Dalam Sujudku, Ketika Dosa Perjalanan Dinas Dikoreksi Lewat Doa dan Layar Lebar
INVENTIF — Di tengah maraknya film yang mengangkat cinta penuh bunga dan konflik penuh teriakan, film “Dalam Sujudku” justru memilih jalur yang lebih sunyi: rumah tangga jarak jauh, godaan kantor, dan doa yang bekerja lembur menggantikan komunikasi yang lupa dipakai.
Disutradarai Rico Michael, film produksi Project69 ini mengisahkan Aisyah dan Farid, pasangan suami istri yang diuji oleh Long Distance Marriage. Farid harus bekerja jauh di Jakarta, sementara Aisyah setia di rumah—bukan hanya menjaga anak, tapi juga menjaga iman, kesabaran, dan harapan yang nyaris habis pulsa.
Alih-alih mengangkat perselingkuhan sebagai drama penuh sensasi, Dalam Sujudku menyajikannya sebagai potret keseharian yang nyaris terasa seperti pengumuman layanan masyarakat: ketika komunikasi absen, godaan hadir tepat waktu. Farid, yang diperankan Marcell Darwin, menjadi simbol suami yang kariernya naik seiring turunnya tanggung jawab.
Di kantor barunya, ia menemukan Rina (Naura Hakim), rekan kerja yang awalnya sekadar satu tim, lalu satu hati, hingga akhirnya satu buku nikah—tanpa konsultasi batin pada istri sah.
Sementara itu, Aisyah (Vinessa Inez) memilih jalur yang jarang dipilih tokoh film: tidak melempar piring, tidak membakar rumah, dan tidak membalas dengan dendam. Ia memilih bersujud. Sebuah keputusan yang membuat sebagian penonton terdiam, sebagian lainnya keheranan, dan sisanya mungkin merasa sedang diadili secara halus.
“Ketika cinta sudah diucapkan, diwujudkan dalam tindakan, dan dibawa dalam sujud, tak perlu lagi pembuktian,” ujar Rico Michael, seolah mengingatkan bahwa dalam film ini, klimaks tidak selalu datang dari teriakan, melainkan dari keikhlasan.
Tokoh Ustadz Imam Yusuf yang diperankan Dennis Adishwara hadir sebagai penyeimbang, atau mungkin sebagai pengingat bagi penonton bahwa tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan dengan chat panjang dan status WhatsApp.
Menariknya, Dennis—yang dikenal dengan peran kocak dan cuek—kini tampil serius, bahkan mengaku harus “bersembunyi di kamar” demi mendalami peran ustadz. Sebuah transformasi yang membuktikan bahwa komedi bisa istirahat, tapi pesan moral tetap harus kerja keras.
Film ini juga menyoroti pentingnya restu dan komunikasi dalam rumah tangga, sebagaimana disampaikan Marcel Darwin. Hal paling dasar itu, menurutnya, justru paling sering terlupakan—mungkin karena dianggap terlalu sederhana untuk dipraktikkan.
Penayangan khusus Dalam Sujudku digelar Selasa (20/1/2026) di Kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi, yang juga menjadi salah satu lokasi syuting. Rektor Unjani, Prof. Dr. Agus Subagyo, S.IP., M.Si., mengaku bangga sekaligus terkejut karena bukan hanya kampusnya yang masuk layar lebar, tetapi dirinya juga ikut “terseret” menjadi pemeran tanpa gladi resik.
“Film ini membawa pesan moral kuat tentang kesetiaan dalam rumah tangga. Dan tentu saja, mengingatkan kaum pria agar tidak meniru karakter Farid,” ujarnya, sambil tersenyum—senyum seseorang yang sudah selamat dari proses syuting sekaligus pesan moralnya.
Ia pun membuka pintu lebar bagi sineas lain untuk memanfaatkan fasilitas kampus Unjani yang modern dan layak, seolah memberi isyarat bahwa dunia akademik dan perfilman kini bisa bertemu di titik yang sama: sama-sama mengajarkan nilai, meski dengan metode berbeda.
Selain Marcell Darwin, Vinessa Inez, Chika Waode, dan Dennis Adishwara, film ini juga dibintangi Naura Hakim, Riyuka Bunga, Dominique Sandra, Momo Moriska, dan lainnya. Chika Waode tampil sebagai sahabat Aisyah yang memberi napas segar di tengah konflik, lengkap dengan improvisasi dialog yang nyaris kebablasan—namun justru menjadi penyeimbang di antara doa dan air mata.
Vinessa Inez mengaku banyak belajar dari karakter Aisyah. “Aisyah itu penyabar, sedangkan aku aslinya tidak,” katanya jujur. Sebuah pengakuan yang mungkin juga dirasakan sebagian penonton setelah film ini usai.
Didukung original soundtrack berjudul “Titipan Ilahi” yang dinyanyikan Evelyn Wijaya, juara Voice Hunt 2025, Dalam Sujudku menegaskan dirinya sebagai film drama keluarga yang tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak merenung—tentang kesetiaan, komunikasi, dan doa yang sering dijadikan pilihan terakhir, padahal mungkin seharusnya yang pertama.
Dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia setelah Lebaran 2026, Dalam Sujudku hadir sebagai pengingat halus namun menohok: tidak semua masalah rumah tangga selesai di meja pengadilan, sebagian justru selesai di atas sajadah. (NMC)