Para Perasuk Menyala di Tengah Gelombang Horor Indonesia, Anggun dan Aming Menjelma di FFH Ke-6

0

INVENTIF – Di ranah coklat yang gemar menyimpan takut di balik tirai bioskop, film horor kini bukan lagi sekadar hiburan pengusir malam panjang.

Genre ini telah berubah menjadi denyut industri, menjadi komoditas sekaligus cermin kegelisahan sosial yang terus dipanen layar lebar Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, tren film horor terus menanjak dengan capaian penonton yang signifikan.

Judul-judul horor silih berganti memenuhi bioskop nasional, bahkan berkali-kali menembus jutaan penonton dan mendominasi daftar film terlaris. Penonton Indonesia tampaknya semakin akrab dengan aroma dupa, lorong gelap, kutukan keluarga, hingga jerit perempuan yang dipelintir trauma.

Di tengah gelombang itu, Festival Film Horor (FFH) edisi ke-6 kembali hadir seperti ritual bulanan yang digelar setiap tanggal 13—tanggal yang bagi sebagian orang hanya angka, tetapi bagi pecinta horor adalah pertanda. Dari berbagai film yang menghantui bioskop sepanjang April, lewat perdebatan paanjang,  FFH akhirnya menetapkan karya dan insan perfilman terbaik bulan ini.

Film Para Perasuk dinobatkan sebagai film terpilih karena nilai ke-Indonesiaannya yang nyata. Sementara itu, Anggun C Sasmi dan Aming masing-masing bersinar sebagai pemeran wanita dan pria terbaik. Nama lain yang turut mendapat penghormatan ialah Joko Anwar sebagai sutradara terpilih dan Indra Suryadi sebagai Director of Photography (DoP) terbaik bulan ini.

Sepanjang April, bioskop nasional dipenuhi berbagai judul horor seperti Aku Harus Mati, Ghost in The Cell, Warung Pocong, Tiba-Tiba Setan, hingga Para Perasuk – yang tidak diakui produsernya sebagai film horor, meski unsur klenik sangat nyata tervisual. Setelah melalui diskusi panjang dan penilaian mendalam, dewan juri FFH akhirnya menjatuhkan pilihan kepada nama-nama tersebut.

Dewan juri FFH sendiri bukan sekadar penonton yang datang membawa selera pribadi. Mereka terdiri dari wartawan serta pengamat film yang aktif mengikuti perkembangan perfilman nasional, khususnya genre horor yang kini tumbuh bak hutan gelap yang terus meluas. Karena itu, penilaian dilakukan dengan ukuran yang ketat: atmosfer, kekuatan cerita, keberanian artistik, hingga identitas budaya yang dibawa film tersebut.

Ketua Dewan Juri FFH, Ncank Mail, menegaskan bahwa keputusan diambil bukan atas dasar suka atau tidak suka semata.“Film ini terasa sangat Indonesia. Unsur budaya yang diangkat begitu kuat dibanding film lain yang tayang bulan ini,” ujarnya mengenai Para Perasuk.

Di tangan film itu, horor tidak sekadar menjadi suara pintu berderit atau tubuh kerasukan yang menggeliat patah. Ia menjelma sebagai ruang budaya: tentang kepercayaan, trauma kolektif, dan ketakutan yang tumbuh dari akar tradisi sendiri.

Meski demikian, Ghost in The Cell sempat menjadi pesaing kuat. Film tersebut dinilai memiliki kualitas produksi bertaraf internasional dan keberanian menghadirkan kritik sosial yang tajam. Namun, menurut dewan juri, film itu belum cukup dalam menggali identitas budaya Indonesia. Keindonesiaannya kurang terasa pas.

Salah satu sorotan terbesar malam itu tertuju pada Anggun C Sasmi. Sosok yang selama ini dikenal sebagai diva internasional itu berhasil meninggalkan bayang-bayang panggung musik dan tampil total sebagai guru para perasuk yang misterius, dingin, sekaligus rapuh oleh tekanan batin.

“Penonton dibuat lupa bahwa itu Anggun sang diva. Karakternya benar-benar hidup. Kita gak melihat kebiduan Anggun disitu. Ia mampu meminjam roh dan tubuhnya untuk tokoh yang ia perabkan. Kereen..,” kata NcankMail.

Sementara itu, Aming juga menemukan wajah baru dalam Ghost in The Cell. Selama ini publik mengenalnya lewat karakter komedi yang absurd dan jenaka serta agak melambai, namun kali ini ia tampil garang sebagai kriminal penjara yang menebar ancaman.

Karakter berjuluk “Tokek” yang diperankannya disebut mampu meninggalkan rasa tidak nyaman yang panjang di kepala penonton—seperti suara cecak di dinding rumah tua yang tak berhenti berbunyi menjelang tengah malam.

Untuk kategori tata visual, Indra Suryadi dipilih sebagai DoP terbaik berkat kepiawaiannya membangun suasana mencekam dalam The Bell: Panggilan untuk Mati. Tata gambar film itu dinilai mampu merawat ketegangan tanpa kehilangan daya hibur, menghadirkan rasa takut yang tidak hanya muncul dari hantu, tetapi juga dari kesunyian.

Di sisi lain, FFH juga memberi perhatian khusus kepada film pendek Allegory of a Woman, film yang mengangkat isu kekerasan digital dan revenge porn terhadap perempuan. Di tengah industri horor yang sering sibuk menjual tubuh perempuan sebagai alat kejut, film ini justru datang membawa luka yang terasa nyata.

Film tersebut mengisahkan Sania, seorang perempuan yang menjadi korban penyebaran konten pribadi oleh kekasihnya sendiri. Saat mencoba mencari keadilan, ia malah berhadapan dengan sistem hukum yang belum sepenuhnya berpihak kepada korban. Ancaman, stigma sosial, dan tekanan terus menghantuinya, sementara pelaku masih bebas berkeliaran seolah rasa malu hanya diwajibkan bagi korban.

Sania digambarkan menanggung trauma hampir seorang diri, ditemani ibunya yang menjadi satu-satunya tempat berteduh. Dari sana, film ini tumbuh menjadi kritik sosial tentang rapuhnya perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis digital.

Menurut narasumber Salwa, Allegory of a Woman juga mendapat perhatian di berbagai festival internasional. Film tersebut masuk nominasi sekaligus diputar dalam Borderless Film Festival di Boston, Amerika Serikat. Selain itu, film itu juga tayang di festival film Outloud di Dallas dan berhasil masuk nominasi film favorit pilihan penonton setelah memperoleh voting tertinggi dari sekitar 3.000 film dari berbagai negara.

Menimpali keterangan, Ketua FFH, Chandra NZ berharap FFH terus menjadi ruang apresiasi sekaligus kompas bagi sineas Indonesia untuk melahirkan film-film horor yang tidak hanya menyeramkan, tetapi juga memiliki keberanian artistik dan akar budaya yang kuat.

Sebab di Indonesia, horor bukan cuma soal hantu. Kadang ia adalah wajah masyarakat sendiri—yang diam-diam lebih menyeramkan daripada makhluk gaib mana pun. (Iss)

Leave A Reply

Your email address will not be published.