CLBK, Ketika Nostalgia Dijual Lagi, dan Penonton Diminta Percaya Bahwa Kenangan Selalu Layak Dibeli

0

INVENTIF — Di negeri yang semakin rajin mendaur ulang kenangan, cinta lama rupanya masih dianggap komoditas yang tidak pernah kedaluwarsa.

Setelah bioskop berkali-kali dijejali kisah remaja yang patah hati karena “last seen”, kini CLBK (Cinta Lama Babak Kedua) memilih menawarkan resep berbeda: romansa kakek dan nenek yang dipanaskan kembali agar terasa seperti hidangan baru.

Gagasannya memang menarik. Bahkan cukup berani. Tidak banyak film Indonesia yang menjadikan lansia sebagai tokoh utama percintaan. Namun, keberanian sebuah premis tidak otomatis melahirkan keberanian dalam bercerita.

Disutradarai Ivander Tedjasukmana, CLBK justru lebih sibuk merawat nostalgia daripada menggugatnya. Penonton diajak percaya bahwa cinta pertama selalu pantas mendapat babak kedua, seolah waktu hanya mengubah warna rambut, bukan juga cara manusia memandang hidup.

Di atas kertas, kisah Abi yang diperankan Slamet Rahardjo dan Sita yang dimainkan Widyawati memiliki semua bahan untuk menjadi drama yang menggigit. Dua mantan kekasih bertemu kembali setelah puluhan tahun, sementara cucu mereka justru sedang bersiap menikah.

Konfliknya terdengar menjanjikan.
Namun ketika layar mulai menyala, janji itu perlahan berubah menjadi perjalanan yang terlalu aman. Tidak membosankan, tetapi juga tidak cukup berani mengguncang emosi. Film ini seperti naik kereta wisata: pemandangannya indah, tetapi relnya sudah diketahui sejak awal.

Slamet Rahardjo dan Widyawati tampil luar biasa. Pengalaman mereka menyelamatkan banyak adegan yang sebenarnya biasa saja. Mereka membuktikan bahwa aktor hebat mampu menghidupkan dialog yang sederhana.

Sayangnya, kemampuan aktor tidak selalu bisa menyelamatkan naskah yang memilih bermain di wilayah nyaman. Di beberapa bagian, cerita terasa seperti sinetron yang diberi pencahayaan lebih mahal.

Kilas balik era 1970-an melalui Yusuf Mahardhika dan Gisellma Firmansyah memang memberi warna, tetapi tidak cukup untuk menghapus kesan bahwa film ini lebih mengandalkan romantisme masa lalu dibanding keberanian menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru.

Padahal perfilman adalah seni yang hidup dari kejutan. Bukan sekadar mengulang formula yang pernah berhasil.
Ironisnya, film ini berkisah tentang “kesempatan kedua”, tetapi justru tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk menemukan pengalaman sinematik yang berbeda. Hampir setiap konflik berakhir sebagaimana yang sudah diduga sejak pertengahan cerita.

Komedinya bekerja,Dramanya juga bekerja.
Romansanya pun masih bisa dinikmati.
Namun semuanya berhenti di kata “cukup.”
Tidak buruk. Tidak mengecewakan. Tetapi juga tidak istimewa. Selesai menonton, penonton mungkin tersenyum, lalu pulang tanpa membawa percakapan yang ingin terus dibahas keesokan harinya.

Dalam konferensi pers, sang sutradara mengaku naskah ini telah disimpan hampir sepuluh tahun sebelum akhirnya diproduksi. Barangkali memang ada cerita yang menunggu waktu terbaik untuk lahir. Namun ada pula cerita yang terlalu lama disimpan hingga dunia bergerak lebih cepat daripada gagasan yang dibawanya.

CLBK akhirnya menjadi potret yang menarik tentang industri film kita sendiri.
Kita sering mengatakan perfilman Indonesia sedang berkembang. Jumlah penonton terus naik, bioskop semakin ramai, investasi semakin besar.

Namun di saat yang sama, keberanian bereksperimen justru sering dikalahkan oleh keyakinan bahwa nostalgia adalah produk paling aman dijual. Karena memang begitulah hukum pasar bekerja. Risiko sering kalah oleh romantisme. Formula lebih dipercaya daripada eksplorasi.

Dan kenangan selalu dianggap lebih menguntungkan daripada keberanian menciptakan sejarah baru.

Barangkali itulah satir terbesar film ini.
Film yang berkisah tentang cinta lama justru tanpa sadar mencerminkan wajah industri yang juga sedang jatuh cinta pada masa lalunya sendiri.

Maka, CLBK layak ditonton sebagai hiburan keluarga yang hangat. Tetapi bila Anda berharap menemukan sebuah karya yang menawarkan bahasa sinema baru, atau meninggalkan bekas yang panjang setelah lampu bioskop menyala kembali, jangan berharap terlalu tinggi.

Sebab yang pulang bersama penonton bukanlah rasa takjub. Melainkan satu kalimat sederhana: “Filmnya baik-baik saja.”

Dan dalam dunia seni, “baik-baik saja” sering kali adalah cara paling halus untuk mengatakan bahwa sebuah karya gagal menjadi sesuatu yang luar biasa.(Stn)

Leave A Reply

Your email address will not be published.