Ketika Layar Menjadi Lentera, Indosiar Menyambut Ramadan 2026
INVENTIF — Ramadan selalu datang dengan cara yang sama, namun terasa berbeda setiap tahun.
Ia mengetuk pintu rumah lewat azan, lewat aroma sahur, dan—di banyak keluarga Indonesia—lewat cahaya televisi yang menyala di ruang tengah.
Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Indosiar kembali menata layar kacanya, menjadikannya lentera yang menemani ibadah, jeda, dan kebersamaan dari fajar hingga malam.
Dalam konferensi pers (23/01//2026) menjelang bulan puasa, manajemen Indosiar menyampaikan kesiapan itu dengan nada optimistis. Ramadan tinggal hitungan hari. Patut dimafhumi, sepanjang 2025 hingga awal 2026, Indosiar mencatatkan diri sebagai stasiun televisi dengan jumlah penonton terbanyak di Indonesia—sebuah angka yang bukan hanya statistik, melainkan kepercayaan jutaan rumah tangga.
“Ini adalah keberkahan sekaligus tanggung jawab,” ujar Harsiwi Achmad, Direktur Surya Citra Media (SCM). Menurutnya, pada bulan suci, hiburan tak lagi sekadar mengisi waktu, melainkan ikut membentuk suasana batin.
Sahur, Saat Kata-kata Menjaga Mata
Di waktu sahur, ketika malam belum sepenuhnya pergi dan subuh belum benar-benar tiba, AKSI (Akademi Sahur Indonesia) kembali hadir. Memasuki tahun ke-14, program dakwah non-drama ini telah menjelma menjadi kebiasaan kolektif—sebuah perbincangan yang menjaga mata tetap terbuka, dan hati tetap terhubung.
Ustaz Solmed, Mama Dedeh, Ust.Wijayanto, bersama Ramzi dan Gilang Dirga, tampil bukan sebagai pengajar yang berjarak, melainkan sahabat sahur. Dakwah disampaikan dengan tawa, dengan cerita, dengan bahasa yang membumi. Pesan-pesan agama mengalir ringan, tanpa kehilangan maknanya.
Tahun ini, AKSI diperkaya kehadiran para juara dan alumni Dangdut Academy 7. Suara-suara muda itu memberi warna lain—seolah mengingatkan bahwa dakwah tak selalu harus serius; ia bisa bernyanyi, bercanda, dan tetap menyentuh.
Hari yang Mengalir, Layar yang Menyimak
Ketika pagi bergerak perlahan, Indosiar menghadirkan FTV Kisah Nyata Ramadan. Cerita-cerita tentang kesabaran, penyesalan, dan harapan disuguhkan dengan kesederhanaan—seperti potret kecil dari kehidupan sehari-hari.
Menjelang senja, suasana layar menjadi lebih hening. Prof. Dr. Quraish Shihab, didampingi Najwa Shihab, mengajak pemirsa menelusuri Asmaul Husna. Nama-nama Tuhan itu diurai perlahan, bukan sekadar untuk dihafal, melainkan untuk direnungi. Sebuah jeda sunyi sebelum azan Magrib memanggil manusia kembali pada fitrahnya.
Usai berbuka, sinetron religi produksi Mega Kreasi Film mengisi waktu keluarga. Lalu malam dilanjutkan dengan riuh yang berbeda: BRI Super League, denyut sepak bola nasional yang menghadirkan sorak dan emosi—sebuah pengingat bahwa Ramadan juga tentang menyeimbangkan jiwa dan raga.
Malam, Mudik, dan Hari Raya
Ketika malam semakin larut, AKSI kembali menyapa. Sementara itu, Indosiar menyiapkan diri menyambut puncak Ramadan: Sidang Isbat penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal, konser malam takbiran, konser Lebaran, hingga liputan mudik di jalur Pantura—merekam peluh, harap, dan doa yang bergerak bersama roda-roda pulang kampung.
Lewat program Ramadan Asik, kisah Ramadan dari berbagai penjuru Indonesia dan dunia turut dihadirkan. Di balik layar hiburan, kepedulian sosial berjalan beriringan melalui Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih, yang menyalurkan bantuan bagi mereka yang tertimpa musibah.
Anak-Anak dan Ramadan yang Bersahabat
Di Mentari TV, Ramadan diperkenalkan dengan bahasa yang lebih riang. Tayangan edukatif, doa-doa harian, serta kartun seperti Tayo, Pororo, dan animasi lokal Keluarga Somat menjadi jembatan bagi anak-anak memahami puasa tanpa rasa takut.
Ramadan, bagi mereka, bukan sekadar menahan lapar, melainkan belajar sabar sambil tertawa—belajar menunggu waktu berbuka dengan cerita dan warna.
Pada akhirnya, Ramadan di layar Indosiar bukan hanya soal program. Ia adalah upaya merawat kebiasaan, menjaga percakapan, dan menemani sunyi.
Ketika bulan suci berlalu, mungkin yang tersisa bukan hanya ingatan tentang tayangan, tetapi tentang momen-momen kecil: sahur yang tak terlewat, senja yang lebih bermakna, dan keluarga yang duduk bersama—di bawah cahaya lentera bernama layar kaca. (NMC)