Perlawanan Sunyi Herty Purba Lewat Sahabat Anak, Ketika Anak-Anak Nyaris Kehilangan Layar

0

 

INVENTIF —Di tengah riuh industri perfilman yang hari-hari ini lebih akrab dengan jerit hantu, darah yang muncrat, dan kejutan-kejutan yang sengaja diciptakan untuk membuat penonton melompat dari kursinya, ada sekelompok orang yang justru memilih berjalan melawan arus.

Mereka tidak membawa pocong. Tidak pula iblis atau pembunuh berantai. Tapi justru mereka membawa anak-anak. Di XXI Mall Bassura, Jakarta Timur, Kamis (23/7/2026), suasana First Look film Sahabat Anak terasa seperti jeda yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk industri.

Executive Producer Herty Purba, didampingi psikolog anak Kak Seto Mulyadi yang menjadi inspirasi film, serta sutradara Irham Acho Bachtiar, memperkenalkan karya yang lahir bukan semata untuk mengejar layar bioskop, melainkan mengingatkan kembali bahwa Indonesia pernah memiliki tradisi membuat film yang ramah bagi anak-anak.

Momentum peluncuran poster dan trailer sengaja dipilih berdekatan dengan Hari Anak Nasional. Awalnya, kata Herty, mereka berharap film tersebut sudah tayang di bioskop pada momen itu. Namun ketika jadwal belum memungkinkan, mereka memilih memperkenalkan film lebih dahulu kepada publik.

“Yang penting masyarakat tahu bahwa film ini sudah selesai, sudah siap ditonton, dan tinggal menunggu waktu bertemu penontonnya,” ujar saat ditemui di Furst Look film Sahabat Anak.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, Sahabat Anak memiliki warna yang berbeda dibanding film anak yang belakangan muncul.

“Bukan drama musikal, tetapi film yang kaya musik. Musik hadir sebagai bagian dari perjalanan cerita, bukan sekadar selingan. Mudah-mudahan menjadi alternatif tontonan keluarga yang nyaman dinikmati,” katanya.

Namun sesungguhnya yang sedang diperkenalkan bukan hanya sebuah film.
Yang diperkenalkan adalah sebuah keberanian. Keberanian memproduksi film keluarga ketika pasar lebih menjanjikan film horor.

Herty menyadari keputusan tersebut penuh risiko. Saat produser lain berlomba menghitung jumlah setan yang bisa dijual, ia justru sibuk memikirkan bagaimana menghadirkan empat anak dengan persoalan hidup yang berbeda.

Ada anak dari keluarga kaya yang hidup dalam tekanan ambisi orang tua. Ada anak dari keluarga sederhana yang bahkan tidak memperoleh dukungan untuk mengejar cita-citanya. Ada pula anak yang kecanduan gim hingga kehilangan arah.

Mereka dipertemukan oleh Della, tokoh yang ingin membuat sebuah pertunjukan. Dari sanalah tumbuh persahabatan, keberanian, serta pelajaran tentang menerima diri sendiri.

Di sela perjalanan anak-anak itu, penonton diajak menelusuri kilas balik kehidupan Kak Seto Mulyadi—seorang pejuang hak-hak anak yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya bagi dunia anak Indonesia.

Di titik inilah tantangan terbesar muncul.
Bagaimana memadukan kisah biografi dengan drama keluarga tanpa kehilangan ruh keduanya?

“Itulah yang paling sulit. Kalau terlalu banyak biografi Kak Seto, film menjadi terasa seperti dokumenter. Tetapi kalau terlalu fokus kepada anak-anak, benang merah perjuangan Kak Seto bisa hilang,” ungkap Herty.

Berbulan-bulan skenario dibongkar pasang.
Tim kreatif membaca biografi Kak Seto, menyusun ulang alur, menambah karakter anak, lalu mengubahnya kembali agar tetap memiliki daya tarik komersial.

