Ketika Film Anak Tak Hanya Butuh Cerita, Tapi Juga Jalan Pulang Menuju Penonton

0

INVENTIF – Film anak Indonesia barangkali seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan.

Cerita sudah disiapkan, pemain sudah berdandan, kamera sudah menyala, tetapi perjalanan belum selesai. Sebab setelah film selesai dibuat, masih ada pertanyaan yang lebih rumit: siapa yang akan menontonnya, bagaimana mereka mengetahuinya, dan apakah mereka mau datang ke bioskop?

Persoalan itulah yang mengemuka dalam Diskusi Film Anak Indonesia yang digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).

Diskusi tersebut mempertemukan sejumlah pelaku industri perfilman dan kreatif untuk membicarakan perjalanan panjang film anak: dari produksi, cerita, komunikasi, distribusi, peran media, sampai keterlibatan orang tua dalam membangun kebiasaan menonton yang sehat bagi anak.

Pendiri sekaligus Direktur Avatara Lintas Media, Herty Purba, melihat film anak mempunyai medan perjuangan sendiri. Ia tidak cukup hanya memiliki cerita bagus dan produksi yang berkualitas. Film anak juga harus pandai mengetuk pintu penontonnya.

“Kalau Jumbo memang sesuatu yang luar biasa, mungkin strategi komunikasinya, supporting-nya juga luar biasa. Tapi kan nggak semuanya punya rezeki seperti itu,” kata Herty.

Dan memang, Jumbo adalah contoh bagaimana sebuah film anak bisa menemukan jalan menuju hati penonton.

Film animasi Indonesia itu bahkan mencetak sejarah dengan menembus jutaan penonton dan menjadi salah satu bukti bahwa penonton Indonesia sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan selera terhadap film anak. Yang sering hilang justru kesempatan untuk mempertemukan film dengan penontonnya.

Namun, sejarah film anak Indonesia juga tidak selalu berakhir dengan karpet merah.
Ada Petualangan Sherina yang berhasil menjadi bagian dari ingatan kolektif keluarga Indonesia. Ada pula Kulari ke Pantai yang meski tidak meledak seperti film-film box office, tetap mampu mengumpulkan ratusan ribu penonton dan memperlihatkan bahwa film keluarga memiliki ruangnya sendiri di bioskop. Koki-Koki Cilik juga mencatat sekitar 600 ribu penonton.

Tetapi di sisi lain, ada pula film-film yang datang ke bioskop dengan cerita, pemain dan harapan besar, namun harus pulang lebih cepat karena kursi penonton tak kunjung penuh. Dalam industri film, kegagalan komersial bukan selalu berarti filmnya buruk.

Bisa saja ceritanya tidak sampai kepada publik, promosinya kurang menggigit, jadwal tayangnya tidak bersahabat, atau film tersebut sekadar kalah keras oleh suara film lain yang sedang berteriak di sebelahnya.

Di situlah persoalan film anak menjadi lebih pelik. Film bisa dibuat dengan cinta, tetapi cinta saja belum tentu cukup untuk menjual tiket.

PFN Heritage dan Suara Anak-Anak yang Tidak Mau Sekadar Mendengar
Diskusi di PFN Heritage kemudian berubah menjadi ruang yang jauh dari kesan kaku. Percakapan berlangsung gayeng. Para pelajar dari dua SLTA di Jakarta Timur yang hadir tidak sekadar duduk manis menjadi pendengar.

Mereka ikut masuk ke dalam percakapan.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Menariknya, pertanyaan itu tidak datang dari sudut pandang orang dewasa yang sedang membicarakan anak-anak, melainkan dari sudut pandang mereka sendiri sebagai remaja—generasi yang kelak bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga calon pembuat film, penulis cerita, kreator konten, hingga pengambil keputusan di industri kreatif.

Mereka bertanya dengan rasa ingin tahu yang khas anak muda: tentang cerita yang dianggap menarik, alasan sebuah film bisa disukai atau justru ditinggalkan, bagaimana pembuat film memahami selera remaja, sampai bagaimana sebuah film bisa hadir dekat dengan kehidupan mereka.

Antusiasme itu membuat diskusi terasa hidup. Bukan lagi seminar satu arah, melainkan semacam percakapan antara generasi yang sedang membuat film dengan generasi yang kelak akan menentukan ke mana film Indonesia berjalan.

Selain Herty Purba, diskusi menghadirkan Ketua Umum BPI Fauzan Zidni, sutradara Upie Guava, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda, Aditya Gumay, serta Ketua Umum KFT Indonesia Indrayanto Kurniawan.

Fauzan Zidni mengapresiasi keberanian para pelajar dalam menyampaikan pandangan. “Saya sangat bersyukur hari ini bertemu dengan narasumber yang bagus-bagus dan para peserta yang hadir luar biasa. Anak-anak sekolah sangat kritis dan antusias mengikuti ini,” ujar Fauzan.

