Oleg Sanchabakhtiar: Saat Video Klip Bukan Lagi Sekadar Konten, Tapi Jalan Pulang Ekosistem Kreatif Indonesia

0

INVENTIF – Di sudut CC Cafe, Jakarta Selatan yang rindang, Oleg Sanchabakhtiar berbicara tanpa naskah. Kalimatnya mengalir seperti orang yang sedang membuka album foto lama.

Lalu sesekali ia tertawa, sesekali serius. Di balik rambut yang mulai memutih, tersimpan ingatan tentang masa ketika video klip musik Indonesia menjadi panggung bergengsi bagi para kreator, jauh sebelum algoritma media sosial menentukan siapa yang layak viral.

Itu catatan lama yang belum lagi usang. Kini, setelah lebih dari dua dekade vakum, Oleg memilih menyalakan kembali api yang pernah hampir padam.

“Orang sekarang mengenal lagu lewat YouTube, TikTok, atau Spotify. Tapi yang sering dilihat hanya penyanyinya. Padahal di belakang satu video musik ada puluhan profesi yang bekerja,” ujar Oleg kepada CC Cafe. Kali ini raut wajahnya serius.

Sejatinya, nama Oleg bukan wajah baru di industri kreatif. Pendiri Planet Design Indonesia ini pernah mengoleksi ratusan penghargaan nasional maupun internasional sebagai sutradara, art director, lighting designer, hingga kamerawan video musik.

Daya kreativitasnya bukan kaleng-kaleng. Oleg adalah Creative Director & Art Director “Special Concert” : Shanty, Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Titi Dj, Maher Zein, Nidji, Afgan, Tulus, Maliq & D’essential, Naif, Jamie Cullum

Lalu ada juga: Anggun, David Foster & Friends, Sting & Chris Botti The Cranberries, Thirty Second to Mars, Slank, Trio Lestari, Santana. Belum lagi: Ebiet G. Ade & Gus Mus, Sheila on 7, Yovie, Budjana, Agnez MO, Marcell, God Bless, Kahitna, Gigi, Krakatau, Iwan Fals. Keren banget kan!

Beruntungnya. ia tumbuh bersama era emas video klip Indonesia. Oleg satu generasi dengan nama-nama kondang seperti Rizal Mantovani dan Dimas Djayadiningrat.

Baginya, video musik bukan sekadar visual pengiring lagu. “Video musik itu ekosistem. Ada kameramen, editor, make up artist, wardrobe, stylist, art director, properti, lighting, sampai rental alat. Semua hidup karena satu karya ” tandas Oleg

Menghidupkan Lagi Mimpi yang Tertidur
Oleg menarik benang waktu kebelakang. Ia masih mengingat betul masa kejayaan Video Musik Indonesia (VMI) pada era 1990-an. Setiap bulan karya terbaik dipilih. Di akhir tahun digelar grand final.

Hebatnya lagi, penghargaan tidak hanya diberikan kepada penyanyi, tetapi juga seluruh kru kreatif yang bekerja di balik layar. Sayang yradisi itu berhenti pada Agustus 2002.

“Dua puluh empat tahun seperti ada ruang kosong. Padahal perkembangan teknologi justru semakin luar biasa,” sesal Oleg.

Dari kegelisahan itulah lahir Indonesian Music Video Awards, sebuah ajang yang ingin mengembalikan penghargaan kepada semua profesi kreatif.

Bukan hanya kategori Video Musik Terbaik.
Ada penghargaan untuk sutradara, editor, kameramen, lighting, art director, make up artist, wardrobe, hingga konseptor kreatif.
“Yang kita apresiasi bukan cuma siapa yang nyanyi, tapi siapa yang membuat karya itu hidup,” ungkap Oleg berapi-api.

Gen Z Punya Kamera, Tapi Jangan Jadi Superman
Di era kekinian, bagi Oleg, teknologi memang memudahkan siapa pun membuat video. Namun kemudahan sering membuat proses kreatif dilompati.

