Barokah Indonesia, Penghafal Al-Qur’an Disabilitas Netra dari 12 Negara Bertanding di Jakarta
INVENTIF— Di bawah langit Jakarta yang bersiap menyambut bulan kelahiran Nabi, sebuah peristiwa bersejarah akan tercatat.
Ya, untuk kalipertama, para penghafal Al-Qur’an penyandang disabilitas netra dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul dalam satu majelis agung: Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) Internasional 2025.
Ajang yang digagas Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam ini bukan sekadar lomba, melainkan panggung kehormatan. Dari balik keterbatasan mata yang tak mampu menatap dunia, cahaya Al-Qur’an justru mereka genggam erat dalam hati.
“Pelaksanaan kegiatan perdana ini adalah wujud komitmen Kemenag dalam mendorong inklusivitas dan kesetaraan akses terhadap nilai-nilai keislaman di tingkat global,” tutur Abu Rokhmad, Direktur Jenderal Bimas Islam, di Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Lintas Negara, Satu Kalam
MHQ Internasional 2025 lahir dari kolaborasi Kemenag dengan Rabithah ‘Alam Islami atau Liga Muslim Dunia, sebuah organisasi Islam terbesar yang berpusat di Makkah. Sebanyak 15 peserta dari 12 negara akan hadir, menandai babak baru dalam sejarah penghafalan Al-Qur’an.
Mereka datang bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk meneguhkan bahwa Al-Qur’an adalah milik semua, tanpa sekat keterbatasan.
Penyambutan peserta dijadwalkan pada 31 Agustus 2025. Perlombaan akan dibuka di Hotel Sahid Jakarta, lalu ditutup megah di Jakarta Convention Center (JCC). Lima cabang lomba akan dipertandingkan, mulai dari hafalan 30 juz dengan dan tanpa Matan Jazari, hingga kategori 20 juz dan 10 juz.
Dewan hakim terdiri dari lima orang pakar, tiga di antaranya berasal dari Arab Saudi dan dua dari Indonesia, memastikan kemurnian penilaian pada setiap lantunan ayat yang berkumandang.
Tak berhenti pada perlombaan, suasana Jakarta juga akan diramaikan dengan Festival Shalawat Nabi, talkshow bertajuk Cinta Nabi Gaya Gen-Z, serta Haflah Tilawatil Qur’an yang menjadikan perhelatan ini lebih dari sekadar lomba—ia adalah perayaan iman dan budaya.
MHQ internasional perdana bagi disabilitas netra ini menjadi penanda, bahwa Indonesia tak hanya menjadi tuan rumah, melainkan juga penjaga semangat inklusivitas dalam agama. Di balik senyap mata yang tak melihat dunia, ada suara merdu yang membawa cahaya langit.
Dan Jakarta, September nanti, akan menjadi saksi.(ISS)