INVENTIF – Nanovest, platform investasi lokal yang baru diluncurkan tak menyangkal jika ikut terimbas ‘crypto winter’ yang tengah menerpa dunia belakangan ini.
“Crypto winter is tough for everyone. Nggak cuma lokal, tapi global juga. Kemarin kita dengar banyak sekali perusahaan yang terdampak. Jadi, itu memang something yang memang sudah terjadi dan bagaimana cara kita menghadapinya, itu yang penting,” ujar Chief Operating Officer (CEO) Nanovest, Billy Suryajaya saat peluncuran Nanovest di Bali, baru-baru ini.
Dijelaskannya lagi, dalam menghadapi ‘crypto winter’ ini, pihaknya harus memutar otak dan punya keunikan tersendiri untuk menggaet pasar, dibandingkan platform lainnya.
“Tentu saja, no one is immune to crypto winter. Tapi dengan membuat unique-unique use case, kami bisa melewati winter ini dengan terstruktur. Ya, hopefully, kami percaya di industri ini ada winter, ada summer, ada bear, ada bull,” ujar Billy.
Lebih lanjut dijelaskannya, keunikan yang dipilih adalah menargetkan pengguna pemula berusia muda dengan menghadirkan fitur-fitur yang cocok dengan mereka.
“Makanya, kami datang dengan keunikan. Okelah kita target dan datang ke user-user beginner dengan fitur-fitur yang emang cocok buat mereka, generasi lebih muda, nilai investasi lebih kecil, awal dan itu kami rasa attraction-nya tetap ada,” kata Billy.
Selain itu, ia juga menuturkan bahwa kondisi winter ini merupakan hal yang wajar.
“Karena, bear dan bull itu merupakan keniscayaan,” jelasnya.
Nanovest pun mengklaim sebagai platform yang cocok digunakan bagi para investor pemula dan generasi muda. Salah satunya adalah kemudahan berinvestasi melalui platformnya yang menyediakan lebih dari 2.000 aset digital yang dapat diperoleh hanya bermodalkan Rp5 ribu.
Dari sudut pandang perusahaan, lanjut Billy, Indonesia sebenarnya memiliki potensi pasar aset digital yang sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) per Juni 2022, pengguna aset kripto di Indonesia baru berjumlah 15,1 juta.
“Jumlah pengguna aset kripto di Indonesia, menurut Bappebti, baru sekitar 15,1 juta. Artinya, belum sampai 6 persen dari jumlah populasi Indonesia yang melebihi 275 juta. Kita rasa, potensi pertumbuhannya sangat tinggi sekali,” lanjut Billy.
Hal ini juga selaras dengan laporan dari Financial Times yang menyebut Bali sebagai salah satu tempat di Indonesia yang menjadi tujuan utama bagi para penggemar kripto dunia. Maka, tidak mengherankan bila banyak pengguna kripto berbondong-bondong datang ke Bali, untuk mendapatkan pengalaman lebih terkait aset digital. Hal ini menjadikan alasan kuat peluncuran Nanovest dilakukan di Bali.
Selain itu, mereka juga mengklaim menawarkan layanan yang terpersonalisasi dan memberikan kebebasan kepada para penggunanya. Salah satunya melalui fitur NanoAvatar yang membuat pengguna dapat mengkreasikan avatar di aplikasi Nanovest sesuai dengan yang diinginkan oleh masing-masing pengguna. (NVR)