Ketika Rumah Ibadah Disentak Amarah, Menag Serukan Cinta Sebagai Jalan Pulang

0

 

INVENTIF.ID — Di ujung Juli yang seharusnya tenang, doa-doa yang naik dari sebuah rumah ibadah di Padang terputus oleh teriakan dan denting kaca pecah. Di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Sumatera Barat, ibadah Jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dihentikan secara paksa oleh sekelompok warga. Anak-anak menangis. Kursi-kursi roboh. Rumah doa kehilangan kedamaiannya.

Menanggapi kejadian itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar angkat suara. Dengan wajah prihatin, ia menyebut bahwa bangsa ini tak boleh lagi membiarkan doa dicederai oleh prasangka.

“Saya harap ini yang terakhir. Kesalahpahaman seperti ini harus dihentikan. Kami sedang siapkan langkah konkret,” ucap Menag di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

Ia menyebut telah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Barat, dan akan segera mengirim tim untuk menyentuh luka yang belum kering itu. Penanganan jangka pendek sedang disusun — langkah cepat untuk meredam bara yang belum padam.

Namun Menag tak ingin berhenti di situ. Ia menggagas sesuatu yang lebih mendalam: kurikulum cinta. Sebuah benih yang ingin ditanam di ruang-ruang kelas, agar kelak tumbuh menjadi akar pengertian dan pohon toleransi.

“Kami ingin memperkenalkan kurikulum cinta. Untuk menghapus prasangka, membangun saling percaya,” ujarnya. Kata-kata yang sederhana, namun mengandung harapan yang besar.

Insiden di Padang ini bukan yang pertama, dan itulah yang membuatnya terasa berat. Sebab setiap kali rumah ibadah diserbu, bukan hanya bangunan yang rusak — tetapi juga luka di hati bangsa yang terus menganga.

Polisi telah menetapkan sembilan orang sebagai terduga pelaku berdasarkan rekaman video. Masih bisa bertambah, kata Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, karena penyelidikan terus berjalan. Hukum pun perlahan bergerak, namun luka sosial tak cukup disembuhkan dengan pasal-pasal semata.

Kementerian Agama mencoba menjahit sobekan itu, perlahan-lahan, dengan benang cinta dan niat baik. Sebab bagi bangsa yang majemuk, menjaga rumah ibadah berarti menjaga keutuhan rumah bersama: Indonesia.

Dan semoga, di masa depan, doa-doa tak lagi perlu terbata.(BB)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.