Doa dan Harapan untuk Korban Majelis Taklim yang Ambruk

0

 

INVENTIF  – Bogor pagi itu masih menyisakan getir. Di Desa Sukamakmur, Ciomas, lantunan doa berubah jadi jeritan.

Ya , bangunan Majelis Taklim Ashobiyyah, yang baru seumur jagung berdiri, runtuh bersama mimpi dan semangat para jemaah yang sedang menimba ilmu. Tiang penopang tak sanggup berdiri tegak, hingga ruang majelis di lantai atas ambruk sekitar pukul 09.30 WIB.

Di antara luka dan duka itu, langkah Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir di dua rumah sakit: PMI Bogor dan RSUD Kota Bogor. Dengan tatapan penuh empati, ia menyalami korban yang terbaring, menguatkan keluarga yang masih diselimuti cemas.

“Kita doakan semoga yang luka segera pulih. Dan bagi mereka yang wafat, semoga husnul khatimah, wafat dalam keadaan syahid. Mereka berpulang saat mengaji, saat merayakan cinta kepada Rasulullah. Insya Allah, kelak mendapat syafaat Rasulullah saw,” ucap Menag dengan suara bergetar.

Hari itu, ada 21 korban dirawat di RS PMI dan 38 korban di RSUD Kota Bogor. Di balik wajah-wajah pucat yang menahan sakit, ada doa yang terus dipanjatkan, semoga sembuh, semoga bangkit.

Tak hanya kata-kata, Menag membawa titipan kepedulian: Rp100 juta untuk pembangunan kembali musalla dan Rp50 juta untuk majelis taklim yang roboh. Sebuah ikhtiar kecil agar ruang ibadah itu dapat kembali menjadi rumah cahaya bagi masyarakat.

“Semoga bangunan bisa segera berdiri lagi, dan kembali menjadi tempat orang-orang bersujud serta menimba ilmu,” tutur Menag.

Ia juga menyampaikan kabar bahwa biaya perawatan korban ditanggung Pemerintah Kabupaten Bogor, sementara santunan bagi para korban akan disalurkan oleh Baznas.

Bogor hari itu bukan hanya menyimpan cerita duka, tetapi juga menyulam asa. Dari puing-puing majelis taklim yang runtuh, doa kembali dipanjatkan: semoga luka sembuh, semoga jiwa-jiwa yang berpulang mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga rumah ilmu itu bangkit lagi, lebih kokoh, lebih berkah. (ISS)

Leave A Reply

Your email address will not be published.