Mereka ingin idealisme tetap hidup, tetapi bioskop juga tetap dipenuhi penonton.
Sebuah pekerjaan yang tidak sederhana.
Keberanian itu sesungguhnya memperlihatkan ironi yang lebih besar.
Indonesia adalah negeri dengan lebih dari 80 juta anak. Namun setiap tahun, jumlah film yang benar-benar dibuat khusus untuk anak dapat dihitung dengan jari.

Padahal pada era 1980-an hingga awal 1990-an, perfilman nasional pernah menghadirkan karya-karya seperti Petualangan Sherina, Denias, Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, hingga berbagai film pendidikan yang membentuk karakter generasi muda.

Kini, layar bioskop lebih sering dipenuhi horor, thriller, dan drama dewasa.
Anak-anak akhirnya menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Ironisnya, kondisi tersebut bertolak belakang dengan amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.
Dalam Pasal 3 ditegaskan bahwa perfilman nasional berfungsi sebagai sarana budaya, pendidikan, hiburan, informasi, pendorong kreativitas, sekaligus pembentuk karakter bangsa.

Negara bahkan berkewajiban menciptakan iklim yang mendorong keberagaman produksi film, termasuk film yang layak dikonsumsi anak. Artinya, kehadiran film anak bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan bagian dari tanggung jawab kebudayaan.

Coba bandingkan dengan Hollywood.
Di sana, film anak bukan dianggap sebagai “genre kecil”. Ia justru menjadi salah satu pilar industri hiburan. Studio seperti Disney, Pixar, DreamWorks Animation, Illumination, hingga Sony Pictures Animation membangun ekosistem yang lengkap.

Sebuah film anak tidak berhenti ketika kredit penutup bergulir. Ia berkembang menjadi serial televisi, permainan digital, buku cerita, taman hiburan, merchandise, hingga materi pendidikan. Karakter-karakter seperti Woody, Elsa, Moana, Shrek, Minions, atau Spider-Verse tumbuh bersama jutaan anak di berbagai negara selama bertahun-tahun.

Di Indonesia, ekosistem semacam itu belum terbentuk secara utuh. Film anak masih harus berjuang mencari jadwal tayang, bersaing dengan genre yang lebih menjanjikan secara komersial, bahkan terkadang dianggap sebagai proyek yang kurang menguntungkan.

Padahal investasi terhadap film anak sejatinya adalah investasi terhadap generasi. Sebab yang dibawa pulang seorang anak dari bioskop bukan hanya tiket. Melainkan imajinasi. Nilai kehidupan.
Dan mimpi.

Karena itu, Sahabat Anak mungkin bukan sekadar film. Ia adalah sebuah pertanyaan yang diam-diam diarahkan kepada industri perfilman nasional. Masihkah kita menyediakan ruang bagi anak-anak untuk menemukan dirinya di layar lebar?
Ataukah bioskop telah berubah menjadi ruang yang hanya diperuntukkan bagi orang dewasa?

Jawabannya kelak bukan hanya ditentukan oleh jumlah penonton. Tetapi juga oleh keberanian para sineas untuk terus membuat film yang percaya bahwa masa depan bangsa tidak dibangun oleh rasa takut terhadap hantu, melainkan oleh keberanian anak-anak untuk bermimpi.

Dan barangkali, di tengah dominasi horor yang menguasai layar bioskop Indonesia hari ini, Sahabat Anak sedang mencoba mengingatkan satu hal sederhana: bahwa tawa, persahabatan, dan harapan anak-anak masih layak mendapatkan panggungnya sendiri.

Keberanian dan keteguhan Herty Purba patut di apresiasi dengan mengajak anak anak menonton filmnya. Sayang keteguhan dan idealismenya cuma didukung skenario  level FTV, yang jauh dari kata baik dan keren. Sayang sungguh sayang…!

Leave A Reply

Your email address will not be published.