Di Antara Bara Perang dan Sunyi Negeri, Seruan Kemandirian yang Lahir dari Rakyat yang Lama Menunggu”

0

INVENTIF —Dunia sedang tidak baik-baik saja. Di kejauhan, dentuman konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar gema geopolitik yang jauh dari telinga—ia menjalar pelan, menyusup ke dapur-dapur rakyat, menggetarkan harga pangan, dan mengoyak ketenangan ekonomi yang rapuh.

Di tengah riuh global yang nyaris seperti perang tak berkesudahan, negeri ini berdiri—bukan tanpa luka, melainkan dengan pertanyaan lama yang belum juga terjawab: sampai kapan rakyat harus bertahan sendiri?

Dari kegelisahan itu, Dewan Ekonomi Rakyat (DER) mencoba menyalakan lilin kecil di tengah gelap. Sebuah gagasan lahir—tentang ekonomi yang tidak hanya bicara angka, tetapi juga rasa. Tentang sistem yang meramu kapitalisme, sosialisme, dan kearifan lokal, seolah ingin menciptakan harmoni dari tiga nada yang selama ini kerap sumbang.

Ketua Umum DER, A. Edi Wahyudi, menyebutnya sebagai jalan pulang—sebuah upaya agar bangsa ini tidak terus-menerus menggantungkan nasib pada tangan asing yang sewaktu-waktu bisa menarik ulurnya.

“Kita ingin berdiri dengan kaki sendiri,” katanya, sederhana—namun menggema seperti doa yang terlalu lama dipendam.
Namun, di balik gagasan yang terdengar agung itu, terselip ironi yang tak bisa diabaikan.

Negeri yang Kaya, Rakyat yang Menunggu
Di sudut-sudut desa, di gang sempit kota, pelaku usaha kecil—mereka yang disebut Usaha Kecil dan Menengah—masih seperti anak yang kehilangan arah. Didorong untuk mandiri, namun jarang benar-benar digandeng.

Program datang silih berganti, tetapi seringkali hanya seperti angin: terasa sejenak, lalu hilang tanpa jejak. Pemberdayaan masyarakat lebih sering menjadi wacana daripada kenyataan. Sementara rakyat kecil, dengan segala keterbatasannya, dipaksa menjadi benteng terakhir ekonomi negeri.

Di sinilah luka itu terasa—bahwa peran negara, yang seharusnya menjadi pelindung dan penggerak, kadang justru hadir setengah hati. Kebijakan tidak selalu menyentuh akar, bantuan tak selalu menjangkau yang paling membutuhkan.
Dan ketika dunia bergejolak, kelemahan itu menjadi nyata.

Perang Jauh, Dampak yang Dekat
Konflik di Timur Tengah bukan sekadar berita luar negeri. Ia menjelma menjadi kenaikan harga energi, terganggunya rantai pasok, dan ketidakpastian yang menghantui pasar global.

Minyak yang bergejolak membuat biaya produksi melonjak. Pangan yang tersendat membuat harga melambung. Dan lagi-lagi, rakyat kecil yang pertama merasakan dampaknya.Seolah-olah, perang itu terjadi di halaman rumah sendiri.

Maka, gagasan kemandirian pangan dan energi yang diusung DER menjadi lebih dari sekadar program—ia berubah menjadi kebutuhan mendesak. Sebuah upaya agar negeri ini tidak terus menjadi penonton dalam panggung besar dunia yang penuh intrik.

Antara Harapan dan Kenyataan
DER kini masih merangkak, menguatkan permodalan, menyusun langkah, berharap dapat bersinergi dengan pemerintah. Sebuah harapan yang indah—jika benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar pertemuan dan rencana di atas kertas.

Sebab kemandirian tidak lahir dari slogan.
Ia tumbuh dari keberanian untuk berubah.
Ia hidup dari keberpihakan yang nyata—pada petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang selama ini hanya diminta bertahan, tanpa cukup diberi alat untuk menang.

Ajakan untuk bersatu pun kembali digaungkan. Bahwa di tengah krisis, perpecahan adalah kemewahan yang tak bisa kita bayar. Bahwa gotong royong bukan sekadar warisan kata, tetapi harus menjadi tindakan yang terasa.

Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian ini, satu hal menjadi jelas:
Bahwa jika negara masih ragu melangkah,
rakyat tak punya pilihan selain berjalan lebih dulu.

Dengan atau tanpa cahaya, mereka akan tetap bergerak— msebab diam, bagi mereka, bukan lagi pilihan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.