“Bertaut Rindu”, Sebait Puisi tentang Luka, Cinta, dan Asa yang Tak Pernah Padam

0

 

INVENTIF – Di balik judulnya yang manis dan menjanjikan harapan—Bertaut Rindu: Semua Impian Berhak Dirayakan—tersimpan sebentuk nyanyian lirih tentang remaja yang tumbuh dalam kepungan harapan orang tua, mimpi-mimpi yang tertahan di dada, dan cinta yang hadir bukan sebagai pelarian, melainkan penawar.

Rako Prijanto, sang sutradara yang tak pernah setengah hati dalam menjahit kisah manusia, kembali menghadirkan sebuah karya yang bersahaja dalam bentuk, tapi kaya dalam rasa. Film ini tidak datang untuk membuat kita terperangah oleh plot twist atau konflik meletup. Sebaliknya, ia datang seperti senja—tenang, perlahan, namun dalam diamnya menyihir.

Adhisty Zara sebagai Jovanka adalah puisi yang belum selesai ditulis. Di matanya, kita melihat sisa luka masa kecil yang disimpan rapi di balik tawa remaja. Ari Irham, sebagai Magnus, bukan tokoh sempurna—dan justru di situlah kekuatannya. Magnus adalah banyak dari kita: remaja yang dipaksa tumbuh menjadi dewasa dalam cetakan orang tua, hingga lupa rasanya bertanya, “Apa yang sebenarnya aku inginkan?”

Namun bukan berarti film ini tanpa cela. Dalam beberapa adegan, dialog terasa seperti kutipan buku motivasi yang dipaksakan menyatu dengan realitas karakter. Sesekali, film ini terjebak dalam upaya menjelaskan terlalu banyak, alih-alih mempercayakan emosi kepada tatapan dan diam. Padahal, dalam diam-lah film ini paling bersinar—ketika Jovanka memandangi langit sendirian, atau ketika Magnus tak sanggup menjawab pertanyaan ayahnya tentang masa depan.

Naskah yang ditulis Alim Soebagyo dan Alifa Lubis mencoba merangkul terlalu banyak tema: cinta, luka keluarga, persahabatan, impian, bahkan kritik halus pada sistem pendidikan. Sayangnya, tidak semuanya mendapatkan ruang napas yang sama. Beberapa subplot menguap begitu saja, seperti sahabat yang hadir hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai jiwa dalam narasi.

Namun kekuatan utama Bertaut Rindu terletak pada keberaniannya menjadi lembut. Di era film remaja yang berlomba-lomba memamerkan konflik ekstrem dan dialog sinis, film ini memilih jalur sunyi: menyentuh kita lewat kejujuran. Tidak semua remaja ingin memberontak; beberapa hanya ingin dimengerti.

Sinematografi yang hangat, tata musik yang tak mendominasi namun memeluk, serta akting yang raw dan jujur, menjadikan film ini bukan sekadar tontonan, tapi pelajaran. Tentang betapa pentingnya mendengar anak sebelum mereka belajar diam. Tentang bagaimana cinta pertama, meski tak abadi, bisa menjadi jembatan menuju pemahaman diri.

Bertaut Rindu bukan mahakarya. Tapi ia adalah surat cinta—untuk mereka yang pernah tumbuh di rumah yang terlalu sunyi, jatuh cinta di masa yang rapuh, dan belajar bahwa mimpi pun butuh tempat untuk bertaut.

Dan seperti katanya: “Impian, sekecil apa pun, berhak untuk dirayakan.
Film ini tak sempurna, tapi ia jujur. Dan mungkin, itu yang paling kita butuhkan saat ini.

Tapi kalau mau sedikit usil, mengurai puzel-puzel persoalan yang coba digelontorkan film ini memang kurang detail dan tak masuk lebih dalam. Semuanya parsial saja untuk menampung tema yang lumayan seabreg.

Kalau melihat pengadegan dan dialognya – yang manis-manis itu,  tak sepatutnya Magnus menjadi depresi yang menjadi pemantik untuk bundir. Apa yang dilakukan orang tuanya itu, ya umumnya orang tua memang seperti itu.  Gak ekstrim ekstrim amat kok yang mereka jejalkan yang kemudian bisa menjadi alasan Magnus depresi. Apalagi ia masih sempat menjadi pecinta alam dan nongkrong sampai malam. Mana mungkin hal itu bisa didapatkan seorang anak remaja yang orang tuanya ekstrim ketat dalam mengatur anaknya.

Tapi nikmati aja deh dengan santai sebagaimana para remaja menikmati hidup ini yang memang penuh warna-warni. Jangan dibikin ribet, malah bikin pusing! (NMC)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.