Ini Tanda Cinta IKA PMII Ciputat untuk Masa Depan

0

INVENTIF — Di tengah hangatnya udara pagi yang menyusup ke sela-sela jendela Auditorium Harun Nasution, Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, gema sejarah kembali ditulis.

Hari itu, bukan hanya sekadar Musyawarah Cabang dan Haul Akbar yang digelar. Lebih dari itu, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Ciputat menabuh genderang langkah baru: Gerakan Wakaf Rumah Pergerakan Ciputat.

Sebuah video sederhana, namun sarat makna, membuka tabir peluncuran. Di layar utama, sejarah diguratkan dengan simbolik perjalanan panjang kaderisasi, luka dan luka, cinta dan cita, kini menemukan bentuknya dalam sebuah rumah. Rumah yang bukan sekadar bangunan, tapi tempat tumbuhnya ide, nalar, dan jiwa perlawanan.

Di barisan depan, enam tokoh berdiri dalam satu kesatuan: Prof. Asep Saepuddin Jahar, Juri Ardiantoro, Afifuddin, Ali Ghozi, Prof. Abdurrahman Mas’ud, dan Dr. Diana Mutiah. Mereka bukan hanya saksi, melainkan pelakon sejarah yang hadir dalam satu nafas: membangun, bukan hanya mengenang.

Sebuah QRIS terpampang, mengajak hadirin berderma. Bukan untuk sedekah sesaat, melainkan untuk amal jariyah yang tak lekang ditelan waktu. Di sinilah, teknologi dan tradisi bersalaman. Wakaf uang menjelma menjadi jembatan antara dunia digital dan spiritual, antara niat baik dan tindakan nyata.

“Saya tidak akan banyak bicara. Mari kita mulai langkah nyata ini bersama. Inilah amal jariyah kita,” ucap Prof. Asep, sederhana namun dalam. Kata-katanya menggema, bukan karena nyaring, tapi karena penuh keikhlasan dan kepercayaan.

Juri Ardiantoro, dengan semangat kader yang tak padam, menambahkan makna. Wakaf, baginya, bukan sekadar donasi. Ia adalah strategi regenerasi, warisan abadi. Ia menyebutnya sebagai “investasi sosial” untuk membangun ekosistem pergerakan yang adaptif terhadap zaman.

“Dulu kita bicara tanah dan air, sekarang kita bicara langit,” tegas Juri sembari menyebutkan STEP (science, technology, engineering, and pragmatism) sebagai medan baru perjuangan.

Muhibuddin dari Kementerian Agama pun menaburkan restunya. Baginya, ini bukan hanya gerakan alumni, melainkan peta baru dalam pengelolaan wakaf.

“Wakaf kini tak hanya membangun makam atau masjid. Tapi peradaban,” ujarnya.

Rumah Pergerakan Ciputat, katanya, adalah penanda zaman: bahwa generasi muda tak hanya punya semangat, tapi juga strategi.

Dan begitulah, pagi itu, Ciputat kembali menjadi tanah harapan. Wakaf bukan lagi kata yang hanya bergema di masjid-masjid tua. Ia menjelma menjadi gerakan. Menjadi rumah. Menjadi tempat para pemuda dan pemudi PMII tumbuh, berpikir, dan kelak memimpin zaman.

Dalam denting-denting takbir yang pelan, dalam peluh yang diam-diam mengalir, dan dalam cahaya mata yang bersinar, satu keyakinan tumbuh: masa depan bisa dirancang, jika kita bersama-sama mewakafkan hari ini untuknya.

Rumah Pergerakan Ciputat bukan sekadar tempat, ia adalah janji. Dan janji itu, hari ini, resmi diikrarkan.(BB)

Leave A Reply

Your email address will not be published.