Berawal dari Gerobak Baca, 90 Karya Anak Desa Tampil Memukau di Galeri Hadiprana

0

INVENTIF – Mimpi besar ternyata bisa lahir dari sebuah gerobak sederhana. Hal itu dibuktikan Yayasan Maharani Kirana Pertiwi (YMKP) melalui pameran “Satu Gerobak Baca, Sejuta Mimpi” yang digelar di Galeri Hadiprana, Jakarta Selatan.

Pameran yang berlangsung hingga 10 Juli 2026 tersebut menghadirkan 90 karya seni hasil kreativitas anak-anak dari berbagai desa binaan Gerobak Baca YMKP di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari lukisan, gambar, hingga karya visual lainnya menjadi bukti bahwa akses terhadap buku, ruang belajar, dan pendampingan mampu melahirkan kreativitas sekaligus menumbuhkan harapan bagi anak-anak di pelosok negeri.

Pembukaan pameran dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo, Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi Esra Manurung, Ketua Yayasan Maharani Kirana Pertiwi Nila Verika Ginting, serta pemilik Galeri Hadiprana Puri Hadiprana.

Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Esra Manurung, mengatakan selama sembilan tahun terakhir yayasan tersebut terus membangun gerakan literasi berbasis masyarakat melalui 27 titik Gerobak Baca yang tersebar di berbagai desa di Indonesia. Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari keluarga dan komunitas kecil.

Sebanyak 90 persen relawan Gerobak Baca merupakan perempuan yang setiap hari terjun langsung mendampingi anak-anak di desa. Bagi Esra, misi utama yayasan bukan sekadar membangun bangsa dari atas, melainkan memperkuat keluarga sebagai fondasi utama lahirnya generasi yang jujur, kreatif, dan peduli.

Gerobak Baca, lanjutnya, bukan hanya tempat membaca buku, tetapi ruang bertumbuh bagi anak-anak sekaligus wadah lahirnya relawan-relawan yang bekerja dengan ketulusan.

Esra juga membagikan kisah para relawan yang menghidupkan Gerobak Baca di berbagai daerah. Salah satunya Ibu Hana di Tuk Tuk, Sumatera Utara, yang setiap hari berjualan sate kerang keliling sebelum sore harinya membuka Gerobak Baca untuk anak-anak. Di Desa Tangguntiti, Bali, sepasang lansia juga tetap setia mendampingi anak-anak belajar meski usia tak lagi muda.

Menurut Esra, semangat para relawan itulah yang melahirkan karya-karya anak desa yang kini dipamerkan di salah satu galeri seni ternama di Jakarta.

Ketua Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Nila Verika Ginting, mengatakan pameran tersebut merupakan bentuk penghargaan bagi anak-anak dan para relawan yang selama ini menjaga denyut Gerobak Baca di berbagai daerah.

Setiap karya yang dipamerkan, menurutnya, bukan sekadar gambar atau lukisan, tetapi menyimpan cerita tentang keberanian anak-anak untuk bermimpi sekaligus membuktikan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, tanpa dibatasi kondisi ekonomi maupun tempat tinggal.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo mengaku terharu melihat konsistensi Yayasan Maharani Kirana Pertiwi membangun gerakan literasi hingga pelosok Indonesia.

Ia bahkan mengaku “meleleh seperti lilin” ketika mengetahui kiprah Gerobak Baca yang terus menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak di berbagai daerah.

Menurut Giring, karya-karya yang dipamerkan menjadi bukti bahwa kreativitas akan tumbuh ketika anak-anak diberi ruang untuk berekspresi. Seni, katanya, memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat sekaligus memperkuat identitas bangsa.

Ia juga menegaskan pelestarian kebudayaan tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Kolaborasi dengan berbagai yayasan dan organisasi masyarakat menjadi kunci agar literasi dan kebudayaan terus berkembang.

Giring berharap semakin banyak Gerobak Baca hadir di seluruh Indonesia dan menyatakan dukungannya agar gerakan tersebut terus diperluas karena buku merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun bangsa.

Pemilik Galeri Hadiprana, Puri Hadiprana, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari gerakan yang menghubungkan seni dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, karya-karya anak-anak yang dipamerkan bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa kisah tentang harapan, ketekunan, dan mimpi generasi muda Indonesia.

Ia menilai galeri seni tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga tempat bertemunya gagasan-gagasan yang mampu melahirkan perubahan sosial. Karena itu, kolaborasi dengan Yayasan Maharani Kirana Pertiwi diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut berinvestasi pada pendidikan, literasi, dan kreativitas anak-anak Indonesia.

Melalui pameran “Satu Gerobak Baca, Sejuta Mimpi”, Yayasan Maharani Kirana Pertiwi ingin menunjukkan bahwa setiap buku yang dibaca, setiap relawan yang mengajar, dan setiap ruang belajar yang dibangun di desa merupakan investasi nyata bagi masa depan bangsa.

Pameran yang terbuka untuk umum hingga 10 Juli 2026 di Galeri Hadiprana, Jakarta Selatan, menjadi ajakan bagi masyarakat untuk bersama-sama memperluas akses literasi, seni, dan pendidikan demi mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045.

Leave A Reply

Your email address will not be published.