FFW 2025, Ketika Wartawan Menilai Sineas, dan Sineas Menjadi Berita

0

INVENTIF— Di negeri di mana kamera sering lebih jujur dari politisi, Festival Film Wartawan (FFW) 2025 kembali digelar dengan segala kemegahan, tepuk tangan, dan tentu saja — naskah pidato yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Malam itu, di Lagoon The Sultan Hotel, para insan film dan insan berita bertemu dalam satu ruangan ber-AC, di mana aroma parfum mahal bersaing dengan ke-kepoan pers dan semangat idealisme yang mulai langka.

Di ujung acara, Fadli Zon, yang malam itu berperan ganda sebagai Menteri Kebudayaan sekaligus penyair dadakan, naik ke podium dengan penuh kharisma. “Film bukan sekadar hiburan,” katanya dengan nada bergetar, “tetapi alat perjuangan.”Para tamu mengangguk-angguk. Sebagian karena terharu, sebagian ya menganguk saja.

Fadli lalu menyebut nama Usmar Ismail, sang wartawan pejuang, seolah nama itu adalah mantra yang bisa membangkitkan kembali zaman ketika film masih hitam-putih, tapi semangatnya berwarna merah-putih.

“Wartawan dan pekerja film sama-sama menulis realitas,” tambahnya. Pernyataan yang membuat beberapa wartawan di pojok ruangan saling berpandangan. Mungkin mereka beerpikir : “Realitas siapa dulu, nih?”

Di tengah cahaya lampu sorot, ternyata Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, hadir menambah nuansa internasional. Ia tersenyum, bertepuk tangan, dan mungkin dalam hati bertanya-tanya: Apakah ‘Santet Segoro Pitu’ ini film dokumenter? Sedangkan wartawan usil menduga-duga : ” Jangan-jangan Pak Presiden kalau sudah pensiun mau jadi produser film?

Malam penghargaan itu memang penuh kejutan. Dari genre horor yang menakuti hingga genre komedi yang menertawakan kenyataan, semuanya berpadu dalam harmoni yang indah dan sedikit absurd — seperti kehidupan di negeri ini.
Film “Santet Segoro Pitu” meraih Film Terbaik Horor, membuktikan bahwa horor paling efektif memang datang dari naskah yang terlalu dekat dengan kenyataan.

Sementara itu, “Tinggal Meninggal” memenangi kategori Komedi. Judul yang seolah jadi sindiran halus pada kondisi perfilman kita: masih hidup, tapi kadang terasa meninggal.

Di kategori drama, “Sore: Istri Dari Masa Depan” menang besar. Sebuah kisah yang, kata juri, “mendalam dan penuh refleksi.” Mungkin karena di masa depan, istri memang perlu menunggu lebih lama dari yang dijanjikan.

Dan ketika Christine Hakim menerima Anugerah Pengabdian Seumur Hidup, tepuk tangan membahana — bukan hanya untuk karier panjangnya, tapi juga karena masih ada tokoh yang tetap hidup di tengah zaman konten 15 detik.

Sementara Ipik Tanoyo, jurnalis senior yang juga menerima penghargaan seumur hidup di bidang pers, menjadi pengingat bahwa kata bisa setajam kamera — selama tidak melulu dipakai untuk menulis siaran pers.

Di penghujung malam, semua berfoto bersama, tersenyum lebar, dan mengangkat piala. Di luar, wartawan masih menulis, sineas masih berjuang, dan penonton masih berharap: semoga film Indonesia terus hidup — meski kadang harus “tinggal meninggal” dulu untuk diapresiasi. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.