Emosi Ibunda Kimberly Ryder Meledak Usai Rampungnya Perjanjian Gono Gini

0

INVENTIF — Dalam sejuknya ruang pertemuan itu, rampung sudah kesepakatan yang mengikat dan memisahkan: perjanjian pembagian harta gono-gini antara aktris Kimberly Ryder dan sang mantan suami, Edward Akbar.

Namun, yang tak tercatat dalam pasal-pasal itu adalah gelombang emosi yang selama ini tertahan hingga akhirnya tumpah dalam satu momen yang mengguncang, bukan meja persidangan, melainkan hati yang belum benar-benar pulih.

Di bawah langit terik Kalibata, dihadapan kamera dan mikrofon yang tak pernah lelah mengintai, Irvina Zainal, ibunda Kimberly meluapkan amarah yang telah lama mengendap. Bukan sekadar ledakan emosi, tetapi jeritan batin seorang ibu yang anaknya pernah disakiti  cinta yang dulu disumpahi suci.

“Baru kali ini mama aku punya kesempatan ketemu sama mantan suami aku, dan dia memang setahun ini belum punya kesempatan sama sekali untuk ngeluarin emosinya langsung sama orangnya,” ungkap Kimberly dengan mata yang menyimpan lelah dan luka. Di antara kalimatnya tersimpan kisah panjang yang tak semua bisa diceritakan.

Namun sayangnya, saat kebenaran hendak diucapkan dan hati ingin dimengerti, Edward memilih pergi.

“Sayangnya tadi dia tidak duduk and take it like a man. Dia malah kabur duluan,” ucap Kimberly, nada suaranya datar namun tajam, seperti seseorang yang sudah lama tidak berharap tapi masih menyayangkan.

Sebagai seorang ibu dari dua anak hasil pernikahannya dengan Edward, Kimberly menyayangkan sikap sang mantan yang tak lagi menunjukkan kebesaran jiwa.

“Seharusnya dia bisa duduk dan diam mendengarkan keluhan ibu saya,” katanya, tegas namun penuh empati. Baginya, keberanian bukan soal membalas, melainkan tentang mendengar dan menanggung yang pernah ia sebabkan.

Ia pun memahami amarah ibunya yang meledak seperti air bah setelah lama dibendung.

“Karena ibu yang mana yang tidak sakit hati anaknya diperlakukan seperti itu selama pernikahannya,” ujar Kimberly lirih, seolah mewakili suara para ibu yang pernah merasa tak berdaya melihat anak perempuannya terluka.

Insiden itu memang terjadi di depan kamera dan tak bisa lagi disembunyikan dari khalayak. Namun, Kimberly memilih melihatnya sebagai pintu pembelajaran, bukan sebagai noda baru.

“Anyway moving forward jadinya. Dia memang akhirnya meluapkan emosinya yang belum selesai, depan kamera sayangnya,” pungkasnya.

Dalam dunia selebritas yang penuh gemerlap, tak semua luka bisa disamarkan oleh sorot lampu. Dan hari itu, di Kalibata, kita diingatkan: bahwa di balik panggung popularitas, ada panggung hati yang kadang tak sanggup lagi berpura-pura tegar. (BB)

Leave A Reply

Your email address will not be published.