Ekspor Beras, Tapi Rak Dalam Negeri Kosong

0

INVENTIF – Pemerintah mengaku bangga jika Indonesia ekspor beras ke Malaysia. 1.000 ton. Katanya surplus.

Tapi di ritel modern hari ini, rak beras premium justru kosong. Yang ada malah label harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET)

Data Akademika Center per 18 Agustus 2026 menunjukkan situasinya sudah tidak masuk logika.

Di Zona-1, rata-rata harga beras premium sudah Rp15.404 padahal HET-nya Rp14.900. Lalu di Zona-2: Rp16.713 padahal HET-nya Rp15.400. Di Zona-3 Rp19.261 padahal HET-nya Rp15.800.

Beras medium juga sama. Zona-1 Rp13.995 padahal HET-nya Rp 13.500. Zona-2 Rp14.678 vs HET Rp 14.000. Zona-3 Rp17.024 padahal HET-nya Rp 15.500.

Masalahnya, beras premium langka, beras medium tidak. Kenapa? Karena beras premium dijual kemasan di ritel modern yang diawasi ketat. Sedangkan beras medium dijual curah di pasar tradisional. Penegakannya longgar. Jadi meskipun mahal, barangnya tetap ada.

Produsen dan distributor sedang dijepit. Harga gabah di lapangan sudah Rp8.000/kg tapi harga pembelian Pemerintah cuma Rp 6.500.

Kalau jual sesuai HET, rugi. Kalau jual di atas HET, takut ditangkap karena HET “mengikat”.

Akibatnya apa? Produksi beras premium ditekan. Distribusi dikurangi. Mereka lari ke “beras khusus” yang tidak kena aturan HET. Makanya beras khusus sekarang melimpah di ritel modern. Beras premiumnya yang hilang.

“Ini dilema. Aturan dibuat untuk melindungi konsumen, tapi malah bikin barangnya lenyap dari pasaran,” ujar Direktur Akademika, Edy Priyono di Jakarta, Kamis (20/8).

Padahal, tepat di HUT ke-81 RI, Kementerian Pertanian mengumumkan ekspor beras ke Malaysia. Sebelumnya sudah ke Palestina dan Mesir. Alasannya: surplus produksi.

Tapi faktanya, di dalam negeri rakyat antre dan bayar lebih mahal. Atau tidak dapat sama sekali.

Ini bukan kali pertama. Setiap kali harga gabah naik, polanya sama: HET dipertahankan, stok ditarik, kelangkaan terjadi.

Akademika, ujar Edy menyarankan dua langkah cepat yakni:

1. Lepas stok Bulog. Cadangan beras pemerintah diklaim 5,2 juta ton. Sebagian harus segera digelontorkan ke ritel modern untuk isi kekosongan beras premium. Jangan disimpan buat pencitraan.
2. Relaksasi HET untuk beras premium. Tidak akan langsung menurunkan harga. Tapi setidaknya produsen mau produksi lagi dan barangnya kembali ke rak. Daripada ada HET tapi barangnya zonk.

“Alih-alih mengejar prestasi ekspor, pemerintah sebaiknya beri perhatian lebih besar untuk stabilisasi harga di dalam negeri,” ucap Edy Priyono.

Ekspor 1.000 ton ke Malaysia memang terdengar hebat. Tapi kalau di dalam negeri harga jebol dan stok kosong, itu bukan prestasi. Itu blunder kebijakan.

HET yang kaku di tengah harga gabah Rp8.000 hanya melahirkan dua hal, pasar gelap dan rak kosong.

Pemerintah harus pilih: mau jaga harga di atas kertas, atau jaga beras tetap ada di meja rakyat? (RNZ)

Leave A Reply

Your email address will not be published.