“Anak sekarang bisa jadi semuanya. Kameramen, editor, sutradara, penulis naskah sekaligus. Tapi jangan sampai jadi Superman,” cetus Oleg.

Ia tertawa sebelum melanjutkan. “Semua profesi tetap perlu dipelajari.” katanya. Karena itu setiap peserta tidak cukup hanya mengirim video. Mereka juga wajib menyertakan sinopsis, treatment, storyboard, mood board, hingga konsep visual.

“Kami tidak menilai berdasarkan suka atau tidak suka. Ada parameter yang jelas.”
Menurutnya, kreativitas lahir dari proses berpikir, bukan sekadar kemampuan mengoperasikan aplikasi. AI Boleh Pintar, Tapi Hati Tetap Milik Manusia

Tapi menariknyq, di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI), Oleg tidak memilih melawan. Ia justru mengajak para kreator berdamai dengan teknologi. “AI itu alat. Yang tidak bisa digantikan adalah hati nurani.”

Ia percaya teknologi dapat membantu membuat musik, menulis lirik, bahkan menyusun video. Namun ide, rasa, dan kejujuran tetap berasal dari manusia. “Kita punya dua mata untuk melihat. Tapi kita juga punya mata hati ,” tandas pendiri & pemilik Planet Design Indonesia, Jakarta.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun di dunia kreatif, justru itulah pembeda antara karya yang hanya viral dan karya yang bertahan puluhan tahun.

Bukan Cari Uang, Tapi Cari Pengalaman
Tidak cukup disitu. Yang menarik, kompetisi ini gratis. Peserta hanya perlu mengunggah karya melalui platform resmi. Hadiahnya pun tidak selalu uang tunai.

“Kami ingin hadiah yang lebih bermanfaat buat anak-anak muda. Bisa gadget, otomotif, atau bentuk apresiasi lain yang mendukung mereka berkarya,” tandas pendiri & pemilik Planet Visual International Ltd, singapore.

Target besarnya bukan sekadar mencari pemenang. Tetapi menyiapkan regenerasi kreator Indonesia lima hingga sepuluh tahun ke depan. “Sekarang sudah banyak sekolah dan kampus yang membuka jurusan film, broadcasting, sampai desain. Mereka harus tahu kalau ini bukan hobi lagi. Ini profesi.”

Mimpi yang Ingin Dibawa Mendunia
Bagi Oleg, panggung nasional hanyalah awal. Karya-karya terbaik yang memenuhi standar internasional akan diproyeksikan mengikuti ajang dunia.

“Kalau kualitasnya layak, kenapa tidak kita bawa ke luar negeri?” tanyanya?

Oleg Sanchabakhtiar optimistis Indonesia memiliki talenta yang mampu bersaing. Yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk diapresiasi.

Sore mulai berganti malam ketika obrolan di CC Cafe berakhir. Oleg yang sedang beradaftasi dengan kelansiaannya itu masih menyimpan semangat yang sama seperti tiga dekade lalu—semangat yang percaya bahwa sebuah video musik bukan hanya tentang jutaan penonton atau angka trending. Sebuah kredo yang mungkin terdengar usang bagi anak-anak kekinian.

Lebih dari itu, ia ingin mengingatkan bahwa di balik setiap frame, ada mimpi, kerja keras, dan puluhan profesi yang layak mendapat tepuk tangan.

Dan mungkin, bagi Generasi Z yang tumbuh bersama kamera di genggaman, inilah saatnya membuktikan bahwa kreativitas bukan hanya soal membuat konten, melainkan juga tentang membangun warisan bagi ekosistem kreatif Indonesia.

Oleg Sanchabahktiar menghebuskan nafasnya dalam-dalam seolah memastikan bahwa daya kreativitas tak boleh tergusur oleh kecanggihan AI sekalipun. Lalu ia melangkah pelan seraya mengingat  potongan-potongan film The Last Samurai yang diaktori Tom Cruise.

Leave A Reply

Your email address will not be published.