Muharam dan Negeri yang Selalu Mencari Jalan Pulang
INVENTIF— Setiap pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu datang tanpa letusan kembang api, tanpa konser musik yang memekakkan telinga, dan tanpa hitung mundur yang disiarkan hingga larut malam.
Muharam hadir lebih seperti bisikan: mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara manusia sering kali masih sibuk berdebat tentang arah jalan yang seharusnya ditempuh.
Di tengah negeri yang kadang lebih gemar memperdebatkan simbol daripada memperjuangkan substansi, Kementerian Agama meluncurkan gerakan nasional Peaceful Muharam 1448 Hijriah.
Ini sebuah rangkaian 16 program yang mencoba mengajak masyarakat mengingat kembali bahwa agama tidak hanya hidup di mimbar, melainkan juga di jalan-jalan kampung, di rumah anak yatim, di masjid yang perlu dibersihkan, dan di dapur keluarga yang sedang berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup.
Peluncuran program dilakukan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam kegiatan Bimas Islam Talks: Peaceful Muharam 1448 H – Public Expose Kolaborasi Lembaga Filantropi Islam di Aula Utama Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa Muharam tidak boleh berhenti menjadi sekadar pergantian angka dalam kalender Islam.
“Peaceful Muharam harus menjadi ruang untuk menebar maslahat dan menguatkan umat. Karena itu seluruh program yang disiapkan diarahkan agar memberikan dampak sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kritik halus terhadap kebiasaan lama yang sering menjadikan agama sebatas seremoni. Sebab sejarah menunjukkan, yang paling dibutuhkan masyarakat bukanlah lomba memperbanyak spanduk religius, melainkan memperbanyak manfaat yang benar-benar dapat dirasakan.
Mengusung tema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat“, Kemenag menyiapkan berbagai kegiatan yang menyentuh beragam kelompok masyarakat. Mulai dari generasi muda, keluarga, penyandang disabilitas, anak yatim, hingga komunitas masjid.
Program-program tersebut antara lain Lebaran Yatim dan Disabilitas, Gerakan Bersih-Bersih Masjid, 100.000 Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama untuk Bangsa, Muharaman Bersama Gen Z, Nikah Fest, hingga Islamic Wedding Expo.
Selain itu, akan digelar pula Festival Muharam Internasional, Indonesia Berkiblat, MILFEST 1448 H, RECONNECT, Halal Goes to Campus, serta kolaborasi dalam Halal Brands and Food Expo.
Di negeri yang sering kali mengeluhkan pudarnya kepedulian sosial, daftar program tersebut menjadi pengingat bahwa agama sesungguhnya memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan ritual. Agama berbicara tentang manusia, lingkungan, pendidikan, keluarga, dan keadilan sosial.
Pandangan tersebut sejalan dengan amanat konstitusi. Pasal 29 UUD 1945 menjamin kebebasan warga negara untuk menjalankan ajaran agamanya, sementara Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara untuk memajukan kesejahteraan umum. Dalam konteks itu, aktivitas keagamaan yang mendorong kepedulian sosial sejatinya menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan cita-cita kebangsaan.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, misalnya, menempatkan dana zakat sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Demikian pula Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf yang membuka ruang bagi pemanfaatan aset wakaf untuk kepentingan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.
Penyuluh Agama di Garda Terdepan
Abu Rokhmad menilai keberhasilan Peaceful Muharam tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya acara, melainkan oleh mereka yang bekerja di lapangan: para penyuluh agama.
Merekalah yang setiap hari berhadapan dengan realitas masyarakat, mulai dari persoalan keluarga, pendidikan keagamaan, hingga harmoni sosial.
Dalam banyak kesempatan, penyuluh agama menjadi saksi bahwa persoalan umat tidak selalu berupa kekurangan ceramah, melainkan kadang kekurangan pekerjaan, kekurangan akses pendidikan, atau kekurangan ruang dialog. Karena itu, keberadaan mereka menjadi jembatan penting antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata masyarakat.
Melalui jaringan penyuluh agama yang tersebar di berbagai daerah, Kemenag berharap program Peaceful Muharam tidak berhenti di ruang-ruang berpendingin udara di ibu kota, tetapi benar-benar sampai ke desa-desa, kampung-kampung, dan lingkungan masyarakat yang selama ini lebih akrab dengan persoalan hidup daripada jargon pembangunan.
Wajah Agama yang Meneduhkan
Peaceful Muharam 1448 H juga memberi perhatian pada isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari ketahanan keluarga, literasi keagamaan, kepedulian terhadap anak yatim dan penyandang disabilitas, pengembangan ekonomi umat, hingga gerakan peduli lingkungan berbasis nilai-nilai agama.
Barangkali di sinilah letak tantangan terbesar agama pada zaman modern: bukan bagaimana membuat manusia semakin pandai berbicara tentang surga, melainkan bagaimana membuat kehidupan di bumi menjadi sedikit lebih adil, sedikit lebih bersih, dan sedikit lebih manusiawi.
Abu Rokhmad menegaskan seluruh rangkaian kegiatan tersebut selaras dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menghadirkan wajah agama yang damai, inklusif, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Peaceful Muharam 1448 H diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat wajah agama yang menghadirkan kedamaian, memperluas kemanfaatan sosial, dan memperkokoh persaudaraan kebangsaan,” katanya.
Pada akhirnya, Muharam selalu datang membawa pertanyaan yang sama: apakah agama hanya akan menjadi kalender yang terus berganti angka, atau benar-benar menjadi kekuatan yang mampu mengubah keadaan?
Kementerian Agama telah menyiapkan 16 program sebagai jawaban awal. Selebihnya, masyarakatlah yang akan menentukan apakah maslahat itu benar-benar tumbuh menjadi gerakan, atau kembali menjadi deretan agenda yang selesai setelah spanduk diturunkan dan panggung dibongkar.