Bagi  Fauzan, forum semacam itu penting karena regenerasi perfilman tidak cukup dilakukan dengan membuat film baru. Anak-anak dan remaja perlu mengenal bagaimana sebuah film lahir, siapa saja yang bekerja di belakang kamera, bagaimana cerita dibangun, dan mengapa sebuah karya akhirnya bisa berhasil atau justru gagal menemukan penonton.

Film Anak Bukan Sekadar Film yang Pemerannya Anak-Anak


Ada kekeliruan lama yang barangkali perlu perlahan dibongkar: menganggap film anak sebagai film yang kebetulan pemerannya anak-anak. Padahal film anak jauh lebih besar dari itu.

Di dalamnya ada pendidikan karakter, pola asuh, cara anak memandang dunia, hubungan dengan orang tua, persahabatan, keberanian, rasa takut, bahkan cara seorang anak memahami dirinya sendiri.

“Kalau film anak, pasti banyak yang punya misi yang sama, bagaimana membangun karakter. Ini yang mesti dibantu untuk dikomunikasikan,” tambah Aditya Gumay.

Karena itu, film anak membutuhkan komunikasi yang cerdas. Pesan moral tidak harus datang seperti guru yang berdiri di depan papan tulis. Ia bisa menyelinap melalui humor, petualangan, konflik, persahabatan, bahkan kesedihan.

Anak-anak tidak membutuhkan film yang merasa dirinya paling tahu tentang anak-anak. Mereka membutuhkan cerita yang mau mendengarkan dunia mereka.

Antara Jumbo dan Film yang Sepi Penonton
Fenomena Jumbo seharusnya menjadi semacam alarm yang menyenangkan bagi industri. Ketika sebuah film anak digarap dengan serius, memiliki cerita yang dapat diterima lintas usia, didukung strategi komunikasi yang kuat dan hadir pada momentum yang tepat, penonton ternyata ada. Bahkan sangat banyak.

Sebaliknya, film anak yang sepi penonton juga seharusnya tidak buru-buru dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia tidak membutuhkan film anak. Sebab antara film dan penonton terdapat jembatan panjang bernama ekosistem.
Ada promosi. Ada distribusi. Ada media. Ada bioskop. Ada sekolah. Ada orang tua. Ada komunitas. Ada momentum. Dan tentu saja ada cerita.

Satu saja dari jembatan itu putus, sebuah film bisa saja berdiri sendirian di seberang sungai, melambaikan tangan kepada penonton yang sebenarnya ada—tetapi tidak pernah sampai melihatnya.

Kritik Boleh Tajam, Jangan Membunuh Sebelum Film Bernapas
juga mengingatkan media dan masyarakat agar tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis terhadap sebuah film.
Kritik, menurutnya, tetap penting. Bahkan film tanpa kritik justru akan kehilangan kesempatan untuk tumbuh. Tetapi kritik sebaiknya tidak berubah menjadi palu yang menghancurkan sebuah karya hanya dengan satu kalimat: filmnya jelek.

“Jangan melihat suatu film langsung, ‘Oh ini filmnya jelek.’ Kalau sudah kayak begitu, hancur. Padahal di balik setiap film pasti ada hal baiknya,” timpal Indrayanto Kurniawan.

Tentu saja bukan berarti semua film harus dipuji. Jika sebuah film mengandung kekerasan yang tidak perlu, memberikan contoh perilaku buruk, atau menghadirkan sesuatu yang berpotensi mengganggu perkembangan anak, kritik justru menjadi penting.

Begitu pula jika cerita terasa lemah, visual tidak bekerja, akting tidak meyakinkan, atau penyutradaraan kehilangan arah.
Namun kritik semestinya menjadi kaca, bukan palu. Film yang gagal pun dapat menjadi pelajaran. Film yang sukses juga tidak selalu sempurna.

“Barangkali itulah pekerjaan rumah terbesar film anak Indonesia hari ini: bukan sekadar membuat lebih banyak film, melainkan menciptakan ekosistem yang memungkinkan film-film tersebut tumbuh, menemukan penonton dan berbicara dengan generasinya,” cetus sutradara  Pelangi di Mars, Upie Guava

Sebab anak-anak Indonesia bukan kekurangan imajinasi. Mereka hanya membutuhkan lebih banyak cerita yang mau datang menemui mereka.

Dan seperti yang diperlihatkan antusiasme para pelajar dalam diskusi di PFN Heritage, ketika mereka diberi ruang untuk bicara, ternyata suara mereka tidak kecil-kecil amat.Mereka punya pertanyaan.
Mereka punya pendapat.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, di antara mereka sedang duduk calon sutradara, penulis skenario, animator, kritikus, produser—atau bahkan orang yang suatu hari akan membuat film anak Indonesia berikutnya.

Tinggal satu pertanyaan: apakah industri film kita bersedia mendengarkan?

Leave A Reply

Your email address will not be published.