Mencoba Membaca Negeri Tercinta Lewat Tarot Master Tarot Koh Antonie, Ketika Indonesia Dinilai Sedang Tidak Baik-Baik Saja
INVENTIF – Di tengah riuh kabar tentang korupsi, kegaduhan politik, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara, sebagian orang mencoba membaca angka, data, atau survei. Namun, sebagian lainnya mencari jawaban lewat jalan yang lebih sunyi: intuisi.
Di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Barat, Master Tarot Koh Antonie menerima kami dengan tenang. Di hadapannya terbentang setumpuk kartu tarot yang baginya bukan alat meramal nasib secara mutlak, melainkan medium untuk membaca energi, kecenderungan, dan kemungkinan yang sedang bergerak.
Dunia tarot sendiri bukanlah sekadar permainan mistik seperti yang kerap dipersepsikan masyarakat. Nama-nama besar seperti Alejandro Jodorowsky, sineas sekaligus pakar Tarot de Marseille asal Prancis-Cile, maupun Rachel Pollack, penulis legendaris Seventy-Eight Degrees of Wisdom, memandang tarot sebagai bahasa simbol yang membantu manusia memahami dinamika psikologis dan sosial.
Sementara Mary K. Greer, salah satu tokoh tarot modern dunia, menilai bahwa tarot lebih banyak berbicara tentang pilihan dan kesadaran, bukan kepastian masa depan.
Berangkat dari sudut pandang itulah Koh Antonie membaca situasi Indonesia hari ini.
Menurutnya, keresahan masyarakat bukan muncul tanpa sebab. Kasus-kasus korupsi yang terus bermunculan membuat kepercayaan publik perlahan terkikis.
“Kalau saya melihat secara batin, Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Yang membuat rakyat resah bukan hanya karena ada korupsi, tetapi karena korupsi seperti menemukan ruang untuk tumbuh,” tandas Koh Antonie.
Namun, ia menegaskan bahwa akar persoalannya bukan semata-mata terletak pada watak individu. “Orangnya belum tentu lahir sebagai koruptor. Yang lebih berbahaya adalah keadaan yang memungkinkan seseorang tergoda. Ketika sistem longgar, pengawasan lemah, dan hukum tidak berdiri tegak, kesempatan itu menjadi pintu masuk,” ungkap Koh Antonie
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang tua yang melarang anak keluar rumah, tetapi membiarkan pintu terbuka tanpa pengawasan.
“Larangannya ada, tetapi penjagaannya tidak ada. Akhirnya anak tetap keluar. Begitu juga negara. Aturannya mungkin sudah dibuat, tetapi ketika tidak dijaga, orang akan mencari jalan lain,” Koh Antonie mengurainya lebih jauh.
Bagi Koh Antonie, yang ia sebut sebagai “keadaan” sesungguhnya adalah gabungan antara lemahnya sistem, kurangnya ketegasan hukum, dan adanya celah yang justru memberi perlindungan kepada pelaku penyimpangan.
“Seharusnya sistem menangkap pelaku kejahatan. Yang sering terlihat justru sebaliknya, celah-celah itu malah dimanfaatkan sehingga orang merasa aman melakukan pelanggaran,” jelasnya penuh sesal.

Ketika Kekuasaan Melahirkan Rasa Kebal
Menyinggung sejumlah kasus korupsi besar yang menjadi perhatian publik, Koh Antonie melihat adanya pola yang berulang. Menurutnya, seseorang yang terlalu lama berada dalam lingkaran kekuasaan dan dikelilingi fasilitas akan mudah kehilangan kewaspadaan.
“Pada titik tertentu muncul rasa kebal. Mereka merasa tidak mungkin tersentuh hukum. Perasaan aman itulah yang justru menjadi awal dari kejatuhan.” Ia menilai, ketika sebuah kasus mulai terbuka ke publik, sering kali akan muncul rangkaian fakta baru.
“Ibarat membuka satu titik, titik-titik lain akan ikut terlihat. Karena itu masyarakat sering melihat seolah kasus tidak pernah habis. Bukan karena balas dendam, tetapi karena setiap fakta membuka pintu menuju fakta berikutnya,” urai Koh Antonie.
Soal Pengunduran Diri Pengacara Kondang
Saat diminta menanggapi keputusan seorang pengacara kondang yang mengundurkan diri dari perkara besar dengan alasan kesehatan, Koh Antonie mengaku melihatnya dari sisi yang berbeda.
“Kalau menurut pembacaan saya, ini lebih kepada menjaga nama baik. Bukan soal uang atau keuntungan. Ketika tekanan publik sudah begitu besar, ada pertimbangan bahwa reputasi pribadi harus diselamatkan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pandangannya merupakan pembacaan intuitif, bukan berdasarkan informasi hukum ataupun fakta penyidikan.
Indonesia Masih Bisa Bertahan
Lalu bagaimana masa depan Indonesia?
Koh Antonie justru tidak melihat adanya tanda-tanda kerusuhan besar dalam waktu dekat.
“Saya tidak melihat akan ada gejolak besar. Masyarakat sekarang jauh lebih cerdas. Mereka sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang keliru,” terawang Koh Antonie.
Menurutnya, yang paling dibutuhkan rakyat sebenarnya sederhana. “Selama negara mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pelayanan yang baik, menjaga hukum tetap adil, dan menghadirkan rasa aman, negeri ini akan tetap berjalan,” jelasnya dengan penuh keyakinan.
Ia mengakui kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari ideal. Namun, ia percaya bahwa perubahan tetap mungkin terjadi apabila sistem diperbaiki dan integritas kembali menjadi fondasi pemerintahan.
Di akhir perbincangan, Koh Antonie mengingatkan bahwa tarot bukanlah vonis atas masa depan. “Kartu hanya membaca kecenderungan energi hari ini. Masa depan tetap ditentukan oleh keputusan manusia. Kalau sistem diperbaiki, hukum ditegakkan, dan semua menjalankan amanah dengan jujur, maka arah energi itu pun bisa berubah,” pungkasnya.
Barangkali di situlah letak ironi sebuah bangsa. Takdir sebuah negara tidak pernah sepenuhnya berada di tangan kartu, bintang, ataupun ramalan. Ia lebih sering ditulis oleh keberanian para pemimpinnya menjaga amanah, dan oleh kesediaan rakyatnya untuk terus mengawasi kekuasaan.
Sebab sejarah berkali-kali membuktikan, yang menjatuhkan sebuah negeri bukan sekadar lahirnya orang-orang tamak, melainkan ketika sistem membiarkan ketamakan itu tumbuh tanpa batas.
Itulah pandangan dan pembacaan pribadi Master Tarot Koh Antonie berdasarkan interpretasi tarot dan intuisi spiritual. Lernyataan tersebut bukan merupakan fakta hukum, kesimpulan penyidikan, atau tuduhan terhadap pihak mana pun, dan pembaca perlu membedakannya dari informasi yang telah dibuktikan melalui proses hukum.