Kurban yang Dipotong Sebelum Disembelih, Ketika Video Lebih Dipercaya daripada Ayat”

0

INVENTIF – Di negeri yang gemar memotong kalimat lebih cepat daripada memotong kambing, kabar pun berlari lebih liar dari bau darah di pagi Iduladha.

Sebuah video, dipereteli seperti daging kurban yang belum sempat didoakan, beredar dengan judul yang lebih tajam dari pisau: seolah-olah Nasaruddin Umar melarang sembelihan dan menyuruh umat menukar darah dengan angka.

Padahal, yang terjadi bukanlah larangan—melainkan kelatahan publik yang gemar menukar konteks dengan sensasi.
Di panggung yang bernama Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026, kata-kata dilahirkan dengan maksud merapikan, bukan menguburkan. Namun di luar gedung, kata-kata itu dipereteli seperti kambing tanpa basmalah—diambil sepotong, dibuang maksudnya, lalu dijajakan sebagai kebenaran instan.

Thobib Al Asyhar pun tampil seperti tukang jagal yang mencoba meluruskan arah pisau publik: tidak ada larangan, tidak ada penghapusan. Yang ada hanya gagasan—dan di negeri ini, gagasan sering kali lebih ditakuti daripada kesalahpahaman.Sebab gagasan menuntut berpikir. Sedangkan salah paham cukup dibagikan.

Padahal, kurban bukan sekadar perkara daging yang menggantung di kaitan besi. Ia adalah gema dari perintah langit, sejak kisah Ibrahim dan Ismail ditulis dalam sejarah pengorbanan paling sunyi.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2)

Dan juga:“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat-ayat itu sederhana, tapi umat sering kali membuatnya rumit—atau lebih buruk—mengabaikannya demi potongan video berdurasi 30 detik.

Adapun tata cara kurban—yang barangkali lebih jarang viral daripada hoaks—telah lama jelas:
•Niat karena Allah, bukan karena kamera atau konten.
•Memilih hewan yang sehat dan cukup umur—bukan yang murah demi gengsi sosial.
•Disembelih pada waktu yang ditentukan (setelah salat Id hingga hari tasyrik).
•Menyebut nama Allah saat menyembelih: Bismillahi Allahu Akbar.
•Pisau tajam, tanpa menyiksa—karena bahkan pada hewan, Islam mengajarkan belas kasih.
•Distribusi daging: untuk diri, kerabat, dan terutama mereka yang jarang merasakan daging selain di hari raya.

Namun kini, tata cara itu sering kalah oleh tata cara baru: potong video → tambah judul provokatif → unggah → panen amarah.

Gagasan menyerahkan kurban ke lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional sesungguhnya bukan penggantian ibadah, melainkan bentuk lain dari ikhtiar distribusi—agar daging tidak menumpuk di satu kampung sementara kampung lain hanya mencium aromanya dari jauh.

Tetapi di negeri yang lebih percaya potongan video daripada potongan ayat, profesionalisme justru dicurigai, sementara disinformasi dipeluk seperti kebenaran yang baru turun dari langit.

Akhirnya, yang paling ironis bukanlah salah paham itu sendiri—melainkan betapa cepatnya umat tersinggung oleh isu kurban, tapi lambat memahami makna pengorbanan.

Pisau mungkin masih tajam. Hewan masih disembelih. Tapi akal sehat—barangkali—sudah lebih dulu dikurbankan. (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.