Horor Komedi, Anak Haram Marketing Perfilman Nasional?
INVENTIF – “Jerit hantu kini tak cukup menakuti penonton. Industri meminta lebih: tawa, sensasi, keramaian media sosial, dan antrean tiket yang panjang. Maka lahirlah film-film yang bahkan bingung menentukan dirinya sendiri—horor atau badut pasar malam.”
Ya, di negeri yang gemar menjual ketakutan dalam bungkus popcorn, horor kini tak lagi cukup hanya menghadirkan pocong bergelantungan atau kuntilanak berambut kusut yang muncul dari balik lemari.
Industri film kita telah menemukan mantra baru yang lebih ampuh dari doa-doa paranormal televisi tengah malam: “horor komedi.” Sebuah istilah yang terdengar seperti warung tenda menjual sate kambing bercampur es krim—aneh, tapi tetap laris karena publik telanjur lapar hiburan.
Kegelisahan soal kategori abu-abu itulah yang dibedah dalam Festival Film Horor (FFH) Edisi Ke-6 bertema “Horor Komedi, Seram-Seram Ngakak” di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (13/05).
Festival yang digagas dua jurnalis senior ( Haris Jauhari dan Ncank Mail) itu kembali menghadirkan diskusi, seolah mencoba menyadarkan bahwa perfilman nasional sedang berdiri di persimpangan antara kreativitas dan dagangan pasar malam.Hadir dalam forum tersebut Arismuda Setiawan selaku produser, Vindri Moe sebagai astrada, Novriansyah pengamat sekaligus jurnalis film senior, dengan moderator Nuty Laraswaty.

Mereka berbicara bukan sekadar tentang hantu yang bikin tertawa, tetapi tentang bagaimana industri film perlahan kehilangan keberanian untuk jujur pada identitas karyanya sendiri.
Diskusi dimulai dari keresahan sederhana namun memalukan: para juri festival sering kebingungan menentukan sebuah film masuk kategori horor atau komedi. Perdebatan bisa panjang, melelahkan, dan absurd, hingga akhirnya para juri harus bertanya langsung kepada pembuat filmnya. Ironis sekali—film dibuat oleh sineas, tetapi identitas genrenya justru seperti anak hilang yang tak dikenali orang tuanya sendiri.
Novriansyah menilai kategori film sejatinya tegas dan tidak bermain di wilayah abu-abu. Baginya, semua film bisa saja memancing tawa, bahkan film paling tragis sekalipun. Ia mencontohkan film-film horor lawas Suzanna yang kerap menyisipkan komedian Betawi untuk mencairkan suasana. Penonton tertawa, tetapi filmnya tetap horor. Tidak mendadak berubah menjadi “komedi horor,” sebagaimana warung nasi tidak otomatis menjadi toko parfum hanya karena memasang pengharum ruangan.
Namun zaman berubah. Industri kini tampak lebih sibuk menyusun strategi dagang ketimbang merawat ketegasan artistik. Arismuda bahkan secara jujur mengatakan kategori “horor komedi” sejatinya tidak ada. Istilah itu, katanya, hanyalah bahasa marketing agar film bisa meraup penonton dari dua kubu sekaligus: pecinta horor dan pemburu lawakan receh.
Sebuah pengakuan yang terdengar getir, sebab ia menampar wajah industri sendiri. Film bukan lagi karya yang mencari penonton, melainkan umpan yang dilempar ke kolam algoritma bioskop. Yang penting ramai, viral, dan tiket terbakar. Soal kualitas? Itu urusan nanti, atau mungkin tidak pernah dianggap penting sama sekali.
Arismuda pun menyarankan agar publik tidak mudah terjebak pada bahasa promosi rumah produksi. Menurutnya, masyarakat perlu melihat nilai keekonomian di balik label genre yang dipasang. Sebab di negeri ini, kategori film sering kali ditentukan bukan oleh ruh cerita, melainkan oleh hitung-hitungan jumlah kursi bioskop yang harus terisi.
Vindri Moe menambahkan bahwa kategori film sebenarnya sudah ditentukan sejak penulisan skenario dan tak berubah hingga film selesai diproduksi. Yang sering menjadi persoalan justru pemaksaan adegan tertentu demi memenuhi selera pasar.
Ketika produser merasa penonton harus tertawa, maka muncullah dialog dipaksakan, adegan slapstick yang disisipkan seperti iklan pinjaman online di tengah khutbah Jumat.
Baginya, penyebutan horor komedi sah saja selama dibangun organik dari skenario, bukan hasil tambal sulam demi mengejar tren. Sebab terlalu banyak film kini terasa seperti mie instan kebanyakan air: hambar, encer, tetapi tetap dijual dengan poster mencolok dan trailer penuh tipuan.
Dalam sesi forum, muncul pertanyaan mengenai apakah ada presentase tertentu untuk menentukan film horor komedi. Ketiga pembicara kompak menjawab tidak ada. Semua ditentukan produser. Bahkan bila 75 persen isi film adalah lawakan, selama produser menulisnya sebagai horor, maka bioskop dan platform distribusi akan tetap menjualnya sebagai horor.

Di titik inilah wajah kusut perfilman nasional mulai terlihat terang-benderang.
Genre bukan lagi wilayah estetik, melainkan alat dagang. Bioskop bukan lagi rumah kebudayaan, tetapi etalase pusat perbelanjaan yang rak-raknya dikuasai kelompok tertentu.
Distribusi film nasional pun masih amburadul, penuh aroma monopoli studio besar yang menentukan film mana hidup dan mana mati sebelum sempat bertemu penonton. Film independen sering dipaksa jadi pengemis jam tayang, sementara film bermodal besar mendapat karpet merah bahkan sebelum kualitasnya diuji.
Lebih menyedihkan lagi, organisasi-organisasi perfilman yang mestinya menjadi benteng ekosistem justru tampak seperti penonton bisu di bangku paling belakang. Mereka hadir dalam struktur, tetapi nyaris tak terdengar suaranya ketika distribusi dikuasai segelintir pemain. GPBSI yang seharusnya menjadi penjaga keseimbangan jaringan bioskop malah terlihat mandul menghadapi praktik yang kian menyerupai kartel modern bercita rasa popcorn karamel.
Akibatnya, film nasional berjalan pincang. Kreativitas dipaksa tunduk pada hitungan pasar, sementara sineas muda harus berjuang di lorong gelap distribusi yang lebih menyeramkan daripada setan dalam film-film mereka sendiri.
Menjelang penutupan diskusi, seluruh pembicara sepakat bahwa film sesungguhnya memiliki kategori yang tegas dan tidak seharusnya bermain di wilayah abu-abu yang membingungkan penonton. Penyebutan horor komedi, drama komedi, atau drama horor lebih banyak merupakan strategi pemasaran untuk memperluas pasar.
Dan begitulah nasib perfilman kita hari ini: ketakutan dijual sebagai hiburan, tawa dijadikan umpan, sementara industri sibuk berdandan di depan cermin box office yang retaknya semakin sulit disembunyikan. (Iss)