Suara yang Lama Disimpan, Ketika Alyne Maarif Menulis Luka dengan Cahaya
INVENTIF – Ada kisah yang selama ini berjalan dalam sunyi. Ia tidak muncul di layar kaca, tidak pula menjadi bahan perbincangan publik. Ia hidup di balik senyap kehidupan seorang perempuan bernama Alyne Maarif—artis multi talenta sekaligus ibu dari artis cilik Niloufer Bahlwan, yang dikenal publik melalui perannya sebagai Agil dalam film Keluarga Cemara 2 serta Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta.
Selama ini tidak banyak yang mengetahui bahwa Alyne telah lama menjalani kehidupan pasca perceraian. Sebuah kehidupan yang, alih-alih menjadi lembar baru yang tenang, justru sering bersinggungan dengan konflik keluarga yang tak benar-benar berhenti.
Di balik keputusan untuk berpisah, tersimpan perjalanan panjang yang tidak sederhana. Tahun-tahun yang dilalui dengan berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga—kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik yang pernah ia alami dalam relasi pernikahan yang seharusnya menjadi tempat pulang.
Dulu, sebelum perceraian benar-benar terjadi, Alyne telah dua kali mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Namun setiap kali pintu keluar hampir terbuka, relasi yang sarat manipulasi seolah menariknya kembali masuk ke dalam lingkaran yang sama. Hubungan yang tidak sehat itu berlangsung bertahun-tahun, hingga pada akhirnya perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami. Kenyataan pahit tapi justru melahirkan rasa syukur bagi Alyne.
Ditelaah lebih dalam, pada rentang itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang memadai. Karena itu fokusnya hanya satu: mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat dan membahayakan. Ia percaya bahwa setelah perceraian terjadi, konflik akan berhenti. Bahwa masing-masing orang akan kembali pada hidupnya sendiri.

Namun, kenyataan sering kali tidak seindah harapan! Teror dan perang bathin terus bergumul dahsyat!
Pasca perceraian, konflik tidak benar-benar menghilang. Alyne berusaha menjalani hidup secara normal tanpa memperpanjang pertikaian. Ia tetap membuka ruang komunikasi yang wajar demi kepentingan anak-anaknya. Bahkan ia tidak pernah melarang mantan suaminya untuk datang atau bertemu dengan mereka.
Namun dalam perjalanan waktu, pola kekerasan psikologis dan manipulasi masih terus hadir. Tuduhan, penyalahan, hingga gaslighting kembali berulang—seperti bayangan lama yang enggan benar-benar pergi. Runyam dan makin runyam.
Situasi itu akhirnya membuat Alyne mengambil keputusan tegas: melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya.
Setelah batas itu dibuat, satu-satunya pintu yang tersisa menuju kehidupannya adalah melalui anak-anak. Dalam berbagai kesempatan, Alyne mulai melihat anak-anak berada di tengah dinamika konflik orang dewasa yang tidak mereka pilih.
Noktah perjalanan ini juga meninggalkan jejak berat pada dirinya. Alyne pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Pada satu titik, ia memutuskan mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis.
Dilalahnya langkah yang seharusnya menjadi jalan penyehatan dan pemulihan itu justru dipelintir menjadi stigma. Ia menghadapi intimidasi, pelabelan, dan tuduhan yang tidak berdasar. Bertubi tubi hal itu merangsek dalam hidupnya.
Pada satu titik, Di tengah berbagai fitnah yang berkembang, Alyne akhirnya mencari perlindungan melalui lembaga resmi. Ia mendatangi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) untuk meminta bantuan serta perlindungan bagi anak-anaknya.

Melalui proses asesmen terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI kemudian mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama ibunya, serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang jelas.
Namun hingga saat ini, rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.
Situasi inilah yang akhirnya membuat Alyne Maarif memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk menciptakan konflik baru, bukan pula untuk mencari sorotan publik. Ia hanya merasa bahwa situasi yang dibiarkan terlalu lama justru memberi ruang bagi tindakan yang sama untuk terus berulang tanpa konsekuensi.
Selama ini Alyne dikenal sebagai sosok yang memilih jalan tenang dan prosedural. Ia berusaha sebisa mungkin tidak terseret ke dalam arus konflik terbuka di ruang publik.
Sebagai seorang seniman, Alyne memilih menyalurkan pergulatan batinnya melalui karya dan karya.
Perasaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata ia tuangkan melalui lagu, tulisan, buku, dan jurnal pribadi. Karya-karya itu menjadi ruang aman baginya—tempat di mana luka dapat diproses tanpa harus memperkeruh keadaan.
Salah satu refleksi batin itu juga tercermin dalam album yang ia kerjakan, termasuk album Narc, yang memuat perjalanan emosional selama ia melewati masa-masa sulit tersebut.
Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari bahwa ada titik ketika diam tidak lagi cukup. Apalagi ia mulai melihat perubahan dalam dinamika emosional anak-anaknya. Ada fase pendekatan yang terasa sangat intens, yang menurutnya berpotensi diikuti pola manipulasi yang pernah ia alami sebelumnya.
Sebagai seorang ibu, Alyne menegaskan bahwa ia tidak dapat tinggal diam melihat anak-anaknya berpotensi masuk ke dalam siklus yang sama.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, ia mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta melakukan pengamatan psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. Meski ia percaya telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kegelisahan seorang ibu tidak bisa begitu saja diabaikan.
Langkah untuk berbicara secara terbuka ini pun bukan langkah pertama. Sebelumnya Alyne telah mencari pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk LPAI dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).
Baginya, ini adalah upaya terakhir untuk memastikan keselamatan emosional serta masa depan anak-anaknya tetap terjaga.
Ia juga menegaskan bahwa jika situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Alyne menyatakan kesiapannya menempuh proses hukum secara penuh—baik dalam ranah perdata maupun pidana, apabila diperlukan.
“Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat.”
Harapan Alyne sederhana, meski jalan menuju ke sana tidak selalu mudah, semoga langkah ini menjadi titik awal menuju penyelesaian yang lebih bertanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, di tengah semua konflik orang dewasa, ada satu hal yang harus tetap dijaga: masa depan anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam ruang yang aman, tenang, dan penuh kasih. (Ncank)