Dana Pendidikan Turun, Harapan Naik dan Laporan Tetap Menumpuk
INVENTIF — Kementerian Agama kembali membawa kabar baik bagi madrasah dan Raudlatul Athfal (RA).
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) akhirnya cair pekan ini, dengan total fantastis Rp4,01 triliun. Kabar ini disambut bahagia — bukan hanya oleh guru madrasah, tetapi juga oleh tumpukan berkas laporan pertanggungjawaban yang sudah menunggu untuk diisi dengan tergesa-gesa.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut pencairan ini sebagai wujud nyata arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
“Sesuai arahan presiden, kita perlu wujudkan pendidikan bermutu untuk mencetak generasi unggul berdaya saing global,” ujarnya, di antara segudang rapat dan slide presentasi tentang mutu yang terus dibicarakan tapi jarang benar-benar terasa di ruang kelas.
Dana BOS Madrasah dan BOP RA ini disebut akan memperkuat pendidikan keagamaan. Namun, di lapangan, banyak guru madrasah tahu: sebelum uangnya sampai, biasanya sudah lewat masa ujian tengah semester.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menuturkan bahwa total alokasi untuk BOP RA mencapai Rp204 miliar, dan BOS Madrasah sebesar Rp3,809 triliun, dengan total 81 ribu lembaga penerima.
“Anggaran ini sudah dalam tahap pencairan oleh bank penyalur,” katanya.
Sebuah kalimat yang selalu terdengar manis — sampai kepala madrasah mulai menelusuri rekening dan mendapati saldo yang masih sabar menunggu giliran.
Amien menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam penggunaan dana.
“Dana ini harus tepat sasaran, digunakan sebagaimana mestinya, dan dilaporkan secara tertib,” tegasnya.
Pesan yang sangat penting, mengingat di banyak lembaga kecil, bendahara merangkap guru matematika, wali kelas, sekaligus operator eRKAM yang berjuang melawan deadline dan sinyal internet yang naik-turun seperti moral pas ujian nasional.
Sementara itu, Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah memastikan bahwa proses verifikasi dilakukan secara ketat.
“Setiap lembaga wajib menyelesaikan laporan pertanggungjawaban Triwulan II sebelum mengajukan pencairan Triwulan III dan IV,” jelasnya.
Dengan kata lain: kalau laporan belum rapi, jangan harap dana turun — bahkan kalau kelas sudah bocor dan meja siswa mulai berlubang karena waktu.
Kemenag berharap dana Rp4 triliun ini bisa meningkatkan mutu pembelajaran. Tapi di antara angka triliunan itu, masih terselip pertanyaan klasik: mengapa pendidikan bermutu sering bergantung pada tanggal pencairan, bukan pada kualitas pengajaran?
Sambil menunggu dana benar-benar sampai di rekening, para guru madrasah tetap mengajar dengan semangat: menulis di papan tulis yang sudah aus, mencetak lembar tugas dari printer pinjaman, dan tersenyum karena tahu — setiap triwulan, harapan selalu dicairkan lebih dulu daripada anggarannya. ( NMC)