Sekolah Unggul Garuda, Dari Panggung Pidato Menuju Langit Mimpi yang Belum Mendarat

0

 

INVENTIF — Wakil Menteri Agama Romo H. R. Muhammad Syafi’i kembali naik mimbar — bukan untuk khutbah Jumat, tapi untuk membacakan harapan besar: Siswa Sekolah Unggul Garuda akan jadi ikon Indonesia di kancah dunia.”

Pernyataan itu meluncur mulus di acara Pengenalan Sekolah Unggul Garuda Transformasi di MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir (OKI). Di bawah spanduk “Transformasi Pendidikan Nasional”, semua yang hadir tersenyum — mungkin karena sudah hafal formatnya: pidato panjang, jargon mulia, dan tepuk tangan yang wajib.

“Kita berharap anak-anak kita ini akan menjadi pemimpin dunia,” ujar Romo penuh semangat.

Dunia mana, tentu belum dijelaskan. Tapi yang pasti, di negeri ini, visi selalu lebih cepat lahir daripada realisasi.

Program Sekolah Unggul Garuda disebut sebagai bagian dari visi besar Presiden menuju Indonesia Emas 2045 — tahun di mana Indonesia diprediksi menjadi negara makmur keempat di dunia. Prediksi siapa? Entah. Mungkin sama lembaganya dengan yang dulu bilang “tahun 2020 Indonesia jadi macan Asia”.
Kini 2025, dan kita masih sibuk menambal atap sekolah bocor di pelosok.

Romo Syafi’i menegaskan pentingnya generasi muda yang “cerdas, tangguh, dan berkepribadian Indonesia.” Sebuah kalimat yang terdengar gagah — meski di lapangan, siswa masih harus membawa kursi sendiri ke kelas karena ruang belajar belum selesai direnovasi.

“Program ini untuk menyiapkan generasi emas,” kata Romo.

Tapi ironinya, programnya selalu dimulai dari upacara seremonial dan berakhir di laporan kegiatan.

Kemenag kini dipercaya mengelola dua sekolah unggulan dalam program ini: MAN IC OKI dan MAN IC Gorontalo. Dua titik cahaya di tengah ribuan sekolah lain yang masih bergantung pada papan tulis bekas dan koneksi internet sekarat.

Di acara itu, para pejabat hadir lengkap — dari Wakil Bupati hingga Sekjen Kemendikti Ristek. Barisan tamu undangan tampak antusias menyimak pidato panjang tentang masa depan gemilang, sambil sesekali melirik ponsel: mungkin mencari sinyal yang hilang.

Romo juga mengingatkan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbuat baik kepada guru. Sebuah wejangan penting — apalagi bagi pejabat yang barangkali juga perlu mengingat guru-guru yang dulu mereka lupakan setelah dilantik.

Sementara itu, siswa bernama Hana, siswi kelas 12 MAN IC OKI, menyampaikan cita-citanya untuk kuliah di luar negeri. Ia ingin belajar engineering di Australia agar bisa berkontribusi untuk negeri.
Sebuah mimpi tulus, meski ironisnya, banyak alumni seperti Hana yang nanti pulang dan disambut dengan kalimat klasik: “Lowongan kerjanya belum ada, Nak.”

Sekolah Unggul Garuda digadang-gadang sebagai “obor harapan bangsa.” Tapi di negeri yang gemar menyalakan obor, kita sering lupa menyediakan minyaknya.
Setiap program datang dengan slogan “unggul”, “berkarakter”, dan “berdaya saing global”, tapi guru honorer masih menunggu gaji, laboratorium masih tanpa alat, dan siswa di daerah 3T masih menulis di papan triplek.

Maka biarlah Sekolah Unggul Garuda terbang tinggi seperti namanya.
Terbang melintasi birokrasi, menembus awan visi, hingga mungkin — satu hari nanti — benar-benar mendarat di bumi kenyataan. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.