Ketika Informasi Menjadi Cahaya, Kemenag dan Jalan Panjang Keterbukaan

0

 

INVENTIF – Di sebuah aula di Jakarta, pada Senin yang berjalan pelan menuju akhir tahun, sebuah angka disebutkan dengan suara tenang: 94,62.

Angka itu bukan sekadar hitungan, melainkan penanda—bahwa informasi, yang dulu kerap berjalan berbisik, kini mulai berani melangkah ke ruang terang.

Kementerian Agama kembali menerima predikat Badan Publik Informatif dari Komisi Informasi Pusat. Untuk ketiga kalinya berturut-turut. Sebuah hattrick yang tak lahir dari sorak sorai, melainkan dari kerja sunyi mengelola kata, data, dan kepercayaan publik.

Penghargaan itu diterima Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar. Di balik seremoni, ada pesan yang ingin ditegaskan: bahwa keterbukaan bukan peristiwa sesaat, melainkan ikhtiar yang mesti dijaga dari hari ke hari.

“Informasi publik harus hadir dengan jujur, mudah dijangkau, dan tak berkelok,” ucapnya. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, namun berat jika tidak dipikul bersama.

Tahun ini, keterbukaan tak hanya singgah di kantor pusat. Ia bergerak, menjalar, dan mengetuk pintu-pintu kampus. Sebelas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri turut melangkah ke barisan Badan Publik Informatif—jumlah yang melonjak tajam, seperti fajar yang tiba lebih cepat dari dugaan.

Dari Bandung hingga Bengkalis, dari Yogyakarta hingga Makassar, informasi menemukan rumahnya. Tak lagi disimpan rapat dalam lemari arsip, melainkan dibentangkan agar dapat dibaca, ditanya, dan dipahami.

Pembinaan yang intensif—begitulah istilah birokrasi menyebutnya—nyatanya adalah proses belajar bersama. Dari 16 PTKIN yang diuji, sebagian besar berhasil menapaki jenjang keterbukaan. Sisanya masih berjalan, karena transparansi, seperti iman, tumbuh melalui proses.

Komisi Informasi Pusat menyebut ukuran itu Indeks Keterbukaan Informasi Publik. Ia mengukur kepatuhan pada undang-undang, mendengar suara masyarakat, dan mencatat bagaimana sengketa diselesaikan tanpa saling meninggikan suara. Tahun ini, semakin banyak badan publik yang bersedia dinilai—sebuah tanda bahwa keterbukaan mulai dianggap perlu, bukan sekadar kewajiban.

Di tengah pujian dan angka-angka, satu pesan tinggal menggema: predikat informatif bukan tujuan akhir. Ia hanyalah pengingat agar esok hari, ketika panggung telah sepi dan piagam tergantung di dinding, pintu informasi tetap terbuka.

Sebab pada akhirnya, kepercayaan publik tak lahir dari penghargaan, melainkan dari kesediaan untuk terus jujur—bahkan saat tak ada yang sedang menilai. (NMC)


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.