Panggil Aku Ayah: Di Antara Tawa, Air Mata, dan Cinta yang Tak Direncanakan
INVENTIF – Ada satu bentuk cinta yang tak bisa dijelaskan dengan logika, lahir bukan dari rahim, tapi dari pertemuan yang tak disengaja. Panggil Aku Ayah, film adaptasi dari Pawn (2020), mencoba merangkai cinta semacam itu dalam bingkai lokal—Indonesia yang hangat, tapi kadang keras, yang sentimental tapi juga jenaka.
Dalam film ini, dua penagih utang yang mestinya membawa ketakutan justru menjadi jembatan menuju kasih. Mereka bukan pahlawan. Mereka juga bukan orang jahat. Mereka hanya manusia yang kebetulan diberi anak kecil oleh nasib, lalu pelan-pelan diajari bagaimana cara mencintai.
Ringgo Agus Rahman dan Boris Bokir seharusnya menjadi wajah-wajah yang membuat lutut bergetar. Tapi dalam lakon ini, mereka lebih sering mengundang tawa daripada takut. Tak salah, memang, karena akar mereka sebagai komedian terlalu kuat untuk ditutup rapat. Mereka tidak gagal berakting, hanya tidak cukup melepaskan diri dari persona lama. Yang muncul bukan penagih utang, melainkan dua pria baik-baik yang sedang main film.
Lalu muncullah Myesha Lin, gadis kecil yang menjadi poros dunia cerita. Ia hadir seperti mata air di tengah ladang kering. Aktingnya tak dibuat-buat, tulus, dan memikat. Ia membuat dua pria dewasa menjadi lembut tanpa perlu berteriak. Kehadirannya adalah pelajaran tentang bagaimana cinta bisa tumbuh di tempat yang tak subur.
Tissa Biani tampil tenang sebagai penghubung masa lalu dan masa kini. Tapi sayangnya, perpindahan waktu yang diusung film ini seperti jalan berkerikil—tergesa, goyah, dan kadang membingungkan. Penonton yang baru mulai tenggelam dalam satu waktu, tiba-tiba diangkat ke waktu lain tanpa aba-aba.
Dan satu lagi, Mama Rosa, yang semestinya menjadi sumur emosi, justru terasa datar. Entah karena naskah yang tak memberinya ruang bernapas, atau karena akting yang terlalu hati-hati hingga tak meninggalkan bekas.
Namun di balik cela-cela itu, Panggil Aku Ayah tetap menyisakan kehangatan. Ia tidak sempurna, tapi jujur. Ia tidak keras, tapi menyentuh. Film ini seperti surat cinta yang ditulis dengan tangan gemetar—kadang tintanya belepotan, kadang salah eja, tapi maksudnya sampai ke hati.
Dengan sentuhan lokal yang cerdas dan narasi penuh haru, film ini mengingatkan kita bahwa keluarga bisa datang dari mana saja. Kadang bukan dari darah, tapi dari waktu yang dihabiskan bersama, dari tawa yang dibagi diam-diam, dari air mata yang tak sengaja jatuh bersamaan.
Panggil Aku Ayah bukan hanya film. Ia adalah pertanyaan lembut yang datang diam-diam: “Siapa yang kau panggil ayah, jika bukan dia yang mengajarimu arti pulang?”(NMC)