Masjid Tak Lagi Hanya untuk Azan, 6 Ribu Lebih Pintu Dibuka bagi Para Pemudik
INVENTIF — Setiap musim mudik, jalan raya di Indonesia berubah menjadi sungai manusia. Mobil, motor, bus, dan segala bentuk kendaraan bergerak perlahan seperti arus yang membawa rindu pulang kampung.
Di tengah perjalanan panjang itu, ada satu tempat yang kini diminta membuka pintunya lebih lebar: masjid.
Muhammad Syafii, Wakil Menteri Agama, secara resmi melepas program Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) yang menyiapkan 6.859 masjid di berbagai daerah untuk melayani para pemudik pada Lebaran 2026 atau Idulfitri 1447 Hijriah.
Dalam acara pelepasan di kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Romo Syafii menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya mengembalikan fungsi sosial masjid—bukan sekadar bangunan yang hidup lima kali sehari ketika azan berkumandang.
“Kita ingin mengubah wajah masjid yang selama ini terkesan hanya dibuka untuk salat lima waktu. Masjid memang tempat melayani masyarakat,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi juga menyimpan sedikit ironi. Sebab di negeri yang penuh masjid ini, kadang pintunya justru lebih sering terkunci daripada terbuka bagi musafir yang lelah.
Dari Tempat Ibadah Menjadi Rest Area
Melalui program tersebut, ribuan masjid disiapkan menjadi titik singgah bagi para pemudik yang menempuh perjalanan panjang. Fungsinya sedikit bergeser—atau mungkin kembali ke makna lama—sebagai tempat istirahat bagi siapa saja yang membutuhkan.
Setidaknya ada 6.859 masjid yang dilibatkan dalam layanan ini. Fasilitasnya pun tidak main-main untuk ukuran tempat ibadah yang biasanya identik dengan karpet dan mimbar.
Masjid akan dibuka selama 24 jam, lengkap dengan pengamanan area parkir, layanan kesehatan sederhana, serta perhatian khusus pada kebersihan toilet dan ketersediaan air bersih—dua hal yang sering menjadi ujian kesabaran bagi para pelancong jalanan.
Selain itu, pemudik juga dapat menemukan fasilitas yang cukup modern: tempat istirahat yang layak, pusat informasi perjalanan, air minum, makanan ringan, hingga colokan listrik untuk mengisi daya ponsel.
Sebab di era sekarang, bagi sebagian orang, baterai ponsel yang habis bisa terasa lebih menegangkan daripada bensin yang menipis.
Informasi dari Udara
Agar para pemudik tidak tersesat dalam lautan kilometer jalan raya, Kementerian Agama bekerja sama dengan Radio Elshinta untuk menyiarkan informasi lokasi masjid layanan serta kondisi perjalanan.
Siaran khusus program Ekspedisi Masjid Indonesia akan mengudara sejak H-8 hingga H+8 Lebaran. Sementara layanan masjid sendiri akan beroperasi mulai tujuh hari sebelum hingga tujuh hari setelah hari raya.
Dengan kata lain, selain menjadi tempat beribadah, masjid juga akan berfungsi seperti rest area yang bersahaja—tanpa tarif parkir mahal dan tanpa papan reklame besar yang menawarkan diskon kopi.
Ketika Masjid Kembali Menjadi Rumah
Program ini pada dasarnya mengingatkan kembali pada satu hal yang sering terlupakan: masjid sejak dahulu bukan hanya ruang ritual, tetapi juga ruang sosial. Tempat orang singgah, berbincang, beristirahat, bahkan sekadar menghela napas dari perjalanan panjang hidup.
Di tengah hiruk pikuk mudik yang kadang penuh emosi, kemacetan, dan klakson yang tak sabar, keberadaan masjid yang terbuka 24 jam mungkin akan terasa seperti oase kecil di tepi jalan.
Dan barangkali di situlah pesan satirnya terselip: di negeri dengan ribuan masjid, baru ketika musim mudik tiba kita kembali diingatkan bahwa rumah ibadah itu memang seharusnya menjadi rumah bagi siapa saja yang sedang dalam perjalanan. (NMC)