“Wisata Rasa di Bumi Pasundan”, Saat Nasi Tutug Oncom Naik Kelas

0

 

INVENTIF — Dalam upaya mengangkat kuliner lokal ke panggung dunia, Kementerian Pariwisata resmi meluncurkan buku “Wisata Rasa di Bumi Pasundan”.

Buku ini disebut sebagai panduan perjalanan gastronomi Jawa Barat — atau lebih tepatnya, cara elegan untuk memberitahu wisatawan bahwa makan siang di warung pinggir jalan juga bisa menjadi wisata kelas dunia.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, yang hadir dengan penuh semangat, menyebut buku ini sebagai panduan praktis bagi pelaku wisata untuk menciptakan “pola perjalanan rasa yang autentik, lokal, dan berdaya saing global.”
“Dari gurihnya nasi tutug oncom hingga manisnya burayot, setiap hidangan menghadirkan narasi tunggal yang kaya dan bermakna,” ujarnya penuh rasa — rasa bangga, maksudnya.

Program ini juga diklaim sejalan dengan konsep quality tourism, atau pariwisata naik kelas — di mana wisatawan tidak hanya berfoto di Lembang, tapi juga memahami filosofi di balik sambal terasi.

Buku tersebut disusun lewat kolaborasi lintas sektor: pemerintah, pelaku industri, komunitas gastronomi, akademisi, dan tentu saja konsultan kreatif — karena tidak ada yang lebih otentik dari sebuah konsep kuliner yang sudah dikonsultasikan sampai ke PowerPoint.

Menurut Kemenpar, gastronomi Indonesia bukan sekadar soal makan, tapi juga ekosistem besar yang melibatkan petani, nelayan, hingga chef influencer. Pendekatan “from farm to table” ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal — meski kenyataannya, sebagian besar petani masih belum tahu bahwa mereka kini bagian dari “rantai nilai pariwisata global.”

TasteAtlas pun disebut menempatkan kuliner Indonesia di posisi ketujuh dunia dan pertama di Asia Tenggara. Sebuah prestasi yang membuat masyarakat Bandung semakin yakin bahwa cireng isi seblak suatu hari nanti bisa menembus bursa kuliner Michelin Guide.

“Sinergi antara kuliner dan pariwisata melahirkan pengalaman yang autentik dan bernilai tambah tinggi,” jelas Menteri Widiyanti. “Wisatawan berkualitas kini tak sekadar mencari pemandangan, tapi juga rasa — terutama rasa pedas yang menggigit di lidah, dan rasa penasaran mengapa harga kuliner otentik di kafe tematik bisa tiga kali lipat dari warung aslinya.”

Acara peluncuran buku ini dihadiri oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, sejumlah pejabat daerah, serta perwakilan industri pariwisata. Semuanya sepakat bahwa wisata rasa ini penting — terutama jika rasa tersebut juga bisa menambah rasa percaya diri ekonomi daerah.

Dengan semangat kolaborasi dan aroma sambal yang menggoda, Kemenpar berharap konsep “Wisata Rasa di Bumi Pasundan” bisa ditiru daerah lain. Karena siapa tahu, setelah ini, “Wisata Rasa di Bumi Madura” bisa menampilkan sate level global, dan “Wisata Rasa di Bumi Betawi” memperkenalkan kerak telor sebagai simbol diplomasi internasional. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.