Haji 2026, Antara Doa, Kuota, dan Tanda Tangan yang Disucikan
INVENTIF— Di tengah udara panas dan kamera yang berderet rapi, dua menteri berjabat tangan.
Satu dari Jakarta, satu dari Riyadh. Keduanya tersenyum, seolah semua persoalan haji — dari antrean visa, tenda sempit, hingga antrean toilet — bisa selesai hanya dengan sebuah pena dan selembar MoU yang harum tinta diplomasi.
Ya, inilah kabar gembira yang disiarkan dengan penuh khidmat:
“Indonesia dan Arab Saudi berkomitmen menyukseskan haji 1447H/2026M.”
Kalimat itu terdengar seperti doa yang sudah lama diulang, dengan semangat baru, meski masalahnya tetap yang lama.
Menteri Haji dan Umrah RI Mochammad Irfan Yusuf, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Irfan, menyampaikan kabar ini dari Konferensi dan Pameran Haji ke-5 di Jeddah, Selasa (11/11/2025). Dengan penuh keyakinan, beliau menegaskan bahwa keberhasilan haji Indonesia adalah keberhasilan Saudi juga.
Tentu, pernyataan itu terdengar indah — bahkan mungkin terlalu indah untuk ukuran antrean panjang di Mina dan bus yang sering datang setelah subuh.
“Kerja sama penuh, dukungan penuh, dan komitmen penuh,” ujar Gus Irfan,yang tampak yakin bahwa semua kepenuhan itu akan berujung pada kepuasan jamaah.
Sementara di tanah air, para calon jamaah mungkin sedang sibuk menghitung tabungan, sambil bertanya-tanya:
“Apakah tahun depan saya termasuk dalam kuota suci itu, atau masih harus menunggu giliran di 2050?”
Antara Istitā‘ah dan Istirahat
Salah satu poin penting dari pertemuan ini adalah tentang istitā‘ah kesehatan jamaah, istilah Arab yang berarti “kemampuan fisik untuk berhaji”. Sebuah konsep luhur yang di lapangan sering diterjemahkan menjadi: “kalau kuat, berangkat; kalau tidak, semoga masih hidup tahun depan.”
Diskusi juga menyinggung soal Dam — denda ibadah yang tentu terdengar lebih manis daripada “sanksi.”
Karena di dunia haji modern, bahkan kesalahan spiritual pun kini punya harga resmi dalam riyal.
Kuota, Komitmen, dan Kenyataan
Indonesia disebut akan mendapatkan kuota 221.000 jamaah untuk musim haji 2026.
Angka yang selalu diucapkan dengan nada optimistis, meski setiap tahunnya masih saja ada calon jamaah yang kehilangan tiket surga di tangan biro travel nakal.
Tapi jangan khawatir, MoU sudah ditandatangani — artinya segalanya aman, setidaknya di atas kertas.
Mungkin di balik setiap MoU haji, tersimpan filosofi diplomatik yang halus:
“Tanda tangan lebih cepat dari antrean jamaah.”
Doa di Balik Diplomasi
Gus Irfan menyebut, kerja sama ini mencerminkan dukungan penuh Arab Saudi dalam memastikan kesuksesan ibadah haji Indonesia.Kita tentu berterima kasih — sebab di era globalisasi, kesalehan pun butuh nota kesepahaman.
Namun, di tengah kalimat resmi dan pose formal, kita tahu bahwa ibadah haji bukan hanya soal diplomasi lintas negara, tapi juga soal sabar lintas waktu. Dan kalau pun tahun ini semuanya berjalan mulus, umat akan tetap berdoa — bukan hanya untuk kelancaran haji, tapi juga agar MoU tidak berhenti di meja konferensi.
Karena di negeri ini, dari urusan beras sampai berangkat ke Baitullah, selalu dimulai dengan tanda tangan — dan diakhiri dengan doa panjang.(NMC)