“Dari Ladang ke Mimbar, Gerakan Keumatan Siap Menanam Padi dan Doa Bersama”
INVENTIF — Nampaknya, dalam babak baru sinergi lintas kementerian terlihat semakin kreatif saja. Apa iya?
Lho, iya. Lihat saja, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i sepakat bahwa ketahanan pangan kini tak cukup hanya dengan cangkul dan pupuk—harus juga dengan doa berjamaah dan ceramah tematik tentang pentingnya menanam cabai di pekarangan masjid.
Pertemuan kedua pejabat ini berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Selasa (7/10/2025). Dalam suasana penuh semangat dan aroma teh tubruk, Wamentan yang akrab disapa Mas Dar menyampaikan visi besar: menjadikan pesantren dan lembaga keagamaan sebagai lumbung pangan spiritual sekaligus fisik.
“Kami ingin gerakan keumatan tidak hanya melahirkan hafidz dan ustaz, tapi juga petani tangguh yang hafal harga pupuk nonsubsidi,” ujar Mas Dar dengan nada penuh keyakinan.
Ia menambahkan, langkah ini merupakan wujud nyata sinergi antara iman dan pangan—dua hal yang sama-sama bisa membuat orang lapar jika salah kelola.
Sementara itu, Wamenag Romo Syafi’i menyambut gagasan tersebut dengan antusias. Ia bahkan menyebut seluruh petani di Indonesia kini secara teologis termasuk dalam “binaan Kementerian Agama.”
“Kalau semua warga negara beragama, maka otomatis semua petani adalah umat kami. Jadi kalau panen gagal, mungkin tinggal kita adakan istighosah nasional,” ujarnya sembari tersenyum diplomatis.
Rencana besar ini kabarnya akan diawali dengan program pilot bertajuk “Satu Pesantren Satu Sawah”, di mana santri tak hanya diajarkan ilmu tafsir, tetapi juga cara menanam jagung tanpa menunggu mukjizat hujan.
Menurut sumber internal, Kementan juga tengah menyiapkan panduan baru berjudul “Fiqih Pertanian Berkelanjutan”, sementara Kemenag akan meneliti kemungkinan zakat hasil tani bisa diganti dengan “zakat pupuk.”
Para pengamat menilai kolaborasi ini sebagai terobosan unik di tengah sempitnya lahan dan meluasnya jargon birokrasi. “Kalau semua kementerian bisa sinergi begini, mungkin sebentar lagi kita akan dengar Kemenhub kerja sama dengan Kemenkes untuk menyehatkan transportasi,” ujar seorang pengamat dengan nada setengah kagum, setengah lapar.
Bagaimanapun, semangat kedua wamen ini patut diapresiasi. Sebab di negeri yang sering kehabisan beras dan ide secara bergantian, setiap upaya menanam—baik padi maupun harapan—layak didukung. (NMC)