Iyus Jenius, Ketika Niat Baik Film Anak Tersandung Skenario yang Kehilangan Jalan
INVENTIF — Layar lebar kekinian dipenuhi pocong, peluru, dan patah hati orang dewasa. Lahirnya film anak semestinya disambut seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang.
Festival Film Wartawan (FFW) 2026 memilih Iyus Jenius sebagai film nobar di CGV FX Jakarta. Pilihan itu bukan sekadar agenda festival, melainkan pengingat bahwa anak-anak Indonesia masih berhak memiliki ruang di bioskop yang selama ini nyaris ditinggalkan.
Produser Gandhi Fernando mengaku film ini lahir dari cinta pada tontonan masa kecil, terutama Petualangan Sherina. Bahkan, ia mengaku menonton film itu hingga ratusan kali. Cinta itu kemudian menjelma menjadi mimpi menghadirkan kembali musikal anak yang menghibur sekaligus mendidik.
Kita tentu mendukung penuh kehadiran film anak Indonesia. Genre ini sudah terlalu lama menjadi penghuni museum kenangan. Belakangan memang muncul secercah harapan lewat Jumbo, Matahari di Mars, hingga Sahabat Anak. Kehadiran film-film seperti ini menjadi oase di tengah dahaga anak-anak yang lebih sering disuguhi tontonan bukan untuk usia mereka.
Karena itu, semangat para pembuat Iyus Jenius layak diapresiasi. Mereka berusaha mengisi kekosongan yang selama bertahun-tahun dibiarkan menganga.
Namun, niat baik ternyata tidak otomatis berubah menjadi film yang baik.
Di sinilah satirnya bekerja. Iyus Jenius memiliki hati yang besar, tetapi kehilangan kompas ketika bercerita. Skenario berjalan tanpa struktur yang kokoh. Konflik datang dan pergi tanpa irama.

Lalub adegan terasa seperti kumpulan ide yang ditempel menjadi satu, bukan rangkaian cerita yang mengalir. Penonton diajak berkeliling, tetapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana tujuan perjalanan.
Untungnya, para pemain cilik menjadi penyelamat. Kevin Abadio dan kawan-kawan bekerja keras menyanyi, menari, dan berakting dalam waktu latihan yang terbatas. Upaya mereka terasa tulus, meski hasil akhirnya masih jauh dari kata “asyik” atau “keren”. Kekurangan itu lebih banyak terasa sebagai persoalan naskah dan pengarahan, bukan semata kemampuan para pemain.
Dalam diskusi seusai pemutaran, Benny Benke, Ketua FFW 2026, juga menyoroti ironi lain: film ini membutuhkan waktu tiga tahun hanya untuk mendapatkan sekitar 25 layar di jaringan bioskop XXI. Kritik itu layak didengar. Film anak memang sering kalah sebelum bertanding karena distribusi yang tidak ramah terhadap karya di luar arus utama.
Meski begitu, setiap film memang memiliki nasibnya sendiri.
Iyus Jenius mungkin belum berhasil menjadi musikal anak yang utuh. Tetapi keberaniannya hadir di tengah dominasi film dewasa tetap penting. Kritik bukan untuk memadamkan semangat, melainkan agar langkah berikutnya lebih matang.
Anak-anak Indonesia tidak hanya membutuhkan film anak. Mereka membutuhkan film anak yang dibuat dengan cinta, sekaligus dikerjakan dengan cerita yang benar-benar tahu jalan pulang ke hati penontonnya. (NM)