“Rumah yang Retak: Ketika Aib Dipelihara, Kekerasan Dipuja Diam-Diam”
INVENTIF — Di sebuah sudut kafe di selatan ibu kota, percakapan tentang cinta justru terdengar seperti laporan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dalam podcast Panglima Bersuara, Alyne Maarif bersama Abu Tiba membuka tabir yang selama ini dirawat rapi: kekerasan dalam rumah tangga—yang ironisnya, kerap diselimuti nama baik keluarga.
Di negeri yang gemar menutup luka dengan kata “aib”, kekerasan justru menemukan tempat paling nyaman: rumah itu sendiri.
Alyne, dengan suara yang tak lagi gemetar, menyinggung satu hal yang sering dipuja sebagai kesabaran, padahal sejatinya adalah ketakutan yang dipelihara. Banyak korban memilih diam—bukan karena kuat, tetapi karena dunia di sekelilingnya mengajarkan bahwa bersuara adalah bentuk pembangkangan.
“Diam,” barangkali, telah naik pangkat menjadi budaya. Ia tidak lagi sekadar pilihan, melainkan warisan. Di balik pintu-pintu yang tampak teduh, tekanan, ancaman, dan ketergantungan ekonomi menjelma jeruji tak kasat mata. Korban dikurung bukan hanya oleh pelaku, tetapi juga oleh stigma yang lebih kejam dari pukulan.
Sementara itu, praktisi hukum, Abu Tiba,SH—dengan bahasa hukum yang seharusnya dingin—justru terdengar getir. Ia menegaskan bahwa hukum di Indonesia tidak pernah memberi ruang bagi kekerasan. Namun, hukum kerap kalah oleh satu hal yang lebih sunyi: ketakutan untuk melapor.
Di sinilah ironi itu tumbuh subur—undang-undang berdiri tegak, tetapi keberanian runtuh sebelum sempat melangkah.
“KDRT bukan aib yang harus disembunyikan,” katanya, seolah mengingatkan bahwa yang memalukan bukanlah luka, melainkan sistem yang membiarkannya tersembunyi.
Namun masyarakat, seperti penonton setia, sering kali lebih sibuk menjaga citra daripada menyelamatkan korban. Kita diajarkan merapikan retakan, bukan memperbaiki fondasi. Aparat datang ketika suara sudah pecah, bukan saat bisikan pertama meminta tolong.
Dan rumah—tempat yang konon paling aman—perlahan berubah menjadi panggung tragedi yang disaksikan dalam diam.
Alyne dan Abu tidak sekadar berbicara; mereka seperti mengetuk kesadaran yang lama tertidur. Bahwa keberanian bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan harus dipelihara bersama—oleh korban, oleh masyarakat, dan oleh hukum yang benar-benar hadir.
Sebab selama “aib” masih lebih ditakuti daripada kekerasan, maka rumah akan terus menjadi tempat paling berbahaya yang tak pernah diakui.