INVENTIF — Ada perjalanan yang ditempuh dengan langkah kaki, ada pula perjalanan yang dilalui dalam sunyi batin. Yang pertama meninggalkan jejak di tanah, sementara yang kedua meninggalkan jejak di dalam hati manusia.
Perjalanan batin itulah yang dijalani oleh Connie Constantia selama lebih dari tiga puluh tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu riuh oleh kata-kata, tetapi perlahan membentuk pemahaman tentang kehidupan, iman, dan makna keberadaan manusia.
Kini, setelah puluhan tahun menyimpannya sebagai pengalaman pribadi, ia mulai membuka kisah tersebut kepada publik melalui podcast di kanal YouTube yang sedang dikembangkannya.
“Pengalaman spiritual itu sudah saya alami sejak 30 tahun lalu. Awalnya sangat pribadi dan saya sempat menyimpannya sendiri. Tetapi saya merasa ada panggilan untuk membagikannya kepada orang lain,” tuturnya saat ditemui dibilangan Jakarta Selatan.
Keputusan itu lahir bukan sekadar dari keinginan berbagi cerita, melainkan dari keyakinan bahwa setiap perjalanan batin manusia mungkin dapat menjadi cermin bagi orang lain yang sedang mencari arah.
Sebab dalam hidup, manusia sering berjalan jauh ke luar dirinya—mencari makna di berbagai tempat—padahal jawaban kadang bersemayam di ruang paling sunyi dalam hati.
Sejatinya Al-Qur’an mengingatkan: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
— (QS. Adz-Dzariyat: 20–21)
Ayat ini seakan menegaskan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu berarti pergi jauh. Kadang ia justru dimulai dari keberanian menatap ke dalam diri sendiri.
Dari Podcast Menuju Film Dokumenter
Perjalanan panjang Connie tidak berhenti pada cerita lisan di podcast. Ia juga tengah menyiapkan sebuah film dokumenter yang akan merekam kisah hidupnya sejak masa kecil hingga pengalaman spiritual yang membentuk keyakinannya hari ini.
Saat ini proyek tersebut masih berada dalam tahap penulisan naskah. “Film ini akan menceritakan perjalanan hidup saya dari kecil sampai pengalaman spiritual yang saya alami,” ujarnya penuh kedalaman bathin.
Bagi Connie, film itu bukan sekadar karya hiburan. Ia ingin menjadikannya sebagai refleksi tentang iman, pencarian makna hidup, dan bagaimana manusia perlahan memahami keberadaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.
Dalam tradisi spiritual mana pun, pencarian seperti ini bukanlah hal baru. Para ulama dan orang-orang bijak sejak dahulu memahami bahwa iman bukan hanya warisan, melainkan juga perjalanan.
Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan tentang pentingnya kesadaran batin dalam hidup manusia:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” — (HR. Muslim)
Hadis ini seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual sejatinya tidak diukur dari penampilan luar, tetapi dari kejujuran hati dan kesungguhan manusia dalam mencari kebenaran.
Tentang Bangsa dan Kesadaran Diri
Dalam perbincangannya, Connie juga menyinggung sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: kecenderungan untuk lebih mengagumi karya luar negeri dibanding potensi anak bangsa sendiri.
Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki talenta dan kualitas yang tidak kalah besar.
“Bangsa kita sebenarnya punya kualitas dan potensi besar. Tapi sering kali ruang untuk anak bangsa sendiri justru terbatas,” katanya.
Pandangan itu mengandung pesan yang lebih dalam: bahwa kesadaran spiritual tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghargai sesamanya.
Satu Cinta dalam Keberagaman
Pesan yang paling kuat dari perjalanan spiritual Connie adalah gagasan tentang persatuan antariman. Ia percaya bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih luas tentang Tuhan.
“Intinya adalah satu cinta dalam keberagaman. Kita berbeda keyakinan, tetapi tetap menuju kepada Tuhan yang sama sebagai pencipta segalanya,” ujarnya.
Pandangan ini sejalan dengan pesan universal yang juga tercantum dalam Al-Qur’an:“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” — (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan undangan untuk saling memahami.
Menyusuri Cahaya dalam Diri
Tiga puluh tahun perjalanan spiritual mungkin terdengar panjang. Namun bagi mereka yang pernah menyusuri sunyi batin, waktu bukanlah ukuran utama.
Sebab pencarian makna hidup sering kali tidak memiliki garis akhir.
Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung—seperti seseorang yang berjalan di tengah malam, mengikuti cahaya kecil di kejauhan, dengan keyakinan bahwa setiap langkah mendekatkannya pada kebenaran.
Dan mungkin, di sanalah makna sejati perjalanan spiritual: bukan sekadar menemukan Tuhan, tetapi menyadari bahwa sejak awal Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah manusia. (Ncank)