Menyusuri Bioskop Rakyat di Rusunawa Pasar Rumput, Jek Cinema, Ruang Baru Sinema yang Dekat dengan Warga

0

 

INVENTIF — Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika kaki melangkah menuju lantai tiga Rusunawa Pasar Rumput, Jakarta Selatan.

Bukan menuju mal mewah, bukan pula kompleks hiburan berkilau. Saya datang untuk melihat sesuatu yang nyaris lama hilang dari ingatan Jakarta: bioskop yang benar-benar dekat dengan rakyat.

Namanya Jaksinema. Bioskop mini yang baru diresmikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno (Bang Dul), sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan Jakarta sebagai Kota Sinema sekaligus menghadirkan layar lebar ke tengah permukiman warga. Kapasitasnya memang hanya 43 kursi, tetapi gagasan yang dibawanya terasa jauh lebih besar.

Perjalanan menuju Jaksinema cukup unik. Dari halaman Rusunawa, pengunjung melewati area pasar, lalu naik lift ke lantai tiga. Di depan berdiri JakMart, dan di sudut ruangan itulah Jaksinema menyambut siapa saja yang ingin menikmati film Indonesia.

Hal pertama yang ditemui adalah mesin pembelian tiket. Tidak ada loket tunai. Semua transaksi menggunakan QRIS. Praktis, sederhana, dan sesuai wajah Jakarta yang semakin digital.

Bioskop ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB, dengan enam kali pemutaran hingga pukul 20.00 WIB. Menariknya, setiap sesi menayangkan film Indonesia yang berbeda, sehingga dalam sehari ada enam judul yang bergantian hadir di layar.

Namun daya tarik terbesar Jaksinema justru ada pada harga tiketnya: Rp15.000 untuk hari kerja dan Rp20.000 saat akhir pekan. Angka yang terasa seperti membawa kita kembali ke masa ketika menonton film bukan kemewahan, melainkan hiburan keluarga yang bisa dinikmati siapa saja.

Saat saya datang, antrean sudah dipenuhi ibu-ibu, anak-anak, remaja, hingga para lansia. Wajah-wajah mereka memancarkan antusiasme yang sama: ingin menonton film tanpa harus pergi jauh ke pusat perbelanjaan, tanpa ongkos parkir, tanpa bensin, tanpa tiket yang menguras dompet.

Jaksinema seakan membangunkan kenangan lama tentang masa keemasan bioskop Indonesia. Pada era 1960 hingga 1980-an, bioskop tumbuh subur di hampir setiap kota dan kecamatan.

Saat itu, Jakarta memiliki jaringan bioskop rakyat seperti Guntur, Riang, Gembira, Wira, Viva Rivoli, Grand, New Garden, Nirwana, Globe, Orion Rex, Capitol, Astoria, Setiabudi dan puluhan bioskop kelas menengah lainnya.

Yang kelas agak atas mungkin bisa disebut Presiden, Djakarta Theater, Menteng, Garden Hall, Metropole. Di provin si lain, hampir setiap daerah memiliki gedung bioskop yang menjadi pusat hiburan masyarakat, seperti, Permata,Yoyakarta, Ura Patria, Solo, Raya, Padang,  Regent Bandung, Mitra,Surabaya, Presiden, Medan, Arini, Makasar, Gelora, Balikpapan dan sebagainya.

Saat itu, menonton film adalah budaya. Warga berjalan kaki atau naik sepeda menuju bioskop terdekat. Film Indonesia hidup berdampingan dengan film asing tanpa dominasi segelintir jaringan bioskop besar.

Memasuki dekade 1990-an hingga 2000-an, banyak bioskop daerah tutup. Layar-layar kecil menghilang, tergantikan pusat perbelanjaan dan jaringan bioskop modern yang perlahan menguasai pasar. Akses menonton film menjadi semakin terpusat, sementara banyak daerah kehilangan ruang pemutarannya.

Di tengah situasi itulah Jaksinema terasa seperti angin segar. Ia bukan sekadar studio mini, melainkan upaya mengembalikan semangat bioskop rakyat yang pernah berjaya.

Bukan Sekadar Bioskop, Tetapi Ekosistem Film

Sebagai orang film, saya melihat program ini lebih jauh daripada sekadar tempat hiburan. Jika setiap Rusunawa di Jakarta memiliki Jaksinema, bayangkan berapa banyak layar yang setiap hari memutar film Indonesia. Berapa banyak karya sineas kita mendapat ruang, dan berapa banyak pekerja film—dari penulis, sutradara, aktor, editor, hingga kru—ikut merasakan dampaknya.

Bang Dul sendiri berharap konsep Jaksinema dapat hadir di seluruh rumah susun di Jakarta sebagai ruang hiburan sekaligus ruang tumbuh kreativitas warga.

Saya bahkan bermimpi lebih besar. Mengapa berhenti di Rusunawa? Seandainya setiap kelurahan memiliki bioskop rakyat, Jakarta akan menjadi kota dengan ratusan layar yang hidup bersama masyarakat. Dan bila konsep ini ditiru provinsi lain, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia bisa kembali menjadi negeri dengan jaringan bioskop rakyat terluas.

Jaksinema mengingatkan kita pada satu hal sederhana: film Indonesia akan semakin kuat jika semakin dekat dengan penontonnya. Dan mungkin, kebangkitan industri film nasional tidak selalu dimulai dari gedung bioskop yang megah, melainkan dari sebuah ruang kecil di lantai tiga Rusunawa Pasar Rumput, tempat rakyat kembali bertemu layar lebar dengan harga yang ramah di kantong.

Sekitar 21.30 film usai. Saya bersama para lansia dan remaja meninggalkan bioskop. Celoteh berkesinambungan mengenai film yang di tonton berseliweran, bersiponggeng dengan tawa renyah mereka. Pulang dengan riang gembira.

Dan yang harus diingatkan untuk Jaksinema adalah, batas usia untuk menonton film tertentu wajib diterapkan. Khusus untuk hari Sabtu dan Minggu harus ada film anak. Akan lebih baik lagi kalau tiap Senin ada pemutaran film klasik atau jadul, semisal garapan Usmar Ismail, Teguh Karya, Sjuman Djaja, Nya Abbas Akup, dkk. (NM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.