‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’, Tunjukan Cinta Selagi Masih Ada Kesempatan

0

INVENTIF – Hubungan ibu dan anak tak selalu mulus. Ada luka yang tak terucap, ada cinta yang sulit disampaikan.

Hal inilah yang ingin diurai film ‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’ (TKKM) produksi Langit Pictures Indonesia.

Film yang disutradarai sekaligus diproduseri Ferly Halim ini mengangkat drama keluarga dengan balutan coming of age dan musik.

Mengambil latar kota Semarang, film ini mengikuti perjalanan Dika, seorang remaja yang merasa dirinya tak pernah cukup di mata sang ibu, Dini.

Dini adalah ibu tunggal yang masih bergulat dengan trauma masa lalunya. Perbedaan cara pandang membuat komunikasi di antara mereka makin renggang.

Hingga akhirnya Dika menemukan jalannya sendiri lewat musik bersama teman-temannya. Dari situlah lahir sebuah lagu yang menjadi jembatan untuk mempertemukan kembali dua hati yang sempat berjarak.

Bagi Ferly Halim, cerita ini lahir dari realitas yang sering kita jumpai di rumah sendiri. Konflik orang tua dan anak, katanya, tidak selalu karena kasih sayang yang hilang.

“Menurut saya, hubungan ibu dan anak sering kali dipenuhi kesalahpahaman bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi karena cara berkomunikasi yang berbeda. Terkadang hal sederhana seperti intonasi atau cara penyampaian bisa membuat ibu merasa anaknya tidak patuh, sementara anak merasa ibunya tidak menyayangi dirinya,” ujar Ferly di sela presscreening film ini di Jakarta, Senin (13/7).

Lewat film ini, Ferly ingin mengingatkan pentingnya berani menunjukkan cinta selagi masih ada kesempatan. Musik pun ia jadikan sebagai bahasa kedua.

“Sebagai anak, kita sering kali menganggap kasih sayang kepada ibu sebagai sesuatu yang sudah dipahami tanpa perlu diungkapkan. Padahal, ibu juga perlu merasakan dan mendengar bentuk kasih sayang itu secara langsung. Melalui film ini, saya ingin mengajak semua orang untuk lebih berani menunjukkan cinta kepada ibu,” kata Ferly.

Daya tarik lain film ini ada pada para pemainnya. Didi Riyadi mengaku harus keluar dari zona nyaman karena dituntut tampil dengan logat Jawa yang kental.

“Mungkin ini pertama kali saya dengan logat dan aksen Jawa, medok gitu. Saya kan kalau bicara sehari-hari logat seperti yang kalian sekarang dengar. Nah, di sini orang Jawa, tapi agak campur,” ungkap Didi.

Sementara Ari Irham mendapat tantangan berbeda: menyanyikan lagu Sheila On 7. Bukan perkara mudah bagi aktor yang bukan vokalis profesional ini.

“Pressure-nya itu bukan bawain OST filmnya. Masalahnya ini bawain lagu Sheila On 7. Kita bawain lagu Sheila On 7 yang orang sudah tahu. Itu lumayan cukup beban buat saya karena saya juga bukan vokalis, saya juga bukan Duta,” ujarnya sambil tertawa.

‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’ menghadirkan lagu-lagu legendaris Sheila On 7 seperti ‘Dan’, ‘Kita’, dan ‘Hujan Turun’ yang dijamin mengaduk nostalgia penonton 90-an dan 2000-an.

Tak berhenti di situ, film ini juga melahirkan dua lagu orisinal yakni ‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’ dan ‘Sahabat’ yang dibawakan Keisha Alvaro bersama Sand Band. Kedua lagu ini menjadi penguat perjalanan emosional Dika dan Dini.

Di tengah banyaknya film drama keluarga, Langit Pictures mencoba menawarkan pendekatan berbeda: tidak berteriak, tapi menyentuh.

Lewat lagu, lewat diam, lewat cara seorang anak akhirnya berani bilang “aku sayang Ibu”.

Karena kadang, hal yang paling sulit diucapkan, justru paling perlu didengar.

Film yang dibintangi Ari Irham, Shanty, Ariyo Wahab, Agoye Mahendra, Emiliano Cortizo, Teuku Rizky, Annisa Kayla, Askara Halim, Sandy Andarusman, dan Didi Riyadi ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026. (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.