Waru, Dendam yang Tersesat di Ranting Alur

0

INVENTIF – Film Waru karya sutradara Chiska Doppert berangkat dari tema yang sesungguhnya kuat dan relevan: luka batin akibat pelecehan seksual, pengkhianatan orang terdekat, serta dendam yang tumbuh karena kebenaran tak dipercaya.

Sayangnya, kekuatan tema tersebut tidak diiringi dengan pengolahan cerita yang solid, sehingga film ini lebih terasa sebagai rangkaian potongan horor daripada narasi utuh yang menggugah.

Diproduksi oleh empat rumah produksi dan dipresentasikan secara prestisius lewat gala premiere di XXI Epicentrum, Jakarta, Waru menampilkan jajaran pemain yang tidak bisa dipandang sebelah mata—Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Josiah Hogan, Sean Mikhail, hingga Yati Surahman.

Namun, potensi akting para pemain itu kerap teredam oleh skenario yang inkonsisten dan alur yang meloncat-loncat tanpa pijakan dramatik yang jelas.
Sejak adegan pembuka, penonton disuguhi ritual mistik di bawah pohon beringin (waru) dengan korban seorang perempuan paruh baya yang tewas mengenaskan.

Adegan ini menjanjikan misteri, namun janji itu tak pernah ditunaikan. Hingga film usai, identitas korban, motif pembunuhan, dan keterkaitannya dengan konflik utama tak pernah terjawab. Alih-alih membangun teka-teki, film justru meninggalkan lubang narasi yang mengganggu logika cerita.

Tokoh utama—remaja perempuan korban pelecehan—digambarkan jatuh dalam persekutuan dengan entitas gaib akibat trauma dan pengabaian. Gagasan ini sebenarnya berpotensi kuat secara psikologis dan sosial. Namun pengembangannya terkesan tergesa.

Lompatan dari korban menjadi pelaku pembunuhan, lalu ke fase hukuman penjara, terjadi tanpa eksplorasi emosional yang memadai, sehingga empati penonton sulit tumbuh secara utuh.

Masalah utama Waru terletak pada struktur cerita yang tidak disiplin. Banyak adegan hadir sebagai “potongan puzzle”, tetapi tak pernah benar-benar saling mengunci.

Kemunculan perempuan setengah waras di restoran, gangguan-gangguan supranatural di rumah keluarga, hingga temuan ruang pemujaan di rumah kakek—semuanya hadir sekilas, tanpa pendalaman sebab-akibat. Horor dibangun lewat kejutan visual, bukan melalui ketegangan naratif.

Aspek mitologi Jawa yang coba diangkat—santet, perjanjian gaib, huruf Jawa kuno—sekadar menjadi ornamen eksotis. Padahal, jika digarap serius, unsur budaya ini bisa menjadi fondasi cerita yang kuat dan khas. Ironisnya, film justru memilih jalan pintas: menjelaskan konflik lewat mimpi, bisikan, dan kebetulan, bukan melalui penggalian karakter dan relasi antartokoh.

Pesan moral film ini sejatinya penting: jangan pernah mengabaikan jeritan luka orang terdekat, sebab pengingkaran dapat melahirkan dendam dan bencana. Namun pesan tersebut terasa disampaikan secara verbal dan repetitif, bukan melalui perjalanan dramatik yang meyakinkan. Akibatnya, nilai reflektif film ini kalah kuat dibandingkan ambisi horornya.

Pada akhirnya, Waru adalah film dengan niat besar tetapi eksekusi yang rapuh. Ia menawarkan gagasan tentang trauma, dendam, dan kepercayaan, namun tersesat dalam alur yang tidak tertata.

Meski demikian, bagi penonton yang penasaran pada mitos keangkeran pohon waru dan horor lokal bernuansa mistik Jawa, film ini masih bisa menjadi tontonan alternatif—meski lebih sebagai rasa ingin tahu, bukan pengalaman sinematik yang memuaskan.

Waru dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop XXI mulai 12 Februari 2026. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.