Film SADALI, Ketika Cinta Tak Lagi Bergegas dan Waktu Ikut Bicara

0

 

 

INVENTIF — Di tengah banjir film romantis yang kerap memperlakukan cinta seperti lomba lari jarak pendek, SADALI hadir dengan satu pernyataan berani: tidak semua perasaan harus diselesaikan dengan tergesa-gesa.

Film yang disebut-sebut sebagai salah satu tontonan paling dinantikan di tahun 2026 ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 Februari 2026, membawa romansa ke wilayah yang lebih tenang, dewasa, dan—mungkin—lebih jujur.

Menyambut penayangannya, MVP Pictures menggelar Press Junket Film SADALI dalam format exclusive interview bersama para pemeran utama. Alih-alih konferensi pers serba cepat, acara ini justru dirancang sebagai ruang dialog yang intim dan mendalam. Sebuah pilihan format yang terasa selaras dengan isi filmnya: relasi tidak bisa dibahas sambil lalu, apalagi cinta yang sudah melewati banyak musim.

Dengan sistem pembagian media dalam kelompok kecil, setiap sesi wawancara memungkinkan eksplorasi cerita dan karakter secara lebih komprehensif. Pendekatan ini seolah menjadi metafora dari film SADALI sendiri—bahwa memahami hubungan, seperti memahami manusia, membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemauan untuk mendengarkan.

Sebagai kelanjutan spiritual dari Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu, SADALI bergerak ke fase yang lebih matang. Film ini tidak lagi sibuk bertanya “siapa yang dipilih”, melainkan “apakah kita siap dengan konsekuensi dari pilihan itu”. Cinta dalam SADALI bukan sekadar emosi, melainkan keputusan yang harus dinegosiasikan dengan usia, pengalaman, dan luka yang tak selalu sembuh sempurna.

Adinia Wirasti, yang memerankan karakter Mera, menyebut film ini sebagai refleksi cinta dari sudut pandang kedewasaan.
“Melalui Mera, SADALI berbicara tentang cinta dari posisi seseorang yang telah melewati berbagai fase kehidupan. Bukan sekadar tentang memilih, tetapi tentang kesiapan, menerima konsekuensi, dan memahami waktu dalam sebuah hubungan,” ujar Adinia dalam wawancara di kantor MVP Pictures, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026).

Sementara itu, Hanggini yang memerankan Arnaza, melihat SADALI sebagai perjalanan memperjuangkan cinta tanpa terburu-buru—sebuah konsep yang terdengar sederhana, namun sering gagal dipraktikkan.

“Arnaza mengajarkan bahwa cinta tidak selalu tentang kecepatan, tetapi tentang kesabaran, kesetiaan, dan keyakinan. SADALI memberi banyak perspektif tentang bagaimana menghadapi cinta yang dewasa dengan pengertian dan kedewasaan emosi,” ungkapnya.

Dari sisi pertemanan, Faiz Vishal sebagai Budi menyoroti peran sahabat sebagai sistem pendukung yang kerap terlupakan dalam kisah romansa.

“Melalui Budi, SADALI menunjukkan bahwa hubungan pertemanan yang dewasa memang kompleks, namun saling mendukung adalah hal paling esensial. Di tengah intrik cinta dan pilihan hidup, kehadiran sahabat menjadi fondasi yang sangat penting,” kata Faiz.

Lewat rangkaian press junket eksklusif ini, SADALI menegaskan posisinya sebagai film yang tidak menjual cinta sebagai fantasi instan. Ia menawarkan kisah yang reflektif, emosional, dan relevan—tentang hubungan yang tidak selalu indah, tetapi nyata.

Menjelang bulan penuh kasih sayang, SADALI mengajak penonton untuk berhenti sejenak, menimbang ulang arti mencintai, dan mungkin bertanya pada diri sendiri: apakah kita mencintai karena siap, atau sekadar takut sendirian. Sebuah pertanyaan yang, seperti film ini, tidak membutuhkan jawaban cepat.(NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.