Indonesia Bukan Pasar Asing bagi Penyanyi Malaysia

0

 

INVENTIF— Musik religi selalu memiliki cara yang unik untuk menemukan pendengarnya.

Ia tidak datang dengan gebyar panggung atau dentuman yang memekakkan telinga, melainkan perlahan mengetuk hati lewat lirik, doa, dan nada. Di jalur itulah nama Syed Iqbal, penyanyi muda asal Malaysia, mulai mencuri perhatian publik Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Lulusan Al-Azhar University, Mesir, ini membawa warna berbeda dalam musik Islami. Berbekal penguasaan bahasa Arab, Melayu, dan Inggris, Syed Iqbal meramu karya yang memadukan nuansa Timur Tengah dengan kedekatan budaya Melayu Nusantara, menjadikan lagunya terasa akrab di telinga pendengar Indonesia.

Single “Basstamam” yang dirilis pada 2025 menjadi titik penting perjalanan kariernya. Lagu tersebut berhasil menembus Top 10 Malaysia Viral dan menempati posisi ketujuh di tangga lagu ERA, salah satu radio populer di Malaysia. Di TikTok, lagu itu telah digunakan lebih dari 395 ribu kreator untuk berbagai konten.

Tak hanya viral, “Basstamam” juga mencatat lebih dari 5 juta streams di berbagai platform digital, dengan sekitar 3,8 juta streams di YouTube Music, 2,4 juta penonton video musik, dan 1,7 juta streams di Spotify.

 

Indonesia Bukan Pasar Asing bagi Penyanyi Malaysia

Indonesia memiliki sejarah panjang menerima musisi Malaysia. Nama-nama seperti Siti Nurhaliza, Raihan, Nasyid Brothers, hingga Mawi pernah memiliki basis penggemar yang kuat di Tanah Air. Lagu-lagu mereka diputar di radio, televisi, hingga menjadi soundtrack Ramadan di berbagai daerah.

Fenomena lagu bernuansa Islami juga selalu menguat menjelang Ramadan. Setiap tahun, platform streaming dan media sosial dipenuhi lagu-lagu religi yang kembali viral maupun karya baru yang langsung mendapat tempat di hati pendengar.

Beberapa lagu yang sukses besar di Indonesia antara lain “Ramadan Tiba” dari Opick, “Tombo Ati” yang dipopulerkan Opick, “Aisyah Istri Rasulullah” yang sempat menjadi fenomena di berbagai platform digital, hingga lagu-lagu grup nasyid Raihan seperti “Puji-Pujian” dan “Syukur” yang terus diputar setiap bulan suci.

Fenomena ini menunjukkan bahwa musik Islami bukan sekadar tren musiman, melainkan bagian dari tradisi spiritual masyarakat Indonesia yang selalu menemukan momentumnya saat Ramadan tiba.

Perluas Langkah ke Indonesia
Untuk memperkuat kiprahnya di Indonesia, Bimo Maxim bergabung sebagai bagian dari manajemen Syed Iqbal di Indonesia. Langkah ini menjadi strategi memperluas promosi, membangun kolaborasi, sekaligus mendekatkan karya Syed Iqbal kepada penikmat musik Islami di Tanah Air.

Bagi Syed Iqbal, musik bukan hanya tentang popularitas atau angka streaming. Ia ingin menjadikan setiap lagu sebagai ruang untuk menyampaikan pesan kebaikan, harapan, dan nilai-nilai spiritual yang dapat menyentuh hati pendengarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.