“Harmoni di Bawah Langit Emas Hotel Borobudur”

0

 

INVENTIF – Lampion-lampion merah bergelantungan anggun di langit-langit ballroom Hotel Borobudur Jakarta, memantulkan cahaya keemasan yang hangat di wajah para tamu.

Malam itu bukan sekadar penutupan rangkaian Imlek dan Cap Go Meh—ia menjelma menjadi perayaan rasa, pertemuan budaya, dan harmoni yang mengalun dalam nada.

Di tengah gemerlap itu, Icha Yang melangkah ke panggung dengan senyum yang seolah menyimpan musim semi. Ini memang bukan kali pertamanya tampil di hotel legendaris tersebut. Namun seperti bunga yang kembali mekar di taman yang sama, penampilannya kali ini terasa lebih semarak, lebih matang, dan lebih berdenyut oleh antusiasme para hadirin.

Sejak nada pembuka “Lai Lai Guo Xin Nian” berkumandang, ruangan seakan berubah menjadi lautan kegembiraan. Lagu demi lagu mengalir seperti sungai kenangan—“He Xin Nian”, “Wo Zhi Zai Hu Ni”, “Ting Hai”, “Xi Huan Ni”, hingga “Peng You” dan “Xiao Wei”—masing-masing disambut koor hangat para tamu yang tak segan bernyanyi bersama. Beberapa tersenyum haru, beberapa terhanyut dalam nostalgia, seakan setiap bait memiliki cerita yang pernah singgah di hati mereka.

Tak satu pun lagu berbahasa Indonesia terdengar malam itu. Semua syair dilantunkan dalam bahasa Mandarin, selaras dengan semangat perayaan Tahun Baru Imlek. Namun justru di situlah letak keindahannya: musik menjadi jembatan yang tak memerlukan paspor. Ia melampaui batas etnis, menyatukan yang berbeda dalam satu irama.

Icha membawakan lagu-lagu itu dengan penghayatan yang lembut namun bertenaga. Pelafalannya fasih, intonasinya terjaga, emosinya mengalir tulus. Ia pernah belajar secara otodidak, menajamkan rasa dan bahasa saat berada di Tiongkok. Dari sana, ia tak hanya membawa pulang kemampuan, tetapi juga jiwa—yang malam itu terasa hidup dalam setiap nada yang ia hembuskan.

Busana yang dikenakannya pun menjadi simbol pertemuan masa lalu dan masa kini. Bukan lagi balutan tradisional yang kaku, melainkan rancangan modern bernuansa Tionghoa yang tetap menyimpan karakter klasiknya. Tradisi tidak ditinggalkan, hanya dipeluk dengan cara yang lebih segar—seperti Imlek yang kini dirayakan lintas generasi, lintas latar belakang.

Di antara tepuk tangan yang riuh dan lampion yang berpendar, Icha Yang bukan sekadar penyanyi. Ia adalah pengantar suasana, perangkai kenangan, dan penjaga semangat kebersamaan. Malam penutupan Cap Go Meh itu pun terasa lengkap—bukan hanya karena kemeriahan panggung, tetapi karena kehangatan yang tumbuh di hati setiap tamu.

Dan ketika nada terakhir perlahan menghilang di udara, yang tersisa bukan sekadar gema lagu Mandarin, melainkan rasa manis yang tinggal lama—semanis harapan baru di awal tahun, sehangat perayaan yang merangkul semua sebagai satu keluarga Indonesia. (Ncank)

Leave A Reply

Your email address will not be published.