Sujud yang Dipentaskan, Ketika Doa Menjadi Dialog dan Air Mata Jadi Komoditas

0

INVENTIFSekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah), sujudlah dan dekatkanlah diri kepada Allah SWT.” (Qs. Al-Alaq: 19).

Menteri Agama KH.Nasaruddin Umar menegaskan, “Bisa disebut sujud, jika isi pikiran dalam kepala kita, tercurah hanya untuk menyembah kepada Allah,” ujar KH. Nasaruddin Umar.

Itu makna sejatinya sujud. Lalu bagaimana hakekat  sujud dalam film Dalam Sujudku? Tervisualkah?

Di sebuah negeri yang gemar meromantisasi luka, film Dalam Sujudku datang seperti khotbah panjang yang diputar di layar lebar—lengkap dengan musik sendu, wajah-wajah letih, dan tentu saja, janji keselamatan yang dibungkus dalam dua jam durasi.

Disutradarai oleh Rico Michael dan diproduseri Donnie Syech, film ini tampaknya ingin menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia ingin menjadi tuntunan. Sayangnya, dalam ambisinya yang mulia itu, ia justru terperosok menjadi semacam ceramah visual—di mana konflik rumah tangga tak ubahnya panggung bagi petuah yang terlalu sadar ingin didengar.

Kisah yang diangkat—tentang rumah tangga, ujian hidup, dan pencarian makna spiritual—bukanlah barang baru. Bahkan bisa dibilang, ini adalah resep lama yang terus dipanaskan ulang. Marcell Darwin dan Denis Adhiswara berusaha memberi napas pada naskah yang sesungguhnya sudah kelelahan.

Mereka menangis, mereka menatap kosong, mereka berdoa—dan kita, sebagai penonton, diminta untuk percaya bahwa semua itu cukup untuk menyentuh.

Namun, yang menarik justru bukan pada air mata yang jatuh, melainkan pada bagaimana air mata itu diproduksi. Film ini seolah percaya bahwa semakin lama kamera menatap wajah yang bersedih, maka semakin dalam makna yang tercipta. Sebuah asumsi yang, sayangnya, terasa terlalu naif untuk ukuran realitas yang kompleks.

 

Deretan pemain seperti Vinessa Inez, Naura Hakim, hingga Chika Waode tampil dengan kesungguhan yang tak bisa dipungkiri. Namun, mereka seperti dipaksa berjalan di atas rel yang sudah ditentukan: protagonis harus sabar, antagonis harus disalahpahami, dan Tuhan—tentu saja—harus selalu punya rencana yang indah di akhir cerita.

Di titik ini, film mulai terasa seperti buku motivasi yang kebetulan difilmkan. Kalimat-kalimat tentang ikhlas, sabar, dan doa mengalir deras, namun justru kehilangan daya karena terlalu sering diucapkan. Seolah-olah penderitaan manusia bisa diselesaikan hanya dengan satu resep universal: berserah.

Original soundtrack berjudul Titipan Ilahi yang dinyanyikan Evelyn Wijaya semakin mempertebal suasana haru yang nyaris dipaksakan. Liriknya indah, tentu. Tapi keindahan itu seperti terlalu sadar diri—ia tahu bahwa ia harus menyentuh, dan karena itu, ia kehilangan kejujurannya.

Film ini berkali-kali mengingatkan kita bahwa dalam sujud, manusia menemukan kekuatan. Sebuah pesan yang tak salah, bahkan mulia. Namun ketika pesan itu diulang-ulang tanpa ruang untuk tafsir, ia berubah menjadi dogma. Dan ketika dogma dipaksakan dalam seni, yang lahir bukanlah refleksi—melainkan repetisi.

Ironisnya, di tengah segala keseriusan itu, karakter “tukang gosip” yang diperankan Chika Waode justru terasa paling jujur. Mungkin karena ia tak berpretensi menjadi suci. Ia hadir sebagai cermin kecil dari masyarakat: riuh, cerewet, dan kadang lebih nyata daripada mereka yang sibuk mencari Tuhan di tengah konflik yang ditulis terlalu rapi.

Dalam Sujudku ingin menjadi jembatan antara luka dan makna. Namun alih-alih membiarkan penonton menyeberang sendiri, film ini justru menuntun terlalu erat—hingga kita lupa bagaimana rasanya menemukan makna itu secara personal.

Pada akhirnya, film ini bukan tentang sujud. Ia tentang bagaimana sujud dipentaskan—dengan pencahayaan yang tepat, musik yang mengalun, dan dialog yang sudah disiapkan. Dan mungkin, di situlah letak pertanyaan terbesarnya: apakah iman masih terasa, jika ia sudah diatur sedemikian rupa untuk terlihat indah di layar?

Mungkin justru akan lebih greeng bila judul filmnya bukan Dalam Sujudku! Semisal.., yaah bikin sendiri, deh.

Leave A Reply

Your email address will not be published.