Cinta Bertaut di Istiqlal,  100 Pasang Pengantin Menyemai Janji Suci

0

 

INVENTIF – Di bawah kubah megah Masjid Istiqlal, Kamis siang itu, udara Jakarta seakan ikut bergetar oleh lantunan doa.

Lalu, satu demi satu pasangan berjalan menuju altar sederhana, menanti detik paling sakral dalam hidup mereka. Ya, hari itu, seratus jiwa yang berpasangan melebur dalam satu peristiwa: “Nikah Fest”, sebuah pesta cinta yang dibingkai dalam kesucian.

Acara ini bukan sekadar perhelatan biasa. Ia menjadi bagian dari Blissful Mawlid 2025, persembahan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Tema yang diusung begitu teduh—“Cinta dalam Ridha Ilahi”. Di baliknya tersimpan harapan: agar ikatan suci tak hanya menyatukan dua insan, melainkan juga menjadi pintu berkah bagi keluarga dan negeri.

Di tengah keramaian, hadir Menteri Agama Nasaruddin Umar. Suaranya bergetar namun mantap ketika menasihati para pengantin. Baginya, akad nikah bukan hanya prosesi seremonial. Ia adalah mitzaqan ghaliza—janji agung, perjanjian sakral yang dihadiri langit dan bumi.

“Dari pernikahan lahir keberkahan: rezeki yang terbuka, akal yang matang, dan iman yang teguh,” ucapnya penuh keyakinan.

Ia mengingatkan, akad nikah tak bisa dipandang sebelah mata. Ia menyatukan tiga dimensi: hukum, adat, dan syariah. Dari sisi hukum, ia baru sah bila tercatat di Kantor Urusan Agama, berlandaskan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

Dari sisi adat, ia terbingkai simbol budaya yang menguatkan rumah tangga. Dari sisi syariah, akad menjadi gerbang dari yang haram menuju halal—saat cinta berpindah dari sekadar rasa, menjadi doa yang disaksikan malaikat.

Akta Nikah: Simbol Kehadiran Negara

Dalam tuturannya, Menag mengangkat akta nikah sebagai bukti betapa negara hadir memberi restu. “Sampulnya bergambar Garuda. Tak sembarang lambang, sebab ia tanda kehadiran negara mengesahkan cinta,” katanya.

Dokumen itu kelak menjadi kunci untuk mengurus akta kelahiran, kartu keluarga, KTP, paspor, hingga hak berhaji. Bahkan bagi pegawai negeri dan BUMN, akta nikah membuka pintu tunjangan, asuransi, dan fasilitas lainnya. Karena itu, ia berpesan: jagalah dokumen itu seperti menjaga rumah tangga sendiri.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menambahkan bahwa ini kali ketiga Kemenag memfasilitasi nikah massal sepanjang tahun 2025. Ia menyebut, Nikah Fest bukan hanya acara romantis, melainkan strategi besar membangun ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.

“Kalau sudah cukup umur, jangan ragu. Nikah adalah pintu keberkahan,” katanya, memberi semangat kepada para pengantin.

Kemenag pun tak sekadar menyelenggarakan acara. Mahar pernikahan, suvenir, modal usaha, hingga fasilitas menginap di hotel disediakan. Sebelumnya, para pasangan telah melewati bimbingan perkawinan, pemeriksaan kesehatan, dan administrasi di KUA.

Hari itu, suasana Istiqlal tak hanya dipenuhi bacaan akad, tapi juga rasa haru. Di balik senyum, ada air mata bahagia yang menetes. Cinta-cinta sederhana yang pernah tertahan oleh biaya dan aturan, kini menemukan jalannya.

Di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, doa-doa mengalir deras. Seratus pasangan itu kini menapaki hidup baru—menyemai harapan agar rumah tangga mereka tumbuh menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Dan di langit-langit Istiqlal, gema doa seolah bersahutan: cinta yang suci, cinta yang diridai, cinta yang kini diikat dengan janji abadi. (ISS)


 

Leave A Reply

Your email address will not be published.