonesia Raya menggugah semangat nasionalisme yang tetap membara. Doa pun dipanjatkan Ustadz H. Ahmad Yani, sebagai pengingat bahwa langkah manusia, sebijak apa pun, tetap butuh bimbingan langit.
Ketua Umum PJMI, H. Ismail Lutan tampil memberikan arah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Rakernas ini bukan hanya rutinitas organisasi, melainkan manifestasi kegelisahan dan harapan.
“Jurnalis Muslim harus mampu beradaptasi dan menjawab tantangan zaman. Di tengah disrupsi digital dan dominasi teknologi, nilai-nilai Islam, etika jurnalistik, serta profesionalisme harus tetap menjadi pegangan,” ujar Ismail, tegas namun teduh.
Pemerintah pun hadir lewat perwakilan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung yang diwakili Komarudin dari Bidang Komunikasi Publik. Mereka menegaskan pentingnya kolaborasi antara negara dan insan pers dalam menjaga nalar publik dari serbuan hoaks dan polarisasi.

Hadir pula tokoh nasional seperti Prof. Dailami Firdaus selaku Ketua Dewan Pembina PJMI, dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, yang menegaskan peran jurnalis sebagai penjaga nurani bangsa. Dari luar negeri, Emily Magaziner dari Kedutaan Besar Amerika Serikat menambahkan warna internasional dalam diskusi diplomasi publik dan peran media dalam memperkuat demokrasi lintas batas.
Diskusi panel berlangsung hidup, menghadirkan pemikiran tajam dari para akademisi seperti Dr. Ika Karlina (Monash University) dan Dr. H.M. Luthfie (Universitas Djuanda), dengan H. Mohammad Anthoni sebagai moderator yang lihai menenun benang ide menjadi wacana yang kaya dan aplikatif.
Ketua Umum MIO INDONESIA, AYS Prayogie, turut mengapresiasi semangat PJMI. Ia menyebut Rakernas ini sebagai “momentum strategis untuk menguatkan posisi jurnalis Muslim di tengah gempuran disinformasi digital.” Bagi Prayogie, sinergi antarorganisasi media menjadi benteng penting dalam menjaga nilai-nilai luhur jurnalistik yang mulai terkikis algoritma.
Kegiatan ditutup dengan sesi konsolidasi dan pembacaan hasil komisi. Sebuah penanda bahwa ikhtiar tak berhenti pada wacana, tetapi berlanjut pada rumusan strategi.
Ketua Panitia, Aliyudin Sofyan, dalam pernyataan penutupnya menaruh harap besar bahwa Rakernas ini dapat melahirkan peta jalan bagi peran PJMI ke depan. “Kami ingin PJMI tak hanya menjadi rumah bagi jurnalis Muslim, tapi juga menjadi pelita bagi publik dalam menavigasi zaman yang kian kompleks,” ucapnya.
Dalam era yang terus bergerak cepat, Rakernas PJMI 2025 menjadi titik jeda yang bermakna—sebuah ruang tafakur sekaligus laboratorium ide, tempat suara jurnalis Muslim bergema bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk didengar dengan hati.(BB)