Setan Alas, Menertawakan Hantu, Menertawakan Diri Sendiri
INVENTIF – Di tengah hutan yang berkabut dan vila tua yang seolah sudah pensiun dari fungsi arsitekturalnya, Setan Alas! datang bukan sekadar membawa hantu, melainkan membawa cermin.
Dan seperti cermin yang terlalu jujur, ia memantulkan bukan hanya wajah ketakutan, tetapi juga wajah industri yang lama terjebak pada resep instan: pintu berderit, lampu berkedip, lalu jerit yang diatur volumenya.
Yusron Fuadi tampaknya tahu betul dosa-dosa masa lalu horor Indonesia. Ia tak lagi tertarik menakut-nakuti penonton dengan bunyi “bruk!” yang tiba-tiba. Ia justru membedah ketakutan itu sendiri—menguliti bagaimana rasa takut dibangun, dijual, dan dikonsumsi.
Di tangan Yusron, hantu bukan lagi sekadar makhluk gaib, melainkan konsep. Ia menjadi metafora atas prasangka, paranoia, dan mungkin juga—secara halus—atas industri yang terlalu nyaman bermain aman.
Pendekatan meta-horor yang ditawarkan Setan Alas! memang terasa segar. Film ini sadar bahwa ia adalah film. Ia tahu penonton hafal pakemnya. Lima mahasiswa, vila tua, akhir pekan yang berubah jadi malapetaka—kita sudah tahu arahnya. Namun justru dari kesadaran itulah film ini bermain: ia mengajak kita menebak, lalu menertawakan tebakan kita sendiri.
Secara gagasan, ini adalah lompatan berani. Di tengah pasar yang sering kali menganggap penonton hanya butuh teriakan dan soundtrack mencekam, Yusron memilih memberi ruang bagi humor gelap dan refleksi sosial. Ia seperti berkata, “Jika kau ingin hantu, baiklah. Tapi mari kita bicarakan dulu kenapa kau begitu menyukainya.”
Namun, keberanian konseptual tidak selalu berbanding lurus dengan eksekusi teknis.
Di sinilah Setan Alas! mulai kehilangan sebagian taringnya. Akting para pemain, yang seharusnya menjadi jembatan antara ide dan emosi, justru kerap terasa datar. Beberapa adegan yang mestinya mengandung ketegangan psikologis berubah menjadi percakapan biasa yang kurang berdenyut. Alih-alih menggali lapisan trauma, prasangka, atau kepanikan, sejumlah pemain tampak berjalan di permukaan naskah—sekadar mengucapkan dialog tanpa benar-benar menghidupkannya.
Dalam film yang bertumpu pada kesadaran dan permainan emosi, performa yang “seadanya” menjadi celah yang cukup terasa. Satire yang tajam membutuhkan presisi ekspresi. Meta-horor menuntut aktor yang mampu bermain di dua lapis sekaligus: sebagai karakter dan sebagai komentar atas karakter itu sendiri. Ketika lapisan itu tidak tergarap maksimal, gagasan brilian bisa tampak seperti draf yang belum sepenuhnya final—sebuah ironi yang diam-diam selaras dengan judul internasionalnya, The Draft!

Aspek penyuntingan pun menyisakan catatan. Beberapa transisi terasa kurang mulus, ritme tidak selalu terjaga. Ada momen ketika ketegangan seharusnya menanjak, namun justru terputus oleh penyambungan gambar yang kurang rapi. Dalam genre yang sangat bergantung pada tempo, editing adalah denyut nadi. Ketika denyut itu tersendat, atmosfer pun sedikit goyah.
Meski demikian, harus diakui: apa yang menjadi kredo Yusron dalam film ini adalah sesuatu yang selama ini dirindukan—bahkan disesalkan—oleh penikmat horor Indonesia. Keberanian untuk tidak sekadar mengikuti arus. Keinginan untuk mengolok-olok formula yang itu-itu saja. Upaya untuk menjadikan horor sebagai ruang intelektual, bukan hanya ruang kaget-kagetan.
Prestasi internasional yang diraih Setan Alas! bukanlah kebetulan. Dunia festival memang lebih ramah pada eksperimen dan keberanian bentuk. Di sana, horor yang berpikir sering kali lebih dihargai daripada horor yang berteriak. Namun ketika film ini masuk ke ruang bioskop komersial, ia akan berhadapan dengan ekspektasi yang berbeda—dan di situlah uji nyali sesungguhnya dimulai.
Dukungan dari Wakil Presiden dan institusi pendidikan menjadi simbol bahwa film ini dipandang sebagai model produksi kreatif yang patut diapresiasi. Tetapi apresiasi tidak boleh menghapus kritik. Justru karya yang berani perlu dikritik dengan lebih serius—agar eksperimen berikutnya tidak hanya tajam dalam ide, tetapi juga matang dalam eksekusi.
Pada akhirnya, Setan Alas! adalah film yang berani menertawakan hantu—dan secara tidak langsung, menertawakan kita yang terlalu lama puas dengan horor yang malas berpikir. Ia belum sempurna. Ia masih tersandung di beberapa sudut teknis. Namun di tengah industri yang kadang lebih takut rugi daripada takut gagal berinovasi, keberanian seperti ini layak dicatat.
Karena mungkin, hantu paling menakutkan dalam perfilman kita bukanlah makhluk gaib di hutan, melainkan ketakutan untuk berbeda. Dan dalam hal itu, Setan Alas! setidaknya sudah memilih untuk masuk ke hutan, alih-alih berdiam di vila yang sama, dengan cerita yang sama, untuk kesekian kalinya. (NMC)