Macam Betool Ajaa, Komedi yang Tertawa Sambil Menahan Lapar
INVENTIF – Di sebuah ruko kecil dekat pasar—ruang sakral tempat debu, doa, dan proposal saling mengendap—film Macam Betool Ajaa menggelontorkan ceritanya dengan kejujuran yang nyaris memalukan.
Tiga anak muda menamai nasib mereka dengan singkatan yang terdengar keren: AIU-EO. Sebuah akronim yang diciptakan bukan untuk mengubah dunia, melainkan agar tampak layak dipercaya oleh klien yang gemar menawar harga sambil memuji “kreativitas anak muda zaman sekarang”.
Alung, Igor, dan Ujay adalah potret generasi freelancer yang akrab dengan kalender acara, janji transfer, dan kata “menyusul”.
Dari Medan, mereka menatap masa depan seperti menatap poster motivasi di dinding kos: penuh warna, inspiratif, tapi mudah robek ketika disentuh realitas. Mereka disebut bebas—bebas bermimpi, bebas berharap—namun juga bebas dari kepastian makan esok hari.
Sekali waktu datanglah kabar baik itu: proyek pernikahan mewah milik seorang pengusaha kaya bernama Udin. Hah…Udin? Udin di Medan? Penonton kebingungan. Lha iya, Medan, bukan Batak. Medan lekat dengan Melayu, Bos. Amanlah nama itu. Wa Udin gitu lho!
Ini proyek emas, kata mereka. Emas yang diharapkan mampu menambal sewa ruko, cicilan hidup, dan iman bahwa kerja kreatif masih punya nilai di negeri yang sering menganggapnya sekadar hobi mahal.
Tapi seperti semua emas dalam cerita rakyat, kilau itu menyimpan retak. Pada akhirnya Igor menemukan bahwa pengantin perempuan bernama Sofia—nama lama yang seharusnya tinggal sebagai kenangan sekolah, kini berdiri anggun di altar masa depan. Hebohlah sepenggal hati.
Lebih heboh lagi, ternyata Sofia tak datang membawa cinta, melainkan kewajiban. Ia akan dinikahkan bukan karena ingin, melainkan karena keluarga harus melunasi utang budi: mata uang paling ujur, paling kejam, dan paling tak tercatat di neraca hukum negeri ini.
Permintaan Sofia sederhana sekaligus mustahil: batalkan pernikahan itu.
Di titik inilah Macam Betool Ajaa berhenti menjadi sekadar komedi romantis dan berubah menjadi cermin. AIU-EO dipaksa memilih dilema yang terlalu akrab bagi generasi hari ini: profesionalisme atau nurani, invoice atau cinta, kontrak kerja atau keberanian berkhianat pada sistem yang sejak awal tak pernah adil.

Film ini tahu betul bahwa tragedi generasi muda paling sering dibungkus tawa—karena menangis terlalu mahal, sementara tertawa masih gratis.
Sayangnya, keberanian gagasan itu tidak sepenuhnya diiringi keberanian penggarapan. Secara teknis, film ini berjalan di jalur aman: rapi, wajar, tidak jelek, tapi juga enggan melompat lebih jauh. Ia seperti acara yang sukses terlaksana namun tak meninggalkan kesan—selesai tepat waktu, lalu dilupakan begitu lampu dipadamkan. Biasa saja!
Akting para pemain pun terasa “sekadar menunaikan job”. Para pemeran utama tampak nyaman di tempatnya masing-masing, terlalu nyaman untuk benar-benar menggali luka karakter yang mereka mainkan. Seolah mereka sepakat: jangan terlalu dalam, nanti capek sendiri. Tak heran, di film itu kita cuma lihat Oky dan Oky aja seperti di film-film Oky Rengga – tuh kan Oky lagi – lainnya
Nampaknya hanya Andri Mashadi yang terlihat bekerja ekstra keras, berusaha meyakinkan penonton dengan logat dan gestur anak Medan—sebuah usaha tambahan yang terasa karena ia harus menjadi sesuatu yang bukan asalnya. Tapi lucunya, pemain pendukung – kabanyakan orang Meda- malah lebih asyik dinikmati ektingnya.
Sementara Mathias Muchus -aktor gaek yang itu-itu saja namun selalu nikmat ditonton- kembali membuktikan bahwa pengalaman memang tak pernah salah alamat: ia bermain asyik, seperti orang tua yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus menyindir tanpa perlu berteriak.
Lalu bagaimana dengan Michelle Ziudith? Michelle.., ya masih tetap cantik, sih. Tapi kayaknya gak seanggun di film ‘Ipar Adalah Maut dan Mekah I’m Coming’ yang ngegemesin banget ektingnya.
Namun justru di situlah ironi Macam Betool Ajaa bekerja paling efektif. Film ini menertawakan luka dengan sopan, menyindir realitas tanpa pengeras suara. Ia berbicara pelan, tapi tepat sasaran: di dunia kreatif, yang paling sering disabotase bukan acara, melainkan harapan. Bahwa mimpi anak muda kerap dipaksa tunduk pada ekonomi, dan cinta harus rela antre di belakang kepentingan keluarga, nama baik, dan tradisi yang tak pernah benar-benar menanyakan kebahagiaan siapa pun.
Ketika lampu panggung menyala dan pesta hampir dimulai, pertanyaannya bukan lagi apakah acara akan berjalan lancar. Melainkan: siapa yang akhirnya harus dikorbankan agar semuanya tampak baik-baik saja.
Macam Betool Ajaa adalah komedi romantis yang mengajak penonton tertawa—lalu pulang dengan dada yang terasa sedikit lebih berat. Sebab di balik tawa itu, kita tahu jawabannya sering kali sama: yang dikorbankan bukan hanya cinta, tapi juga generasi yang sejak awal diajari untuk menerima, bukan melawan.
Begitu bukan? Macam Betool Aja! (NMC)