INVENTIF: Dalam rangka menyambut Program “IPB Berwakaf”, Badan Pengelola Bisnis, Investasi dan Wakaf (BP Biswaf) IPB University selaku pengelola wakaf (nazhir) IPB, melakukan serangkaian sosialisasi berbagai program dan bentuk wakaf. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan literasi wakaf dan memperkenalkan program wakaf IPB kepada seluruh civitas akademika IPB.
Ternyata wakaf itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Selain dalam bentuk tanah dan bangunan, wakaf bisa diberikan dalam bentuk wakaf tunai, wakaf manfaat polis asuransi, wakaf royalty penulisan buku dan lain-lainnya. Pada Jumat minggu ketiga Juni lalu, BP Biswaf menggelar sosialisasi wakaf manfaat polis asuransi, bekerjasama dengan anggota Komunitas ManuSya Berkah yang beranggotakan para Life Planner Syariah dari Manulife Indonesia.
Acara ini dihadiri Pimpinan dan Manajemen BP BISWAF IPB dan para Manajer Satuan Usaha, di Botani Kopi Nusantara, IPB University. Dalam kegiatan sosialisasi ini, dipaparkan berbagai program wakaf IPB yang terkait dengan wakaf manfaat asuransi. Melalui manfaat asuransi, nilai wakaf yang bisa diberikan wakif (orang yang mewakafkan hartanya) atau donatur, akan lebih besar secara signifikan dibandingkan jika mengumpulkan dana untuk wakaf secara perorangan.
Melalui polis asuransi syariaf, wakif akan mewakafkan santunan meninggal dunia yang akan diterima dari dana Taba’ru yang dikelola perusahaan asuransi, ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Contohnya, seorang wakif saat ini berusia 30 tahun. Ia membeli polis asuransi Mission Syariah Manulife dengan iuran sebesar Rp 400.000 per bulan. Dengan kepesertaannya ini, ia mendapatkan santunan meninggal dunia sebesar Rp 1 miliar. Uang santunan sebesar ini akan diterima kapanpun, jika peserta meninggal dunia, walaupun baru membayar iuran sebulan, setahun, sepuluh tahun atau lebih, nilai santunannya akan sama.

Santunan sebesar Rp 1 miliar ini lah yang akan diwakafkan melalui BP Biswaf untuk berbagai program wakaf yang dikelola. Bandingkan jika uang sebesar Rp 400.000 tersebut ditabung sendiri oleh peserta. Butuh waktu 208 tahun untuk menjadi Rp 1 miliar. Artinya kalau saat ini usia peserta 30 tahun, tidak akan mungkin ia bisa memberikan wakaf senilai Rp 1 miliar meskipun ia terus menabung sampai meninggal dunia di usia 100 tahun sekalipun. Inilah manfaat dari wakaf melalui polis asuransi.
Peserta wakaf manfaat polis juga bisa membagi santunan meninggal dunia tersebut kepada ahli waris anggota keluarga, selain untuk diwakafkan. Misalnya, 50% untuk ahli waris, dan 50% diserahkan kepada BP Biswaf. Atau bisa juga 100% diwakafkan, tergantung niat dan kebutuhan masing-masing. Semakin muda usia peserta, semakin kecil iuran yang dibayarkan untuk bisa berwakaf sebesar Rp 1 miliar. Sebaliknya Semakin tua peserta, maka iuran yang dibayarkan juga semakin besar untuk mendapatkan nilai santunan meninggal dunia yang sama.
Putu Anggreni, Branch Manager Manulife Syariah yang hadir bersama para life planner syariah di acara ini menyampaikan targetnya untuk bisa mendapatkan 100 peserta yang mengikuti program wakaf manfaat polis asuransi dari alumni dan civitas akademika IPB. Sehingga bisa berkontribusi membantu menyalurkan wakaf manfaat polis asuransi sebesar Rp 100 miliar kepada BP Biswaf. Adapun untuk memasarkan produk wakaf manfaat polis ini, Manulife akan bekerjasama dengan para Duta Wakaf IPB. Dengan menyasarkan target market terutama kepada para alumni IPB, civitas akademika termasuk para mahasiswa. Minimal iuran wakaf manfaat polis asuransi sebesar Rp 340.000 per bulan atau Rp 12.000/hari.
Peserta wakaf manfaat polis asuransi bisa memilih untuk menyalurkan wakaf ke berbagai program wakaf yang dikelola BP Biswaf. Baik dalam bentuk wakaf sosial atau wakaf produktif. Untuk wakaf sosial terdiri atas Water Station, Alat Kesehatan dan IPB Memorial Park. Sementara wakaf produktif yang bisa dipilih adalah program beasiswa (Beasiswa BWI-IPB, Matjik Legacy Scholarschip, 1000 Beasiswa), program ketahanan pangan (Sawah Wakaf dan Ternak Wakaf), serta Rumah Wakaf dan Edupartemen.
Saat menyampaikan materi kajian wakaf, Alla Asmara, pengurus BP Biswaf bertanya kepada para peserta. “Siapakah manusia yang paling berbahagia?” Ia lalu mengutip Ibnu Qudamah, “Yaitu, mereka yang berhenti nafasnya, tetapi tidak berhenti pahalanya,” ujar Alla.
Ada tiga perkara yang bisa menyelamatkan manusia ketika sudah meninggal dunia. Doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah atau amal yang berkelanjutan. Karena yang pertama dan kedua tidak bisa dipastikan saat kita meninggal dunia, maka yang paling bisa dipersiapkan sebelum meninggal dunia adalah yang ketiga, yaitu dalam bentuk wakaf.
FESTIVAL WAKAF IPB
Pada kesempatan yang sama, Alla Asmara menyampaikan rencana kegiatan Festival Wakaf IPB 2023 yang akan diadakan pada kuartal keempat tahun ini, dengan tema “IPB Berwakaf”. Ide kegiatan ini muncul karena wakaf perlu disosialisasikan secara massif baik di lingkungan IPB maupun bagi masyarakat umum.
Kegiatan ini terutama disasarkan untuk para mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, serta alumni IPB. Rangkaian kegiatan akan diisi antara lain dengan pemilihan duta wakaf batch 2, wakaf goes to campus, launcing dana sosiasi/dana abadi mahasiswa, serta acara puncak IPB Berwakaf. Acara puncak akan diisi dengan launching buku, launching crowdfunding berbasis investasi & wakaf, serta launching RS Wakaf.
Melalui kegiatan ini Alla Asmara mengharapkan terkumpul dana wakaf sebesar Rp 1 miliar, dengan jumlah donatur atau wakif sebanyak 5 institusi dan 500 individu, serta 500 peserta yang hadir memeriahkan acara puncak. Sementara Putu Anggreni dari GA LKG Manulife Syariah mengharapkan, dalam acara puncak IPB Berwakaf bisa menghadirkan setidaknya 10 peserta yang melakukan akad wakaf secara serentak dengan nilai wakaf melalui manfaat polis asuransi sebesar Rp 10 miliar, dari target Rp 100 miliar hingga tahun 2024.